PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) makin tertekan. Merujuk Bloomberg Market Spot Rate, Rupiah berada di level Rp 16.821,5 per USD pada pukul 15.22 WIB kemarin. Karena itu, Bank Indonesia (BI) memutuskan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas di pasar.
Keputusan untuk melakukan intervensi itu disepakati dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin. Intervensi dilakukan di pasar off-shore atau non deliverable forward (NDF).
Kebijakan tarif resiprokal pemerintah AS pada Rabu (2/4) lalu dan respons retaliasi dari Tiongkok dua hari setelahnya menimbulkan gejolak pasar keuangan global. Termasuk arus modal keluar dan tingginya tekanan pelemahan nilai tukar di banyak negara, khususnya emerging market.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah telah terjadi di pasar off-shore di tengah libur panjang pasar domestik," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.
Intervensi NDF, lanjut dia, dilakukan secara berkesinambungan di pasar Asia, Eropa, dan New York. BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan hari ini (8/4). Caranya dengan intervensi di pasar valas pada transaksi spot maupun domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Bank sentral juga akan melakukan optimalisasi instrumen likuiditas rupiah. Tujuannya untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dalam negeri. "Serangkaian langkah Bank Indonesia ditujukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia," ujar Denny.
Namun, menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, intervensi di pasar off-shore atau NDF tidak akan efektif menstabilkan nilai tukar Rupiah. Sebab, pasar NDF dipenuhi oleh trader spekulan sehingga tidak mencerminkan pergerakan riil nilai tukar rupiah. "Karena off-shore di luar jurisdiksi regulasi BI. Ibarat menggarami air laut saja," ujar Bhima.
Seharusnya, lanjut Bhima, bank sentral menyiapkan amunisi cadangan devisa (cadev) untuk mengintervensi nilai tukar rupiah. Fokus ke pasar yang berada dalam jurisdiksi BI. Untuk mencegah rupiah melemah lebih jauh dan menembus level Rp 17.500 per USD, estimasinya memerlukan cadangan devisa sekitar USD 20 miliar. "Fokus di situ dulu sambil mencermati pergerakan pasar pasca pembukaan bursa efek," ujar lulusan University of Bradford itu.
Pasar Saham Global Anjlok
Pasar saham global mengalami penurunan tajam kemarin (7/4). Bursa Asia memimpin kerugian besar setelah Tiongkok membalas kebijakan tarif Trump.
Indeks Hang Seng di Hong Kong anjlok lebih dari 13 persen. Penurunan ini tercatat sebagai yang terbesar sejak krisis keuangan Asia pada 1997. Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga turun hingga 7,8 persen. Hal ini menambah kekhawatiran investor di seluruh dunia.
Aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh pengumuman Tiongkok pada Jumat lalu yang akan mengenakan tarif balasan sebesar 34 persen pada barang-barang dari Amerika mulai 10 April. Langkah ini semakin memperburuk ketegangan dalam perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.
Wakil Menteri Perdagangan China, Ling Ji, menyatakan bahwa tarif yang dikenakan Beijing bertujuan membawa Amerika Serikat kembali ke jalur yang benar dalam sistem perdagangan multilateral. "Akar penyebab masalah tarif terletak di Amerika Serikat," kata Ling kepada perwakilan perusahaan Amerika Serikat seperti dilansir dari AFP.
Bursa saham Eropa juga mengalami tekanan, dengan indeks DAX Frankfurt merosot lebih dari 10 persen. Sementara itu, bursa Paris dan London masing-masing turun lebih dari 5 persen. Harga minyak juga anjlok hingga di bawah USD 60 per barel.
Kerugian besar juga terjadi di bursa Asia Tenggara. Singapura, Seoul, dan Shanghai mengalami penurunan signifikan. Sektor teknologi pun terkena dampak besar. Raksasa e-commerce dari Tiongkok, Alibaba, sahamnya turun 18 persen. Lalu SoftBank serta Sony masing-masing merosot lebih dari 10 persen.
Ekonom memproyeksikan bahwa kebijakan tarif ini dapat memicu resesi di AS. Dampaknya tentu saja akan merembet ke Tiongkok. “Jika terjadi resesi di AS, tentu saja Tiongkok juga akan merasakannya karena permintaan terhadap barang-barangnya akan terpukul lebih keras,” kata Kepala Ekonom Asia Pasifik Moody's Analytics Steve Cochrane.
Banyak pihak memperkirakan bahwa konsumen AS akan merasakan dampak langsung. Namun, Washington menampik hal itu. "Saya tidak berpikir akan ada dampak besar pada konsumen di AS," kata Kepala Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett.
Dengan proyeksi resesi yang semakin nyata, perhatian kini beralih pada langkah selanjutnya yang akan diambil oleh The Federal Reserve. Banyak yang memperkirakan bahwa bank sentral AS akan segera menurunkan suku bunga untuk meredakan ketegangan ekonomi. (han/lyn/oni)
Editor : Hanif