Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

600 Jiwa Mengungsi, BNPB Fokuskan Evakuasi dan OMC untuk Mitigasi Banjir Jabodetabek

A'an • Kamis, 6 Maret 2025 | 09:14 WIB
DAMPAK BANJIR: Suasana pasca banjir di Perumahan Pondok Gede Permai, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/3).
DAMPAK BANJIR: Suasana pasca banjir di Perumahan Pondok Gede Permai, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/3).

 

PONTIANAK POST – Penanganan banjir di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) terus dilakukan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr Suharyanto meninjau lokasi pengungsian di Gudang Logistik BNPB, Jalan Pondok Gede Permai, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3) malam.

Dia ditemani Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Mereka memastikan akan terus mendorong dan mendampingi upaya penanganan darurat banjir yang melanda wilayah Jabodetabek, khususnya di Kota Bekasi. ”Alhamdulillah, karena kerja sama semua pihak dan Bapak Menteri Sosial turun ke lapangan, mudah-mudahan semua masalah terkait banjir bisa segera diselesaikan,’’ katanya.

Hingga Selasa (4/3) malam, terdapat 297 kepala keluarga (KK) yang terdiri atas 600 jiwa mengungsi di pos pengungsian Gudang Logistik BNPB. Kepala BNPB juga menyampaikan, prioritas utama saat ini adalah evakuasi warga yang masih terjebak banjir. ”Warga masih mengungsi di sini, memang yang masih agak tinggi di Kota Bekasi. Kita sudah terjunkan tim evakuasi,” lanjut Suharyanto. Pemerintah juga melakukan operasi modifikasi cuaca atau OMC hingga hari ini (6/3) guna menekan curah hujan.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menuturkan, wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Pancoran Mas, Limo, Sukmajaya, Cilodong, Beji, Cimanggis, Cipayung, dan Sawangan. Hingga Selasa (4/3) siang, sebagian besar wilayah telah mengalami penurunan genangan air. ”Kecuali Kecamatan Pancoran Mas dan Kelurahan Pasir Putih yang masih tergenang dengan tinggi muka air (TMA) berkisar 30–40 cm,” jelasnya.

Hasil pendataan, sebanyak 603 kepala keluarga terdampak banjir. Selain itu, banjir mengakibatkan kerusakan 86 rumah, satu fasilitas pendidikan, satu fasilitas ibadah, serta satu titik jaringan pipa gas. ”Tim Damkar Kota Depok bersama instansi terkait terus melakukan pendataan dan evakuasi bagi warga terdampak,” terangnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memprediksi curah hujan masih tinggi sampai 11 Maret 2025. BMKG sudah berkoordinasi dengan BNPB dan pemerintah terkait modifikasi cuaca. Pihaknya akan merekayasa awan-awan agar jatuh ke laut, waduk, atau kawasan yang lebih aman.

”Kita lihat dari satelit, luasnya awan itu hampir seluas Provinsi Jawa Barat,” ujarnya. Rekayasa cuaca akan digulirkan sampai 8 Maret untuk kemudian dievaluasi.

Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti menambahkan, sejumlah infrastruktur yang terdampak banjir akan dinormalisasi pascasurut. Dari pantauannya, banyak infrastruktur yang rusak akibat banjir, khususnya jembatan.

Tidak hanya di Jawa Barat, melainkan juga di beberapa kawasan di Sumatera. ”Jalur mudik Lebaran kita sedang pantau semua, baik jalur nasional maupun tol,” ujarnya.

Untuk banjir kawasan Bekasi, Diana memastikan tidak ada tanggul yang jebol. Banjir terjadi akibat intensitas hujan tinggi yang berdampak pada volume air hingga meluap. ”Makanya kalau saya harus pompa, airnya mau ditaruh di mana. Kita tunggu surut dulu,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bersama Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono turun langsung ke lokasi banjir di Kelurahan Jatiasih Selasa (4/3) malam guna memastikan bantuan sudah tersalurkan. Dalam kesempatan tersebut, keduanya bahkan ikut menyiapkan santapan sahur bagi para korban banjir di dapur umum kantor kelurahan.

Dapur umum di Jatiasih melayani 1.500 bungkus makanan untuk sahur dan berbuka. Makanan tersebut disalurkan ke tiga posko pengungsian. Yang terbesar berada di Gudang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menampung sekitar 500 pengungsi.

”Khusus di Bekasi, ada sekitar 1.600 kepala keluarga (KK) terdampak dengan 11.000 jiwa. Alhamdulillah, bisa didukung keperluan dasarnya. Ada yang kita dukung (melalui) makanan siap saji, ada juga lewat dapur umum,” ujarnya.

Kemensos telah menyalurkan bantuan senilai Rp 561 juta. Bantuan tersebut mencakup 3.500 paket makanan siap saji, 500 lembar selimut, 400 lembar kasur, 100 kidware, serta 50 paket tenda gulung. Lalu, ada juga 3 unit perahu karet.

Sementara itu, Wapres Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi banjir Bekasi kemarin (5/3). Lokasi yang ditinjau putra sulung Joko Widodo itu adalah Perum Pondok Gede Permai (PGP) di Jatiasih dan Kantor Logistik dan Peralatan BNPB di Kota Bekasi. Peninjauan itu adalah tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di istana kepresidenan sehari sebelumnya (4/3).

Gibran mengunjungi sekaligus menanyakan kondisi pengungsi. Gibran menekankan, selain evakuasi warga, prioritas utama adalah distribusi logistik, obat-obatan, dan pengoperasian dapur umum. Gibran mengatakan, bencana banjir kali ini terjadi bertepatan dengan Ramadan. Dia menekankan, kebutuhan makanan dan layanan kesehatan bagi pengungsi harus benar-benar diperhatikan.

Mulai Surut

Pantauan Radar Bekasi, banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Bekasi mulai surut kemarin (5/3). Genangan air yang sebelumnya merendam Mega Bekasi Hypermall (MBH) dan fasilitas publik lainnya kini berangsur mengering.

Ketinggian air yang masih menggenangi MBH saat ini sekitar 1 meter, turun dari sebelumnya yang mencapai 2 meter pada Selasa (4/3). Kondisi ini dimanfaatkan para pedagang yang secara bergantian memasuki pusat perbelanjaan untuk menyelamatkan barang dagangan dan barang berharga lainnya.

Sementara itu, di area parkir MBH, sejumlah kendaraan yang sebelumnya terendam banjir mulai terlihat. Di sisi kiri area parkir, setidaknya tujuh mobil dan empat motor masih terendam air.

Kapolsek Bekasi Selatan Kompol Dedi Herdiana menyatakan bahwa proses penyedotan air masih berlangsung untuk mempercepat surutnya genangan. ”Masih ada genangan. Saat ini sedang dilakukan penyedotan menggunakan pompa air. Selain itu, para pedagang juga mulai menyortir barang-barang yang masih bisa dijual kembali,” ungkapnya.

Sementara itu, kondisi berbeda tampak di wilayah utara Kabupaten Bekasi seperti Tambun Utara hingga Babelan. Berdasar data BPBD Kabupaten Bekasi, hingga kemarin (5/3) sebanyak 61.648 warga terdampak banjir. Bahkan, 48.207 di antaranya terpaksa mengungsi karena banjir belum kunjung surut sejak Selasa (4/3).

Banjir dilaporkan meluas hingga menggenangi 51 desa/kelurahan di 16 kecamatan. Jumlah ini meningkat dibandingkan Selasa (4/3) yang baru berjumlah 12 kecamatan. Salah satu lokasi paling parah terjadi di Kecamatan Tambun Utara. Banjir setinggi 1 meter merendam ribuan rumah warga serta memutus akses jalan. Terdapat 40.000 warga yang mengungsi di Tambun Utara, tepatnya di Desa Sriamur. Luapan Kali Bekasi membuat banjir tidak terhindarkan di wilayah ini. Bahkan, pihak kepolisian sempat membuka akses tol Cibitung–Cilincing untuk dilalui sepeda motor karena terdapat kepadatan lalu lintas pada pagi hari ketika jam berangkat bekerja di Jalan Raya Gabus.  (ris/rez/cr1/ idr/far/mia/dee/wan/c19/oni)

Editor : A'an
#bencana alam #jabodetabek #banjir