Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Konflik Iran-Israel Ancam Ekonomi Global, Kadin: Indonesia Harus Siap Hadapi Dampaknya

Miftahul Khair • Minggu, 22 Juni 2025 | 14:26 WIB
: Ketua Kadin Anindya Novyan Bakrie (tengah kanan) bersama Presiden RI Prabowo Subianto (tengah kiri) usai menghadiri Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025.
: Ketua Kadin Anindya Novyan Bakrie (tengah kanan) bersama Presiden RI Prabowo Subianto (tengah kiri) usai menghadiri Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025.

PONTIANAK POST - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan bahwa konflik antara Iran dan Israel berdampak signifikan terhadap dinamika ekonomi global.

“Saya melihat jelas bahwa konflik Iran - Israel menjadi perhatian besar yang membayangi ekonomi dunia,” ujar Anindya, yang akrab disapa Anin, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (21/6). Pernyataan tersebut disampaikan Anin usai menghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di Expo Forum Convention and Exhibition Centre, Saint Petersburg, Rusia, pada Jumat (20/6) waktu setempat.

Menurutnya, sekitar 40 hingga 50 persen percakapan dalam forum tersebut, yang turut dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin berkisar pada isu konflik Iran - Israel.

Ia menilai persoalan tersebut menjadi fokus utama karena dampaknya yang besar terhadap stabilitas dan arah ekonomi global. “Kelihatan jelas polarisasi antara Barat dan Timur. Konflik ini bukan hanya soal geopolitik, tapi juga menunjukkan menguatnya struktur dunia yang multipolar,” ungkap Anin.

Lebih lanjut, Anin menyoroti perkembangan kekuatan ekonomi global baru, terutama blok negara-negara BRICS yang dinilainya semakin solid.

Ia juga menilai absennya Amerika Serikat dan China dalam sejumlah dialog multilateral seperti APEC menjadi penanda pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia.

“Sekarang BRICS semakin besar. Setengah penduduk dunia hidup di negara-negara BRICS, yang kini telah menerima sembilan anggota baru: Belarus, Bolivia, Kuba, Indonesia, Kazakhstan, Malaysia, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan,” papar Anin.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo Subianto juga menekankan bahwa pendekatan ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti model kapitalisme Barat maupun sosialisme ala Tiongkok.

Menurut Anin, Indonesia memilih pendekatan “hibrida” demi kepentingan bersama. “Indonesia memilih jalan tengah, model hibrida, dengan tujuan for the greater good, demi kesejahteraan sebanyak mungkin orang,” katanya.

Terkait hubungan dagang dengan negara-negara besar, Anin menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan, terutama dalam menghadapi tekanan tarif dari Amerika Serikat. Ia menyebut bahwa Indonesia memiliki alternatif kemitraan, termasuk melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU–CEPA).

“Kita sebagai negara tidak bisa terlalu diatur-atur. Kita punya alternatif, seperti IEU–CEPA yang akan membuka banyak peluang baru,” tegasnya.

Anin juga menyoroti posisi strategis Indonesia dalam konstelasi global saat ini. Ia menyebut Indonesia memiliki tiga “suara” penting yang menjadikannya aktor utama di berbagai forum internasional.

“Indonesia adalah satu-satunya negara Asia Tenggara di G20, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, dan mitra penting di kawasan Indo-Pasifik. Itu membuat posisi kita sangat strategis,” ujar Anin. (ant)

Editor : Miftahul Khair
#konflik #Israel #ekonomi global #iran #ancam