Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pasar Keuangan Global Rentan, IHSG Terancam Lanjutkan Penurunan

Hanif PP • Senin, 16 Juni 2025 | 09:47 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5). IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (14/5).
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5). IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (14/5).

PONTIANAK POST - Kombinasi ketegangan geopolitik, ekspektasi suku bunga, hingga dinamika regional membuat pasar keuangan global dalam fase volatilitas tinggi. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan masih melanjutkan pelemahan pekan ini.

“Sentimen positif datang dari kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Tapi para pelaku pasar masih ragu karena rincian kesepakatan tersebut belum dijabarkan secara rinci,” ujar analis pasar modal Hans Kwee kemarin (15/6).

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan, inflasi tahunan naik menjadi 2,4 persen pada Mei 2025 dari 2,3 persen pada bulan sebelumnya. Masih di bawah perkiraan pasar sebesar 2,5 persen. Hal itu membuka peluang bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga acuannya sebanyak dua kali tahun ini. “Kemungkinan akan terjadi pada September mendatang,” imbuhnya.

Meskipun demikian, pasar saham AS dan Eropa cenderung melemah seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran yang memicu risk off sentiment secara global. Investor juga beralih ke aset safe haven seperti emas, USD, yen Jepang, dan franc Swiss. Naiknya tensi di Timur Tengah juga turut memperkuat posisi dolar AS, di tengah proses dedolarisasi di Asia.

Hans menyatakan, serangan Israel ke Iran masih mungkin terjadi pekan depan sehingga mendorong naiknya harga minyak dan tekanan pada pasar saham. “IHSG akan bergerak dalam kisaran support di level 7.100 hingga 6.990, dengan resistance di kisaran 7.240 hingga 7.300,” tuturnya.

Dari dalam negeri, rupiah bakal ikut melemah sebagai dampak langsung dari tensi geopolitik, meskipun pelemahan itu bersifat sementara.

Data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 9-13 Juni 2025 ditutup bervariasi. Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian, yang naik sebesar 15,52 persen secara mingguan menjadi 28,05 miliar lembar saham. Rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami kenaikan sebesar 3,98 persen week-to-week (WtW). Dari 1,36 juta kali transaksi menjadi 1,42 juta kali transaksi.

"Sementara IHSG mencatat kenaikan sebesar 0,74 persen, dan ditutup pada level 7.166,07, dari posisi 7.113,4 pada pekan sebelumnya," ujar Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad

Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian menurun 5,21 persen dari Rp 17,14 triliun menjadi Rp 16,24 triliun. Pada perdagangan Jumat (13/6), investor asing membukukan net buy (beli bersih) Rp 478,76 miliar. Namun, secara kumulatif sepanjang 2025, investor asing mencatatkan net sell (jual bersih) sebesar Rp 48,582 triliun. (han/dio)

Editor : Hanif
#keuangan global #geopolitik #suku bunga #volatilitas tinggi #pasar global #ihsg #pasar keuangan global