Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sasti Gotama Menang Kusala Sastra 2025 Lewat Cerpen Bertema Kemanusiaan

Hanif PP • Kamis, 3 Juli 2025 | 08:41 WIB
BERI WARNA BARU: Sasti Gotama setelah dinobatkan sebagai pemenang kategori cerpen di Jakarta.
BERI WARNA BARU: Sasti Gotama setelah dinobatkan sebagai pemenang kategori cerpen di Jakarta.

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu dinobatkan sebagai pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 karena dinilai dewan juri memberi warna baru dengan menyediakan labirin dalam plot yang secara umum perlu dibaca ulang. Dari baca berita sampai pengalaman praktik sebagai dokter, Sasti Gotama melahirkan cerita-cerita yang kerap mengangkat isu kemanusiaan seperti kekerasan gender, gangguan neurosis, hingga psikosis.

ACHMAD SANTOSO, Surabaya


PONTIANAK POST - SEJATINYA, Sasti Gotama masuk dunia sastra tanpa sengaja. Mulanya, dia menulis sebagai sarana katarsis, semacam kelegaan emosional setelah mengalami pergulatan batin. Lama-lama dia merasa nyaman dan akhirnya memutuskan untuk menggeluti sastra.

Maka, lahirlah karya-karya semenjak dia terjun ke dunia kepenulisan pada 2019 itu. Salah satunya kumpulan cerpen (kumcer) Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu.

Secara umum, 20 cerpen yang terhimpun dalam kumcer yang terbit tahun lalu itu mengangkat benang merah seputar kemanusiaan dan ketidakadilan atau pelanggaran atas hak mendasar yang dimiliki manusia, apa pun gendernya. ”Atau bila diringkas, mempertanyakan tentang arti menjadi manusia,” ujar Sasti dalam wawancara kepada Jawa Pos, Senin (30/6) malam.

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu dinobatkan sebagai pemenang penghargaan sastra bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 kategori kumcer. Malam penganugerahan berlangsung pada Sabtu (28/6) di Graha Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta. Sasti bersanding dengan Cicilia Oday yang menang kategori novel lewat Duri dan Kutuk serta Esha Tegar Putra melalui Hantu Padang menjadi pemenang kategori kumpulan puisi.

Dalam laporan pertanggungjawabannya, dewan juri menilai bahwa gaya bertutur Sasti telah memberi warna baru dengan menyediakan labirin dalam plot yang secara umum perlu dibaca ulang. Di akhir kisah tercantum twist yang menyaru.

”Sang penulis demikian detail menggambarkan perangkat dalam pokok pembicaraan, juga menjuluki para tokoh sesuai karakternya,” kata dewan juri yang diketuai Prof Djoko Saryono, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kusala Sastra Khatulistiwa.

 

Belanja Masalah di Masyarakat

Sebagaimana penulis pada umumnya, Sasti melakukan riset atau observasi dengan belanja masalah di masyarakat. Misalnya, kekerasan berbasis gender, represi terhadap aktualisasi perempuan, pelanggaran hak-hak asasi manusia, ketidakadilan di masyarakat, hingga masalah kesehatan mental.

”Masalah-masalah itu saya dapatkan dari berita di media massa. Misalnya, kasus pelecehan yang terjadi di institusi keagamaan, itu saya dapatkan dari berita-berita di koran dan media daring,” tutur perempuan asli Malang, Jawa Timur, yang kini menetap di Cilacap, Jawa Tengah, itu.

Baca Juga: Jurusan Administrasi Bisnis Polnep Gelar PKM: Beauty Class Penunjang Penampilan Menuju Dunia Kerja

Pengalaman berpraktik sebagai dokter juga turut membantunya menemukan berbagai persoalan. Karena itu, dia juga banyak mengungkap problem psikosis, yaitu gangguan jiwa yang mengakibatkan seseorang sulit membedakan antara kenyataan dan imajinasi. Atau, gangguan neurosis seperti psikosomatik, obsessive-compulsive disorder (OCD), dan depresi.

Selain itu, ada inspirasi yang didapat dari observasi epitaf (tulisan singkat) yang ada di makam-makam peninggalan zaman kolonial. Misalnya, dalam cerpen berjudul Batavia yang Tak Sesuai Rencana Lucretia.

Ada pula cerpen yang idenya digali dari buku esai atau buku sejarah. Salah satunya cerita Sesudu Senyum-Senyum. Cerita inilah yang dinilai Sasti paling sulit. Sebab, untuk menulis itu, dia butuh riset yang cukup panjang dan rumit. Dia ingin mengungkapkan akar masalah tersebut dengan cara estetis dan dapat diterima semua kalangan. Apalagi harus disajikan menggunakan dialek setempat.

”Untuk itu, saya perlu menonton video-video di media yang menyajikan percakapan penduduk setempat, melakukan wawancara langsung kepada seorang kawan yang tinggal di daerah tersebut, sekaligus meminta dia untuk mengevaluasi dialek yang saya gunakan apakah sudah tepat atau belum,” paparnya.

Sasti menyebut, dirinya menulis tentang pelecehan seksual, kekerasan kepada perempuan, dan hak perempuan bukan karena dia perempuan. Melainkan untuk menyuarakan suara-suara yang terbungkam.

”Jadi, tidak hanya suara perempuan. Meski sebagian besar suara perempuan karena memang perempuan merupakan bagian dari barisan liyan yang suaranya kerap kali lirih atau bahkan sama sekali tak tersuarakan,” ujarnya.

 

Tak Ada Waktu Khusus

Tentang kapan menulis, Sasti mengaku tidak memiliki waktu khusus. Terkadang malam, bisa satu sampai dua jam. ”Biasanya di rumah,” kata lulusan kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, itu.

Meski dokter, Sasti juga tak lantas mengobral istilah medis dalam karyanya. Kecuali terpaksa, misalnya karena tidak ada padanan lain. Agar mudah dipahami, biasanya dia menggambarkan melalui metafora, mengiaskan melalui objek-objek yang lebih akrab bagi pembaca awam.

Sasti juga punya cara tersendiri untuk mengeksekusi tulisan. Biasanya dia menyimpan dalam ”Bank Premis” pada ponsel. ”Begitu mendapatkan ide, saya tulis premisnya dalam selarik kalimat. Nanti, ketika ada waktu luang, baru mengembangkan premis itu menjadi tulisan lengkap,” tuturnya.

Setelah menerima anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa, Sasti ingin lebih bersemangat dalam menulis. Dia mengaku tidak berkompetisi dengan orang lain, tetapi dengan dirinya sendiri.

”Saya berharap, ke depan saya lebih baik dari diri saya yang sekarang. Untuk itu, saya harus belajar lebih giat lagi. Toh, saat ini pun saya masih seorang pembelajar,” katanya. (*/ttg)

Editor : Hanif
#Kusala Sastra 2025 #sastra #Cerpen #kumcer #isu kemanusiaan