Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Drama Ekonomi: Trump Tunda Penerapan Tarif, Pasar Saham Melonjak Sementara Tiongkok Terjebak di Kenaikan Tarif 125%!

Hanif PP • Jumat, 11 April 2025 | 09:35 WIB

 

Donald Trump
Donald Trump

WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump menunda penerapan kebijakan tarif resiprokal. Penundaan itu berlaku selama 90 hari dan ditujukan untuk puluhan negara yang menjadi mitra dagang AS. Trump menjelaskan, kebijakan itu diambil karena negara-negara yang terdampak menjadi gelisah dan takut.

’’Kami memutuskan mengambil tindakan dan kami melakukannya hari ini,’’ ujar Trump, dilansir dari CBS. Selain itu, penundaan dilakukan karena banyak negara memiliki niat baik untuk berunding dengan AS. Meski begitu, kebijakan tersebut tidak berlaku untuk Tiongkok. Beijing justru dikenakan kenaikan tarif impor dari 104 persen menjadi 125 persen.  Trump punya alasan sendiri mengenai kebijakan itu.

“Karena kurangnya rasa hormat Tiongkok pada pasar dunia, dengan ini saya menaikkan tarif untuk Tiongkok menjadi 125 persen, berlaku segera,’’ kata Trump via Instagram. ’’Suatu saat, mudah-mudahan dalam waktu dekat, Tiongkok akan menyadari bahwa hari-hari menipu AS dan negara-negara lain, tidak dapat diterima,’’ imbuhnya.

Penundaan tarif resiprokal itu direspons positif oleh bursa global. Indeks S&P 500 melonjak 9,5 persen. Lonjakan itu terbesar dalam satu hari sejak 2008. Pergerakan terbaru itu mengakhiri minggu penuh gejolak yang dimulai ketika Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan kenaikan tarif impor.

Keputusan Trump menunda tarif resiprokal berimbas juga pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga penutupan perdagangan kemarin, IHSG naik 4,79 persen atau 286,04 poin ke level 6.254,024.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, pasar merespons positif pengumuman Trump tersebut. Apalagi, Trump juga membuka ruang negosiasi ulang dengan negara-negara mitranya, termasuk Tiongkok. "Karena penangguhan tarif sementara meredakan kekhawatiran akan eskalasi langsung dalam perang dagang global," ucapnya.

Baca Juga: Pengadilan Negeri Solo Terima Gugatan Esemka Terhadap Jokowi, Sidang Segera Digelar!

Andry juga mencermati perkembangan pasar obligasi dan nilai tukar. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 5,5 bps menjadi 7,14 persen. Sedangkan yield obligasi global dalam USD (INDON) naik lebih tajam, sebesar 26,2 bps ke 5,63 persen.

Rupiah tercatat masih belum beranjak dari level Rp 16.800-an per USD. Merujuk Bloomberg Market Spot Rate, nilai tukar rupiah ditutup di angka Rp 16.823 per USD hingga pukul 17.00. Melemah 49,50 poin atau minus 0,29 persen. "Nilai tukar rupiah terhadap USD diperkirakan masih bergerak dalam kisaran Rp 16.831 hingga Rp 16.933," terangnya.

Senior Economist DBS Bank Radhika Rao berharap pemerintah dapat membuat kebijakan untuk meningkatkan permintaan dalam negeri di tengah situasi ekonomi global yang kacau. Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). "Tentu dengan memperhatikan volatilitas rupiah," ujarnya.

Radhika mengapresiasi upaya pemerintah bernegosiasi untuk mencapai beberapa kompromi. "Analisis dampak kami menunjukkan adanya efek lanjutan terhadap pertumbuhan sebesar 0,5 persen dari PDB (produk domestik bruto) Indonesia, dengan dampak lanjutan dari melambatnya pertumbuhan global," ungkap Radhika. (mia/dee/lyn/han/oni)

Editor : Hanif
#kebijakan tarif #as #resiprokal #donald trump #tiongkok