PONTIANAK POST - Selain soal dugaan oplosan, harga beras yang terus melambung juga menjadi sorotan. Di sisi lain, pemerintah terus gencar menyampaikan bahwa stok beras di gudang Bulog merupakan yang terbesar dalam sejarah Indonesia.
Dalam Informasi Harga Pangan Antar Daerah per 15 Juli, Bank Indonesia membagi enam kategori beras. Seluruhnya mengalami kenaikan. Kenaikan tertinggi terjadi pada kategori beras Medium I yang naik Rp 150/kg (0,95 persen) dan kini berada di harga Rp 15.590/kg. Sementara itu, beras Medium II, Super I, dan Super II masing-masing mengalami kenaikan sebesar Rp 100/kg.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, stok beras sangat mencukupi, yakni mencapai 4,2 juta ton. “Tidak perlu khawatir. Dalam waktu dekat, harga beras dipastikan akan turun,” ujarnya, kemarin (15/7).
Amran menyayangkan praktik pengoplosan beras yang menyebabkan harga beras medium dijual dengan harga premium. Akibat pengoplosan itu, lanjut Amran, masyarakat harus membeli beras yang seharusnya murah dengan harga tinggi.
Praktik kotor tersebut, tambahnya, mengakibatkan adanya selisih harga yang dapat mencapai Rp 3.000/kg. Jika masyarakat membeli beras dalam kemasan 5 kg, berarti terdapat selisih Rp 15.000 per kemasan.
“Kalau beras naik Rp 3.000 per kilo, apa tidak kasihan dengan saudara-saudara kita yang berada di garis kemiskinan,” kata Amran dalam keterangannya kemarin (15/7).
Sebagai bentuk tanggung jawab, kata Amran, pemerintah telah menyalurkan 360 ribu ton bantuan pangan beras sepanjang Juli. Bantuan tersebut disalurkan sebagai bagian dari program perlindungan sosial. Selain itu, sebanyak 1,3 juta ton beras akan disalurkan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. (wan/ttg)
Editor : Hanif