Memperingati KTT Perdamaian Dunia HWPL ke-10 yang jatuh pada tanggal 18 September, keluarga perdamaian HWPL melakukan pertemuan online. Pertemuan ini diikuti oleh segenap masyarakat yang mencitai perdamaian.
Kegiatan dilakukan pada Sabtu, 28 September 2024 dengan topik KTT Perdamaian Dunia HWPL 18 September ke-10. Hasil diskusi dalam pertemuan ini para peserta menyambut positif dan mendukung forum atau pertemuan seperti ini untuk diadakan secara rutin.
Wawan salah satu peserta menyampaikan dunia saat ini tidak dalam baik-baik saja, seperti Rusia-Ukraina, Timur Tengah. Timur Tengah sekarang makin melebar kasusnya dengan melibatkan negara-negara tetangga seperti Lebanon, Iran dan Irak.
“HWPL diharapkan bisa ikut sumbangsih agar konflik ini diakhiri segera berakhir dengan gencatan senjata (kalau bisa) sebelum akhir tahun. Jika bisa, maka HWPL bisa dirasakan langsung dampaknya di seluruh dunia,” kata wawan.
Peserta lainnya Abdullah menyampaikan gagasannya bahwa ketika seseorang mengenal satu sama lain, maka timbul cinta. Ketika itu dipraktekkan di dalam masyarakat, maka timbullah cinta perdamaian.
“Kita perlu mengembangkan bukan hanya di bidang akademisi, pimpinan-pimpinan akademisi pun harus bertemu untuk membahas moderasi beragama dan membuat mata kuliah yang berkaitan cinta damai dan perdamaian,” jelas Abdullah.
Dari meeting zoom ini, lanjutnya, cinta damai bukan hanya dikembangkan dari pimpinan agama, namun juga dari bidang-bidang lain seperti pimpinan organisasi, untuk mereka bisa mengembangkan perdamaian di dalam kancah internasional.
Sedangkan Dwi Kartika menilai paling efektif dalam mengaplikasi nilai perdamaian adalah dimulai dari diri sendiri sebagai agen perdamaian. “Sebagai contoh, guru dapat mengimplementasikan pendidikan perdamaian di dalam kelas-kelas. Terlalu banyak teori namun tidak ada praktek tidak akan efektif,” ujarnya.
Nilai karakter juga perlu diterapkan di dalam kurikulum pembelajaran. Hal-hal yang dapat menumbuhkan kebhinekaan global adalah dengan praktek, contoh: dalam toleransi di dalam pergaulan.
Senada dengan Dwi Kartika, Gustia mengusulkan untuk mengaplikasikan dan memperkenalkan Pendidikan Perdamaian di dalam kampus, memperkenalkan HWPL kepada mahasiswa.
Sedangkan Tuti menyoroti soal media. “Peran media menyoroti dan mempublikasikan aksi-aksi perdamaian untuk mengajak banyak orang untuk berpartisipasi di dalam acara perdamaian,” jelasnya.
Pendidikan perdamaian menyoroti nilai-nilai toleransi, keberagaman, penyelesaian konflik tanpa kekerasan dan perlu intens kegiatan-kegiatan dialog antar beragama. Memperkuat narasi penyelesaian konflik melalui non-kekerasan dan kekuatan militer.
“Perlindungan hak asasi manusia dan isu lingkungan akan terus digaungkan kepada public,” tegas Tuti. Keteladanan dan kepemimpinan sangat penting melalui organisasi yang berhasil melakukan kegiatan perdamaian. Keterlibatan dalam generasi muda dalam upaya penciptaan perdamaian dalam lokal dan global.**
Editor : Salman Busrah