Mirza Ahmad Muin, Pontianak
RUANG Pendopo Wali Kota Pontianak, Rabu pagi diisi ramai masyarakat. Mereka terdiri dari para calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui dan ibu yang sudah memiliki anak balita. Kedatangan mereka ke sana untuk menghadiri kegiatan Hari Gizi Nasional, sekaligus talkshow kesehatan cegah stunting dengan gaung "Isi piringku ini kaya protein hewani".
Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kalimantan Barat Didik Haryadi menuturkan, peringatan hari gizi nasional menjadi momentum dalam rangka penurunan stunting di Kalbar. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 sudah dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Kalbar turun dua persen dari 29,8 persen menjadi 27,8 persen.
Apa yang diraih ini merupakan kerja keras dari semua pihak dan dipandangnya sudah maksimal. Sebab dari data yang ia lihat dalam penanganan stunting dibeberapa negara, kurun waktu setahun paling mampu menurunkan stunting dua sampai tiga persen. "Dalam penurunan stunting, menurut saya Kalbar sudah melakukan hal yang luar biasa," ujarnya.
Pihaknya berharap, target 17 persen angka stunting yang ditargetkan Provinsi Kalbar bisa tercapai pada 2024. Ia melanjutkan DPD Persagi Kalbar sudah menyampaikan langkah dan cara buat menurunkan stunting. Kata dia, ada dua sasaran fokusnya, yaitu ibu hamil, calon pengantin, dan anak jangan sampai lahir di bawah 2,5 kilogram. Kemudian temuan stunting meningkat ketika anak memasuki umur satu tahun ke atas.
"Makanya kita harus fokus di sini," ujarnya.
Intervensi tidak langsung juga dilakukan. Yaitu dengan cara memberikan edukasi dan pemahaman tentang pencegahan stunting, dengan mengkonsumsi protein hewani. Ini sudah dilakukan oleh pengurus Persagi di Kabupaten dan Kota di Kalbar. Apalagi untuk sumber protein, wilayah Kalbar kaya. Utamanya untuk jenis ikan dan ayam.
Ketua TP PKK Pontianak, Yanieta Arbieastuti menuturkan, tim PKK juga ikut membantu Pemkot Pontianak dalam percepatan penurunan stunting. Dalam upaya pencegahan malah dilakukan dari hulu. Sasarannya pemberian edukasi kepada pasangan calon pengantin, ibu hamil dan ibu yang memiliki baduta dan balita.
PKK juga memberi makanan tambahan pada anak, mulai usia enam sampai dua puluh tiga bulan. Data anak-anak ini didapat dari Dinkes Pontianak dan dilakukan di enam kecamatan.
“Mudah-mudahan apa yang dilakukan ini dapat membantu pemerintah dalam menurunkan angka stunting khususnya di Pontianak,” katanya.
Salah satu pasangan pengantin Rizki sudah mengetahui informasi tentang stunting. Kata dia, stunting merupakan penyakit anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang dan otak.
"Itu yang saya ketahui. Tetapi tidak detail," ujarnya.
Berkat kegiatan ini, iapun lebih memahami tentang bahaya stunting. Dengan lebih memahami stunting, pastinya deteksi pencegahan stunting bisa dilakukan dia bersama calon istri sejak dini. (*) Editor : Syahriani Siregar