Dari pemeriksaan medis diketahui bahwa hormon laki-laki Lik sangat dominan: mencapai 90 persen. Pelajar kelas III SD itu tetap ceria di sekolah dan menyukai pelajaran bahasa Inggris.
ASAD MUHAMIYUS SIDQI, Kabupaten Kediri
Ani Khasanah tercatat lahir di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sebagai perempuan. Tapi, saksi ahli di persidangan penyempurnaan identitasnya menyebutkan bahwa terjadi kesalahan pemeriksaan jenis kelamin ketika dia lahir. Lewat perjuangan panjang, dalam usia 21 tahun, dia akhirnya disahkan pengadilan menjadi lelaki dengan nama Anang Soetomo.
Dalam salah satu sidang penyempurnaan identitas Ani Khasanah pada Juni 2021, saksi ahli Dodo Wikanto menyebutkan, kasus yang dialami Ani merupakan kesalahan pemeriksaan jenis kelamin saat lahir. ”Terjadi kebingungan menentukan jenis kelamin (sexual ambiguity),” ujar Dodo, dokter spesialis urologi RSUD Kabupaten Kediri, ketika itu.
Kesalahan penentuan jenis kelamin itu, lanjut Dodo, terjadi karena ukuran penis dan posisi testis di atas. Akibatnya, sulit untuk mengindikasikan jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan.
Rupanya, dari sana langsung diputuskan jika jenis kelaminnya perempuan. ”Seharusnya periksa genetik dulu baru bisa menentukan laki-laki atau perempuan,” lanjutnya. Setelah usia Ani beranjak dewasa, tambah Dodo, baru diketahui jika jenis kelamin sekundernya muncul menjadi laki-laki. Hal itu, menurutnya, karena genetik Ani memang laki-laki.
Empat tahun berselang, setelah kisah yang menyedot banyak perhatian itu, di kabupaten yang sama kini ada Lik, bocah 9 tahun yang berkelamin ganda. Mengutip Radar Kediri (jaringan Pontianak Post), sedari lahir di Kecamatan Badas, hal yang tidak biasa di area genitalnya sebenarnya sudah diketahui. Namun, orang tua tetap memperlakukannya seperti perempuan. Sebab, dari bentuknya memang dominan wanita.
Namun, seiring bertambahnya usia, di area genital Lik juga muncul tonjolan yang semakin jelas menyerupai penis. ”Sadarnya saat TK karena tonjolannya (menyerupai penis) semakin jelas,” kata Maskur Lukman, anggota DPRD Kabupaten Kediri, yang mengaku kali pertama mendengar soal Lik dari seorang teman yang tinggal sedesa dengan bocah tersebut.
Diduga orang tua Lik menganggap itu sebagai aib. Mereka tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapa pun.
Akhirnya, saat duduk di bangku kelas III SD atau kelas di mana dia berada sekarang, tetangganya menyarankan agar dilakukan pemeriksaan medis. Dari sana diketahui bahwa hormon laki-lakinya lebih dominan: mencapai 90 persen.
Didatangi Banyak Petugas
Saat mengenakan gamis berwarna hitam, Lik terlihat seperti anak perempuan lain. Tapi, di kesempatan lain, ketika mengenakan baju lengan pendek dan memakai jilbab, dia terlihat tomboi. Duduknya tegap tak ubahnya seorang buyung meski bentuk wajahnya tetap mirip seorang upik.
Sejak Senin (4/8) lalu, Lik ramai jadi perhatian. Petugas dari puskesmas, dinas kesehatan, hingga dinas sosial mendatangi rumahnya. Hal tersebut tak lepas dari kabar dia berkelamin ganda.
Lukman mengaku, begitu mendapati fakta soal Lik, dia langsung membawanya ke forum pembahasan badan anggaran (banggar) dan tim anggaran Pemkab Kediri. ”Ada Bapak Sekda (Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri Moh. Solikin). Saya sampaikan mereka ini (Lik dan orang tuanya, Red) orang tidak mampu. Perlu dikawal,” kata Lukman sembari menyebut bahwa kemarin (7/8) Lik kembali menjalani pemeriksaan medis di RSUD dr Soetomo, Surabaya.
Termasuk, tambah dia, jika nantinya dibutuhkan operasi. Lukman mengaku siap membuka donasi. Menggalang dana agar kebutuhan Lik dan keluarga saat mengikuti penanganan medis bisa tercukupi.
Penanganan secara terbuka menurut Lukman sekaligus menjadi sarana edukasi. ”Siapa tahu ada kejadian serupa yang dialami orang lain. Ini bukanlah aib. Namun, permasalahan medis yang perlu ditangani segera. Harapannya, jika ada yang melaporkan, kami akan bantu,” katanya.
Pemkab Siap Kawal
Terpisah, Sekda Kabupaten Kediri Moh. Solikin mengaku sudah menginstruksikan dinas terkait untuk mengawal penanganan Lik. Asesmen telah pula dilakukan.
Pemkab Kediri, menurut Solikin, akan terus mengawal penanganan kasus Lik. Tidak hanya dari sisi medisnya, tapi juga sisi psikologis. ”Kemarin (5/8) juga sudah dibantu aktivasi BPJS. Masbup (Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana) minta terus dikawal hingga tuntas,” katanya.
Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri dr Nurwulan Andadari mengatakan, pihaknya sudah melakukan beberapa kali pemantauan bersama tim kesehatan dan tim dari Pemkab Kediri. ”Dia (Lik) terlihat malu karena banyak orang tidak dikenal yang sering datang,” kata perempuan yang akrab disapa Anda ini.
Melihat kondisi itu, Anda menyebut pemkab tidak hanya melakukan pendampingan dalam proses medisnya, tetapi juga menjaga psikologis Lik. Salah satunya, saat mengunjungi Lik, mereka sangat hati-hati.
Anda bersyukur, sejauh ini Lik tetap nyaman bersekolah. Dia juga aktif mengikuti pembelajaran. Setelah izin tidak masuk sekolah karena menjalani serangkaian pemeriksaan, Lik juga langsung masuk sekolah lagi. ”Dia ceria di sekolah. Dia suka pelajaran bahasa Inggris,” terangnya. (*/ut/ttg)
Editor : Hanif