Dulu ziarah prostitusi, kini ziarah inspirasi. Slogan itu digaungkan di kawasan eks lokalisasi Jarak, Dolly. Melalui media sosial (medsos) beberapa paket tur wisata dipromosikan. Pengunjung tidak hanya tahu sejarah Dolly. Tapi, juga merasakan suasana eks wisma, bekas tempat esek-esek.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya
CERITA 10 tahun lalu itu masih dikenang Jarwo Susanto. Salah satunya, suara musik dari wisma yang tidak pernah berhenti. Apalagi pada malam hari. Perempuan seksi yang dipajang di sofa dan bisa dilihat dari balik kaca bening sudah menjadi pemandangan lumrah. Tak sedikit mbak-mbak cantik itu yang menggoda siapa saja yang berjalan.
Kenangan sisa kejayaan Dolly itulah yang kini diceritakan Jarwo kepada setiap pengunjung trip. Termasuk bagaimana suasana di lokalisasi dulu yang disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara itu.
Kini beberapa bangunan memang sudah banyak berubah. Misalnya, salah satu wisma milik Advenso Dollyres Chavit. Dia adalah perempuan keturunan Belanda yang babat alas mendirikan tempat prostitusi di sana. Nama Dolly tercetus dari dirinya.
Saat ini Wisma Tante Dolly sudah berubah menjadi pasar burung dan batu akik. Cerita itu menjadi bagian sejarah yang disampaikan Jarwo kepada pengunjung.
Agar bisa merasakan suasana, wisatawan juga diajak ke eks Wisma Barbara. Kini bangunan itu sudah dibeli pemkot, lantas dipugar.
Bangunan enam lantai itu menjadi symbol kejayaan Dolly. Bagaimana tidak, tempat tersebut tidak hanya untuk menjajakan PSK tetapi juga dibuat bar untuk minum.
Tepatnya di lantai paling atas. Jadi, lantai dasar dibuat layaknya akuarium perempuan. Sementara itu, lantai 2–5 berisi kamar.
Pada zamannya, Wisma Barbara sangat terkenal. Untuk menuju ke atas, pengunjung bisa naik lift.Sekarang sudah direnovasi pemkot. Namun, bagian atas bekas kelab tersebut masih dibiarkan. Pengunjung tetap bisa merasakan suasana Wisma Barbara waktu itu.
Di eks wisma lainnya, ranjang beralas beton masih seperti aslinya. Tidak banyak yang tahu bahwa ranjang dari beton tersebut adalah tempat PSK melayani tamunya. ’’Mayoritas kamar wisma di Dolly beralas beton,’’ kata Jarwo kepada pengunjung.
Jarwo adalah ketua Pokdarwis Putat Jaya Jarak Dolly. Dia bertugas memandu pengunjung yang berwisata di Dolly. Ada tiga paket yang ditawarkan Pokdarwis Putat Jaya. Harganya mulai Rp 20 ribu, Rp 60 ribu, hingga Rp 165 ribu. ”Paket lengkap bisa mencicipi kuliner UMKM Dolly,’’ ucapnya.
Harga paket trip menyesuaikan dengan fasilitasnya. Jarwo menjelaskan, untuk yang Rp 20 ribu, pengunjung diajak keliling di kawasan Dolly dan Jarak. Mereka mendapat cerita sekilas tentang sejarah Dolly. Kalau Rp 65 ribu, wisatawan tidak hanya berkeliling dan mendapat cerita. Mereka juga bisa masuk ke eks wisma yang kini dimanfaatkan sebagai tempat UMKM.
Selain sejarah Dolly, pengunjung juga tahu asal mula berdirinya UMKM di Dolly itu. Untuk paket lengkap seharga Rp 165 ribu, pengunjung bisa trip di Dolly hingga lebih dari tiga jam. Sebab, mereka juga mendapat tambahan workshop di UMKM batik dan tempe Dolly.
Saat pulang, mereka mendapat suvenir dari tempat UMKM. Misalnya, dapat kain, canting untuk membatik, hingga tempe Dolly. Bahkan, pengunjung bisa memilih kuliner di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Dolly secara gratis. ”Mereka juga dapat diskon 20 persen di toko oleh-oleh,’’ kata Jarwo
Setiap pengunjung juga diajak ke Dolly Saiki (DS) Point. Di sana, mereka bisa belanja oleh-oleh untuk dibawa pulang. Pokdarwis Putat Jaya Jarak Dolly menggandeng lima UMKM. Yakni, tempe Bang Jarwo, sandal dan sepatu Dolly, kain batik, keripik, dan pedagang SWK.
Tur wisata Dolly sudah ada sejak 2014. Hanya, sempat mandek dan aktif kembali pada dua tahun terakhir. Bedanya, dulu masih dilakukan ala kadarnya. Guide-nya pun belum seperti sekarang. Pada 2020, Pokdarwis Putat Jaya Jarak Dolly dibentuk. Di dalamnya ada 9 orang. Empat orang di antaranya sebagai guide, sisanya pelaku UMKM.
Membentuk Pokdarwis Putat Jaya Jarak Dolly bukan hal yang mudah. Tidak adanya kesepahaman antarwarga membuat konsep wisata Dolly kadang terhambat. Jarwo mengatakan, pasca-penutupan Dolly, dulu ada kampung tematik. Namun beberapa sudah tidak jalan dan kini harus digiatkan lagi.
Padahal, lanjut dia, Dolly memiliki potensi besar menjadi wisata. Semua orang pasti pernah mendengar nama Dolly. Tapi, yang diketahui hanya soal prostitusi. Padahal, sekarang sudah ditutup. Karena itu, promosi lewat medsos digencarkan. Termasuk meminta bantuan ke pemkot.
Anggota Pokdarwis Putat Jaya Jarak Dolly lainnya, Rr. Dwi Prihatin Yuliastuti Soetanto, menuturkan bahwa tantangannya sekarang pada SDM yang belum mumpuni. Misalnya, kendala bahasa asing. ’’Dulu sempat ada pelatihan bahasa Inggris,’’ ucapnya.
Selain itu, sinkronisasi antartempat jujukan belum tertata baik. Dwi berharap, akhir tahun ini penataan wisata di Dolly oleh pemkot bisa rampung. Dengan demikian, ada koneksi antartujuan. Terlebih, konsep wisata religi juga digagas. Mengingat ada makam ulama besar. Yakni, Mbah Kapiludin, seorang penyebar agama Islam yang masih ada hubungan dengan Sunan Ampel.(jp) Editor : Misbahul Munir S