Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Fokus Stabilitas Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

A'an • Selasa, 24 Desember 2024 | 15:51 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (ketiga kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (ketiga kanan), para Deputi Gubernur Doni P Joewono (kedua kiri), Juda Agung (kedua kanan), Aida S Budiman (kiri), dan Filianingsih Hendarta (kanan
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (ketiga kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (ketiga kanan), para Deputi Gubernur Doni P Joewono (kedua kiri), Juda Agung (kedua kanan), Aida S Budiman (kiri), dan Filianingsih Hendarta (kanan

 

JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17–18 Desember 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Keputusan ini mencerminkan komitmen Bank Indonesia untuk memastikan inflasi terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025, sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Kami terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang meningkat, terutama akibat dinamika kebijakan di Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, dalam konferensi pers pasca-RDG, Kamis (18/12).

Fokus kebijakan Bank Indonesia diarahkan pada penguatan stabilitas nilai tukar dan mendorong pemanfaatan ruang penurunan suku bunga kebijakan jika diperlukan. Kebijakan makroprudensial yang longgar tetap dipertahankan untuk mendorong kredit dan pembiayaan, terutama ke sektor-sektor prioritas seperti UMKM dan ekonomi hijau.

"Kami memperkuat strategi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang akan berlaku mulai Januari 2025, agar sektor-sektor strategis dapat terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi perekonomian," tambah Perry Warjiyo.

Di bidang sistem pembayaran, menurutnya Bank Indonesia terus mendorong digitalisasi. Mulai 21 Desember 2024, layanan BI-FAST akan mencakup transfer kolektif, pembayaran atas dasar permintaan dan transfer debit langsung.

Perry mengatakan, digitalisasi adalah kunci untuk mendukung ekosistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman dan andal, terutama bagi sektor perdagangan dan UMKM.

Kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada November 2024 tetap tumbuh didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Dari sisi nilai besar, transaksi BI-RTGS pada November 2024 meningkat 9,82% (yoy) dengan nominal transaksi sebesar Rp14.969,37 triliun.

Dari sisi ritel, volume transaksi BI-FAST pada November 2024 tumbuh 69,90% (yoy) mencapai 338,61 juta transaksi. Akselerasi pembayaran digital berlanjut. Volume transaksi digital banking pada bulan yang sama tercatat 2,04 miliar transaksi atau tumbuh sebesar 40,1% (yoy), sementara volume transaksi Uang Elektronik (UE) tumbuh 33,4% (yoy) mencapai 1,44 miliar transaksi.

Adapun volume transaksi QRIS terus tumbuh pesat sebesar 186% (yoy) mencapai 689,07 juta transaksi, dengan jumlah pengguna dan merchant masing-masing mencapai 55,02 juta dan 35,1 juta pada November 2024.

Sementara itu, volume transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM/D pada November 2024 turun 10,9% menjadi 562,75 juta transaksi. Volume transaksi kartu kredit pada bulan yang sama tumbuh 21,1% (yoy) mencapai 41,15 juta transaksi. Dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 11,9% (yoy) menjadi Rp1.105,8 triliun secara nominal pada akhir November 2024.

Strategi moneter pro-market juga diperkuat melalui optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Hal ini dilakukan untuk menarik aliran modal asing serta memperdalam pasar uang dan valuta asing. "Kami memastikan semua instrumen moneter dapat mendukung stabilitas nilai tukar dan memperkuat daya tarik aset keuangan domestik bagi investor global," ujar Perry.

Bank Indonesia juga mengoptimalkan koordinasi dengan pemerintah melalui berbagai program strategis seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan sinergi bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ketahanan sistem keuangan terus dijaga, dengan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan yang kuat dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap rendah.

Dalam lingkup internasional, kerja sama di bidang kebanksentralan diperkuat untuk mendorong konektivitas sistem pembayaran lintas negara serta menarik investasi.

"Kami akan terus memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan integrasi ekonomi melalui berbagai inisiatif internasional yang strategis," tegas Perry.

Meskipun ketidakpastian global meningkat akibat kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang ekspansif, tingginya inflasi global dan eskalasi geopolitik, perekonomian domestik Indonesia dinilai tetap solid. Perry optimistis pertumbuhan ekonomi pada 2024 akan berada di kisaran 4,7–5,5%, dan meningkat menjadi 4,8–5,6% pada 2025.

"Bank Indonesia berkomitmen untuk mengawal perekonomian Indonesia melalui bauran kebijakan yang komprehensif. Kami optimistis bahwa upaya ini akan terus mendukung stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan," katanya.

Selain itu, BI juga melakukan penguatan strategi menjaga ketersediaan dan kelancaran sistem pembayaran di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024. Termasuk melalui penyelenggaraan Semarak Rupiah di Hari Natal Penuh Damai (SERUNAI) pada 15-20 Desember 2024. (ars/ser)

Editor : A'an
#bank indonesia #suku bunga acuan