PONTIANAK POST — Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa sepuluh tokoh yang tengah dipertimbangkan sebagai Calon Pahlawan Nasional tahun 2025 memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan gelar tersebut, termasuk mantan Presiden RI ke-2, Soeharto.
Pernyataan ini disampaikan Mensos merespons perbincangan publik mengenai kembalinya nama Soeharto dalam daftar calon Pahlawan Nasional tahun ini.
“Dari nama-nama yang ada, yang ramai itu ada Pak Presiden Suharto, Gus Dur, yang itu semua memang punya peluang untuk diusulkan oleh Kementerian Sosial setelah nanti kajiannya tuntas. Mengapa? Karena paling tidak syarat-syarat normatifnya semua sudah terpenuhi,” ujar Mensos Saifullah saat melakukan peninjauan di Gedung Konvensi TMPNU Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (24/4).
Lebih jauh, Saifullah menerangkan bahwa nama Soeharto yang kembali masuk daftar usulan telah memenuhi ketentuan normatif, terutama setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat mencabut TAP MPR Nomor 11 Tahun 1998 yang sebelumnya menjadi penghalang utama.
“Pak Harto misalnya itu sudah berulang-ulang ya diusulkan gitu, tapi masih ada kendala. Dan sekarang salah satu kendalanya itu kemarin soal TAP MPR-nya sudah dicabut,” tambahnya.
Saat ini, Kementerian Sosial tengah menuntaskan kajian dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari sejarawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat, guna meninjau kelayakan setiap nama yang diusulkan oleh masing-masing provinsi.
Setelah proses tersebut rampung, daftar nama yang telah diseleksi akan diserahkan kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan untuk dilakukan evaluasi lanjutan sebelum diputuskan oleh Presiden.
“Di Kementerian Sosial juga dipastikan lagi lewat beberapa tokoh mulai dari akademisi, sejarawan, juga tokoh masyarakat yang bersama-sama mendiskusikan usulan-usulan dari daerah itu. Setelah itu, kami akan lanjutkan ke Dewan Gelar,” ungkap Saifullah.
Pada kesempatan berbeda, yakni Minggu malam (20/4), Mensos Saifullah juga memastikan bahwa pemerintah akan memperhatikan berbagai pendapat masyarakat, termasuk kritik atas pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional.
“Ya tentu kami semua dengar ya. Ini bagian dari proses. Semua kami dengar, kami ikuti,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh usulan masyarakat akan ditanggapi secara prosedural dan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Normatifnya juga kami lalui. Kalau kemudian ada kritik, ada saran, tentu kami dengarkan,” tutupnya. (mif)
Editor : Miftahul Khair