Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Testimoni Siswa Sekolah Rakyat setelah Seminggu Tinggal di Asrama, Kegiatan Dimulai Pagi Buta

Hanif PP • Minggu, 20 Juli 2025 | 11:04 WIB
Anggota TNI memberi contoh cara melipat pakaian dengan rapi kepada para siswa di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (18/7/2025). Di Sekolah Rakyat tersebut anggota TNI-POLRI membantu me
Anggota TNI memberi contoh cara melipat pakaian dengan rapi kepada para siswa di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (18/7/2025). Di Sekolah Rakyat tersebut anggota TNI-POLRI membantu me

PONTIANAK POST - Sudah seminggu ini para murid Sekolah Rakyat tinggal di dalam asrama. Rasanya campur aduk, kata mereka. Seru, degdegan, hingga rindu ingin bertemu orang tua.

 

LANGIT masih gelap gulita. Jalanan pun masih lengang. Namun, asrama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Margaguna, Jakarta Selatan, sudah ramai pada Jumat (18/7) pagi itu. Wali asrama ditemani wali asuh berjalan keliling asrama. Menggedor kamar para ketua kelas. Mereka diminta membangunkan seluruh penghuni asrama. Ada dua asrama, putra dan putri, yang menampung 100 anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang ada di sekitar wilayah Jakarta Selatan. Satu kamar diisi 3-4 anak.           

Kegiatan di asrama dimulai pukul 04.00 WIB. Semua penghuni harus bangun untuk persiapan salat Subuh berjemaah di masjid. Tapi sebelumnya, mereka wajib membersihkan tempat tidur dan kamar. Pendidikan karakter dan kedisiplinan benar-benar diterapkan sejak hari pertama mereka tinggal di sana.

Fathan Sawayudhitama, 17, tampak masih mengumpulkan serpihan “nyawa” di atas tempat tidurnya. Bangun subuh diakuinya paling sulit dilakoni ketika di asrama. “Kan ini kan baru ya, dibilangnya sih sebenarnya susah. Cuman karena namanya juga sekolah, jadi emang harus diubah lagi,” ungkapnya.

Menurut dia, tinggal di asrama cukup seru. Tapi, hari pertama sempat terasa membosankan. Maklum, belum ada orang yang dikenalnya. Bahkan, suasana di dalam kamar sempat kaku. Sebab, tidak ada yang saling mengenal.

''Di dalam kamar pada sungkan dan diem-dieman,'' katanya. “Tapi, makin lama makin lumayan sih seminggu ini. Asik juga, lumayan,” kata anak ketiga dari lima bersaudara tersebut.

Meski baru seminggu, banyak pembelajaran yang diterimanya. Mulai dari kedisiplinan, pendidikan agama, bahaya narkoba, hingga soal bullying.

Anak dari pasangan Slamet Husayri, 50, dan Ari Windarti, 40 ini sempat berhenti sekolah satu tahun terakhir. Dia terpaksa keluar karena harus membantu ayahnya bekerja menjadi montir. Tahun lalu, sang ayah tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Sebelumnya, Slamet juga divonis diabetes. Karena itu, kondisi fisiknya tak mampu lagi bekerja keras. “Makanya aku mending lebih bantuin bapak daripada main,” ungkapnya. 

Meski begitu, dalam hatinya, keinginan untuk bersekolah masih sangat kuat. Bak gayung bersambaut, tawaran masuk Sekolah Rakyat tiba. Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan meski harus berpisah dengan keluarganya. Dia juga memberanikan diri untuk meminta bantuan pada kakaknya untuk bisa menjaga sang bapak. “Pasti berat banget ninggalin Bapak dan Ibu. Cuman kan aku pengen sukses tanpa nyusahin orang tua. Jadi aku harus kuat,” ungkapnya. 

Beda lagi dengan Nur Aisah, 16. Jika di awal-awal dirinya penuh semangat, dia kini ingin pulang. Saat ditemui pada Jumat lalu, dia mengaku sedang tidak enak badan. “Tadinya sih senang-senang aja, terus jadi kayak pengin pulang. Kangen ibu,” katanya. 

Ais, panggilannya, sudah tidak punya ayah. Hanya ada sang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keterbatasan biaya nyaris membuat dirinya tak bisa melanjutkan sekolah. Hingga akhirnya, ada tawaran masuk Sekolah Rakyat. “Biar gak nyusahin ibu,” ungkap siswi yang bercita-cita menjadi pelukis dan dokter ini.  Bukan hanya para murid yang masih harus beradaptasi dengan lingkungan asrama. Para wali asuh dan wali asrama pun harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Frederick Yogi Hulu, 34, salah satu Wali Asuh di asrama laki-laki ini mengaku mesti beradaptasi kembali. Tapi, hal itu tak membuat dia jalan lambat untuk bisa membersamai 10 anak asuhnya di asrama. Yogi, sapaannya, sudah membuat grup khusus di aplikasi pesan bersama 10 anak asuhnya dan grup lainnya dengan para orang tua mereka. Grup dengan orang tua ini untuk membantu mereka mengupdate kondisi dan mengetahui kegiatan anaknya selama di asrama. 

Yogi yang memiliki latar belakang sebagai pekerja sosial (peksos) selama belasan tahun itu mengaku tak ada kesulitan berarti dalam mengasuh anak-anak Sekolah Rakyat. Menurutnya, tak ada kenakalan-kenakalan berat yang ditunjukkan anak-anak di asrama. “Paling ngeluh-ngeluh biasa ya. Mungkin yang dulunya di rumah bebas, sekarang mereka harus mengikuti salat lima waktu, kegiatan begitu panjang, apalagi jam sembilan harus tidur.  Nah di situlah kita sebagai wali asuh harus  mendampingi dan mendisiplinkan mereka,” jelasnya. 

Yogi yang dulunya terbiasa menangani anak-anak kecanduan narkoba atau masalah lainnya, memiliki metode-metode khusus untuk menghadapi para remaja itu. Dia paham bagaimana bertindak tanpa harus marah-marah ketika anak-anak bermalas-malasan. 

 “Selain itu, kita ada FGD tiap malam sebelum tidur,” paparnya. Dalam FGD tersebut, anak-anak diberikan waktu untuk mengutarakan isi hatinya. Dari sana, biasanya ia akan memetakan, tindakan apa yang harus dijalankan untuk membantu anak. “Percayalah, lebih susah jadi pendamping PKH yang ngurus 600 ibu-ibu,” candanya. 

Senada, Prima Aldi Juniarto, 31, salah seorang wali asuh juga mengatakan hal yang sama. Baginya, sejauh ini belum ada kendala-kendala berarti dalam menjalankan tugasnya. Kalaupun ada tindakan-tindakan tidak disiplin, ia pun masih memaklumi mengingat anak-anak ini banyak yang sebelumnya “hidup bebas” di jalanan sehingga tak terikat aturan.

“Mereka kan ada yang jadi tukang parkir atau putus sekolah sebelumnya. Jadi ini tugas kami untuk membantu mereka,” jelasnya. 

Dia biasa mengajak anak-anak yang melanggar aturan kedisiplinan di asrama untuk ngobrol. Dia mengajak siswa diskusi untuk menemukan solusi dari masalah yang dihadapi sang anak. 

Di asrama laki-laki, wali asrama justru dipegang oleh perempuan. Dia adalah Raden Roro Zulia Kusumawardani, 39. “Tantangannya sebagai perempuan berada di asrama laki-laki agak horor ya, haha, tapi tetap didampingi oleh teman-teman wali asuh. Dan juga ada satpam untuk mendampingi berkeliling, misalnya ketika harus membangunkan di pagi hari,” jelasnya. 

Memimipin asrama laki-laki diakuinya jauh lebih banyak tantangan ketimbang asrama perempuan. Butuh ekstrasabar. Sebab, tak jarang butuh waktu sejam untuk membangunkan mereka di pagi hari. “Sampai keliling dua kali, eh masih tidur. Kesabaran kita emang harus seluas samudera,” ungkapnya. (mia/oni)

Editor : Hanif
#suka duka #asrama #Siswa Sekolah #Sekolah Rakyat #TNI