Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dianggap Meninggal Oleh Pihak Keluarga, Dua TKW Berhasil Diketemukan

Arief Nugroho • Senin, 2 Juni 2025 | 15:35 WIB
Kuntring alias Tutik, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia didampimgi petugas BP3TKI dan Ketua DPD PDRI Kalbar saat berada di Pontianak. Tutik TKW yang disekap oleh majikannya di Malaysia.
Kuntring alias Tutik, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia didampimgi petugas BP3TKI dan Ketua DPD PDRI Kalbar saat berada di Pontianak. Tutik TKW yang disekap oleh majikannya di Malaysia.

PONTIANAK POST - Raut bahagia terpancar jelas di wajah Kuntring alias Tutik, seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia saat berada di tanah air. Kuntring merupakan satu dari dua TKW asal Indonesia yang disekap oleh majikannya selama belasan tahun di Malaysia.

Kepada Pontianak Post, Kuntring menceritakan apa yang dialaminya selama bekerja menjadi asisten rumah tangga (ART) di Malaysia.

Kuntring berangkat dari kampung halamannya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada tahun 2005. Saat itu usianya baru menginjak 15 tahun.

Awalnya Kuntring diajak seseorang untuk bekerja di Malaysia. Meskipun usianya masih belia, Kuntring tak menolak ajakan itu. Ia pun berangkat ke Malaysia dengan berbekal paspor.

Sesampainya di Malaysia, Kuntring bekerja di rumah seorang majikan yang berprofesi sebagai dokter. Selama bekerja menjadi ART di rumah itu, ia tidak pernah mendapatkan akses komunikasi dengan pihak luar. Termasuk ke pihak keluarga.

Bahkan, selama belasan tahun bekerja, perempuan 29 tahun itu juga tidak mendapatkan gaji yang menjadi haknya.

“Saya bekerja dari pagi sampai malam. Tidak boleh pegang HP. Bahkan, saya juga tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga,” ungkapnya.

“Saya juga tidak menerima gaji sepeser pun,” sambungnya.

Tahun 2020, Kuntring berniat untuk kabur dari rumah majikannya dan pulang ke Indonesia. Namun, usahanya itu harus kandas, karena aktivitasnya selalu diawasi sang majikan dengan ketat.

“Saya ada rencana untuk kabur karena sudah tidak kuat. Untuk menjalankan ibadah saja, saya harus curi-curi waktu,” bebernya.

Di rumah sang majikan, Kuntring tidak sendirian. Ia bersama dengan Isabella, TKW asal Indonesia lainnya.

Isabella merupakan warga Dusun Betutu Raya, Desa Punggur Kapuas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Pada tahun 2008, Isabella pamit untuk berangkat ke Malaysia untuk bekerja. Namun, selama belasan tahun, tidak ada kabar dari Isa Bella. Meskipun pihak keluarga telah mencari keberadaannya.

Isa Bella pun dinyatakan hilang dan dianggap meninggal dunia oleh keluarga.

Beruntung keduanya kini telah ditemukan dengan selamat, setelah pihak keluarga melapor ke KJRI di Kuching melalui DPD Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) Kalbar, selaku pihak yang diberi kuasa oleh keluarga untuk mencari keberadaan Isabella.

Ketua DPD PDRI Kalbar, Sri Cahyawati mengatakan, sekitar tahun 2024 lalu pihaknya mendapat laporan dari pihak keluarga Isabella.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, Isabella telah meninggalkan kampung halaman selama 16 tahun untuk bekerja di Malaysia. Namun, tidak ada kabar beritanya.

Pihak keluarga juga telah melakukan pencarian, namun tidak diketemukan.

“Keluarga merasa telah putus asa dan menganggap dia (Isabella) sudah meninggal dunia, karena 16 tahun tanpa kabar keberadaannya ada dimana,” kata Cahyawati.

Hingga pada suatu hari, pihak keluarga mendapat kabar dari seseorang yang berada di Kuching mengetahui keberadaan Isabella. Ia bekerja di salah satu rumah dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang dari luar, majikannya selalu mengawasi dengan ketat.

Dengan kabar keberadaan Isabella, pihak keluarga kemudian melapor ke DPD PDRI Kalbar untuk minta pertolongan.

“Pada September 2024 saya melaporkan kepada pihak KJRI tentang keberadaan Isabella di suatu rumah yang ternyata di sana ada dua orang WNI,” kata Cahya.

Selain itu, pihaknya juga melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib di Kuching Sarawak.

“Beruntung, pada Oktober 2024, keduanya berhasil dievakuasi dari rumah majikannya,” lanjut Cahya.

Kedua TKW asal Indonesia itu kemudian ditampung di rumah perlindungan korban yang berada di Sabah, Malaysia, untuk menunggu proses pemulangan.

Cahya mengatakan, saat ini TKW atas nama Kuntring alias Tutik, telah kembali kampung halamannya dengan jalur mandiri.

“Untuk kepulangan Kuntring ke tanah air menggunakan jalur mandiri. Dengan menumpang travel dari Entikong ke Pontianak. Setibanya di Pontianak, dia ditampung di Rumah Ramah Pekerja Migran. Keesokan harinya, baru berangkat ke Jawa tengah dengan biaya sendiri. Menggunakan uang sisa tabungan,” bebernya.

Dikatakan Cahya, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Ketua DPP PDRI terkait proses pemulangan TKW tersebut.

“Karena yang bersangkutan ini lupa dimana kampung halamannya, saya kemudian berkoordinasi dengan DPP, ibu Lasmi. Beliau bergerak cepat untuk mencari tahu kampung halaman Kuntring melalui jaringan DPD PDRI di Jawa Tengah. Alhamdilillah berhasil,” terangnya.

Sedangkan untuk TKW atas nama Isabella, rencananya akan dipulangkan bulan Juni ini.

Dirinya mengapresiasi Ketua DPD Partai Demokrat Kalbar dan langkah KJRI dan Polisi Diraja Malaysia, yang sudah membantu menangani kasus dua TKW asal Indonesia tersebut.

“Kami ucapakan terima kasih kepada Ketua DPD Partai Demokrat, KJRI dan Polisi Diraja Malaysia, karena melakukan langkah yang cepat atas kasus ini,” pungkasnya. (arf)

Editor : Miftahul Khair
#tkw #disekap #asisten rumah tangga #Perempuan Demokrat Republik Indonesia #malaysia