Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sempat Tersendat, Seluruh Jemaah Sudah di Mina

Miftahul Khair • Sabtu, 7 Juni 2025 | 11:44 WIB

 

Petugas Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) membantu calon haji disabilitas menuju bus Shalawat di terminal Shib Amir Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (21/5/2025).
Petugas Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) membantu calon haji disabilitas menuju bus Shalawat di terminal Shib Amir Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (21/5/2025).

PONTIANAK POST - Dua tahapan penting dalam puncak ibadah haji telah berhasil dilalui oleh jemaah haji Indonesia. Setelah menuntaskan wukuf di Arafah pada Kamis (5/6) dan mabit (bermalam) di Muzdalifah hingga kemarin (6/6) dini hari, seluruh jemaah kini telah berada di Mina untuk menjalani prosesi lempar jumrah.

Berdasarkan laporan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, proses pendorongan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah selesai pada pukul 03.30 Waktu Arab Saudi (WAS) atau sekitar 07.30 WIB.

“Seluruh jemaah haji Indonesia dari Arafah sudah terevakuasi ke Muzdalifah dan (sebagian) ke Mina,” ujar Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI, Hilman Latief, dari Arafah.

Pendorongan jemaah dilakukan dengan dua skema, yakni bermalam (mabit) di Muzdalifah dan skema murur (hanya melintas) bagi jemaah lansia dan risiko tinggi (risti). Sementara itu, pendorongan dari Muzdalifah ke Mina tuntas pada pukul 09.40 WAS.

”Setelah melakukan penyisiran di semua area (Muzdalifah), kami nyatakan clear. Tidak ada jemaah haji Indonesia yang tertinggal,” tegas Kepala Satuan Operasi Armuzna, Harun Al Rasyid.

Meski demikian, pergerakan jemaah dari Arafah–Muzdalifah–Mina sempat terkendala. Kepadatan jalur penghubung menyebabkan antrean panjang di titik-titik pemberangkatan dari Muzdalifah. Akibatnya, sebagian jemaah harus menunggu sejak dini hari hingga jelang siang.

”Sebagian jemaah tidak membawa bekal, baik itu makanan maupun minuman,” ujar Agus, salah seorang ketua regu rombongan jemaah dari Embarkasi Surabaya asal Banyuwangi.

Tak sedikit jemaah akhirnya memilih berjalan kaki dari Muzdalifah menuju Mina sejauh 5–6 kilometer. Menyikapi kondisi itu, otoritas Arab Saudi menambah armada bus melalui jalur alternatif di pintu selatan Muzdalifah.

Baca Juga: Curi Perhatian! Bobby Kertanegara Tampil Modis Pakai Koko Putih Saat Idul Adha

Fokus ke Mina dan Jumrah Aqabah

Sejak kemarin pagi, jemaah mulai melaksanakan salah satu rukun haji penting, yakni melontar jumrah Aqabah. Mereka berjalan kaki dari tenda pemondokan menuju Jamarat (lokasi lempar jumrah) dengan jarak tempuh 3–5 kilometer.

Selama tiga hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijah), jemaah akan melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah setiap harinya. Jika dikalkulasi, total jarak yang ditempuh selama tiga hari bisa mencapai 27 kilometer.

Untuk menghindari kepadatan dan suhu ekstrem, Kementerian Agama RI membagi pelaksanaan lempar jumrah dalam dua sesi aman: pukul 00.00–04.00 dan 10.00–24.00 WAS (sekitar pukul 04.00–08.00 dan 14.00–04.00 WIB). ”Pemerintah telah mengantisipasi ini dengan menyiapkan fasilitas, petugas lapangan, dan titik-titik bantuan medis,” kata Hilman Latief.

Evaluasi Safari Wukuf

Pada pelaksanaan wukuf di Arafah, PPIH menerapkan skema safari wukuf bagi jemaah sakit, lansia ekstrem, dan risiko tinggi. Mereka mengikuti wukuf di dalam bus khusus yang masuk ke area Arafah.

Tercatat, sebanyak 2.032 jemaah mendaftar untuk skema ini, namun hanya 500 yang terlayani karena keterbatasan kuota dan hasil skrining medis.

”Setiap bus dilengkapi petugas dan pembimbing ibadah,” jelas Kasi PKP2JH Daker Makkah, Susilowati.

Setelah wukuf, jemaah langsung digerakkan ke Mina tanpa mabit di Muzdalifah (murur). Skema ini memastikan rukun haji tetap sah. Namun, 18 jemaah harus dikembalikan ke sektor karena tidak lolos skrining fisik. Empat jemaah dirujuk ke rumah sakit, dan dua lainnya wafat sebelum keberangkatan.

Wakil Menteri Agama, Romo Syafi’i, menegaskan safari wukuf sah secara syariat.

“Sudah dipastikan hajinya sah bila pada tanggal 9 Dzulhijah berada di Padang Arafah. Jadi tidak perlu ada keraguan,” tegasnya. (dim/aif/ris)

Editor : Miftahul Khair
#wukuf #mina #mabit #jemaah #haji