PONTIANAK POST - Pemerintah akan membentuk tiga satuan tugas (satgas) sebagai tindak lanjut negoisasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Tiga satgas itu bertugas mempercepat pelaksanaan hasil perundingan.
Ketua Tim Negosiasi sekaligus Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, delegasi telah mengadakan pertemuan strategis dengan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat.
Menurut Airlangga, Amerika Serikatmenyambut baik penawaran yang diajukan Indonesia. Proposal itu tidak hanya mencakup aspek tarif perdagangan, tetapi juga non-tarif serta langkah konkret Indonesia dalam menyeimbangkan neraca perdagangan secara adil dan setara atau fair and square.
”Jadi neraca perdagangannya sekitar 19, kita berikan lebih dari 19,5. Jual beli langsung 19,5. Namun, kita juga ada proyek yang kita beli dari Amerika,” ujarnya seusai melapor kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI kemarin (28/4).
Dalam pertemuan itu, perwakilan pemerintah menekankan kesetaraan perlakuan tarif resiprokal atas komoditas utama Indonesia di pasar Amerika Serikat. Itu dilakukan agar Indonesia memiliki equal level playing field atau kesamaan dengan negara lain. ”Apakah itu Vietnam, apakah itu Bangladesh, sehingga kita denganyanglaindapatequallevel playing field,” terang Airlangga.
Untuk mempercepat implementasi hasil perundingan, Presiden Prabowo, lanjut Airlangga, telah menyetujui pembentukan tiga satgas khusus, yakni satgas perundingan perdagangan investasi dan keamanan ekonomi, satgas perluasan kesempatan kerja dan mitigasi PHK, serta satgas mengenai deregulasi kebijakan.
”Yang lain terkait dengan satgas peningkatan iklim investasi dan percepatan perizinan berusaha,” imbuhnya. Dia memastikan, dalam negosiasi tarif itu, Indonesia tidak memasukkan kesepakatan dengan negara lain dalam pembicaraan. Pemerintah telah menandatangani non-disclosureagreement(NDA) atau perjanjian yang sifatnya rahasia.
Seluruh pendekatan dan penawaran Indonesia bertujuan untuk mencari solusi bagi kedua negara tanpa membedakan negara mitra satu dengan lainnya. ”Apa yang kita tawarkan adalah apa yang sedang kita lakukan di dalam negeri. (far/aph)
Editor : Hanif