PONTIANAK POST - Hujan lebat di beberapa wilayah di Bali berdampak bencana banjir, sehingga Bali seolah terapung. Selain itu bangunan roboh, kendaraan rusak, hingga longsor. Tak kurang 11 orang ditemukan meninggal dunia.
Dari kawasan Denpasar dan Badung, kurang lebih tujuh orang ditemukan meninggal dunia akibat terbawa arus maupun tertimpa runtuhan bangunan. Tim gabungan masih melakukan pencarian korban lain yang dilaporkan hilang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, seorang pria tanpa identitas ditemukan meninggal dunia. Jenazah Mr X ini, ditemukan di penghambat arus air Bendungan Muara Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Rabu (10/9), sekitar pukul 09.40 WITA. Korban diduga hanyut dan tidak mampu menyelamatkan diri. Identitas hingga kini belum diketahui.
Beberapa jam berselang, jasad perempuan tanpa identitas (Mrs X) juga ditemukan di Tukad Klecung, Umalas, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, sekitar pukul 12.00 WITA. Berdasarkan perkiraan, Mrs.X ini hanyut dari kawasan Kerobokan Tengah dan tersangkut di lokasi tersebut. Proses evakuasi dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung.
Selain dua korban akibat hanyut, musibah ini juga menimpa warga di kawasan Kumbasari, Denpasar Barat. Di mana enam orang jadi korban bangunan toko ambruk dan tiga pedagang diterjang banjir. ’’Dari data diperoleh, terdapat sembilan korban,’’ ujar saksi petugas, Rabu (10/9).
Saat dikonfirmasi terpisah, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar I Nyoman Sidakarya menyatakan, peristiwa tragis bangunan toko runtuh dan menimbun sejumlah orang. Tim SAR Gabungan dari Basarnas Bali, BPBD, TNI, dan Polri segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi.
’’Dikatakan, enam orang tertimpa reruntuhan bangunan, dengan rincian doa selamat dan empat meninggal dunia,’’ cetusnya.
Korban yang selamat adalah Muis bersama anak laki-lakinya, Ousay. Bapak dan anak ini berhasil dikeluarkan dari reruntuhan Toko Kain Centrum dalam kondisi hidup.
’’Namun, istri Muis bernama Nadira dan anak perempuannya, Maimunah, tidak berhasil diselamatkan,” jelas Sidakarya.
Sementara itu, dari Toko Kain Tasnim, dua korban ditemukan meninggal dunia. Yakni, pemilik toko bernama Tasnim dan seorang laki-laki bernama Parwa Husein.
Selain korban dari dalam bangunan, tiga orang pedagang di sekitar lokasi juga menjadi korban. Seorang pedagang, Ni Wayan Lenyot, ditemukan meninggal dunia.
Adapun dua pedagang lainnya, hingga saat ini masih dalam pencarian tim SAR.
Proses evakuasi dilakukan dengan menggunakan alat berat dan didukung penuh oleh relawan. ’’Petugas terus berupaya melakukan pencarian hingga seluruh korban ditemukan,’’ jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan, area sekitar lokasi masih dipasangi garis polisi untuk mengantisipasi adanya potensi runtuhan susulan. Polresta Denpasar belum merespons terkait data-data korban.
Dari Jembrana, seorang warga Desa Pengembangan, Kecamatan Nagara, ditemukan meninggal setelah sempat dilaporkan terseret arus air banjir. Korbannya, Nita Kumalasari, 23, dibonceng motor suaminya, Bilal Ahmad, 27, saat dari Dusun Munduk, Rabu pagi (10/9), sekitar pukul 02.30 WITA. Mereka hendak pulang ke rumahnya di Dusun Kombading. ”Korban dibonceng suaminya dengan sepeda motor, melintasi jalan yang banjir,” kata Perbekel Desa Pengambengan Kamaruzzaman.
Nahas, saat melintas di jalan Dusun Munduk yang terendam banjir dengan arus deras, motor terseret arus hingga terjatuh. Nita Kumalasari dan suaminya juga terseret arus kuat. Suaminya ditemukan selamat dan motor ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian.
Sedang Nita ditemukan tidak bernyawa di wilayah Dusun Munduk. Jenazah dibawa ke Puskesmas Pengambengan. ”Korban tidak ada luka-luka. Ini karena tenggelam. Korban sudah meninggal dunia,” ujar Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Negara dr Ni Putu Eka Indrawati yang melakukan pemeriksaan korban.
Menurut dokter Eka, korban meninggal tengah hamil 2 bulan. Sementara suami korban masih dirawat intensif di Puskesmas Pengambengan.
Selain korban meninggal terseret arus, seorang warga dilaporkan tewas karena tersengat listrik. Korbannya, I Komang Oka Sudiastawa, 38, warga Banjar Sebuah, Desa Dangintukadaya, Jembrana. Korban meninggal dunia karena tersengat listrik saat terjadi banjir, Rabu dini hari (10/9).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, korban tersengat aliran listrik saat membuka pagar depan rumah sekitar pukul 03.00 WITA. ”Menurut informasi warga, korban membuka pagar kemudian tiba-tiba terjatuh,” ujarnya.
Korban saat itu hendak keluar dari halamannya rumah karena banjir menggenangi jalan rumah dan Jalan Denpasar-Gilimanuk yang berada di depan rumahnya. Diduga korban saat menggeser pagar menyentuh kabel hingga putus.
Korban ditemukan mengambang di air depan rumahnya lalu dievakuasi ke rumah sakit. Jenazah korban masih dititipkan di rumah sakit, karena rumahnya dan permukiman sekitarnya banjir. ”Banjir yang menggenangi permukiman warga hingga Jalan Denpasar-Gilimanuk ini diakibatkan meluapnya air sungai di sisi utara jalan,” ujar Perbekel Dangintukadaya I Gusti Putu Murdi ketika saat dihubungi sedang mengecek kondisi banjir di Sebual.
Kabar duka juga datang dari Gianyar. Hal ini menyusul dua warga Gianyar meninggal dunia setelah tertimpa longsor. Musibah longsor dipicu hujan lebat pada Rabu (10/9). Kedua yang tak tertolong itu, tertimpa reruntuhan tembok rumah, tidak sempat menyelamatkan diri karena bencana terjadi saat mereka terlelap tidur di malam hari.
Di Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, seorang lansia, Ni Made Rupet, 87, meninggal dunia setelah tembok rumahnya roboh akibat longsor. Kejadian serupa menimpa Ni Made Latip, 75, di Desa Temesi, yang juga tertimpa tembok.
Baca Juga: Saksi Tegaskan PT Dharma Nyata Press Dibeli Pakai Uang PT Jawa Pos
Selain menelan korban jiwa, longsor juga merusak rumah warga lain. Di Desa Mas, rumah milik Wayan Budiasa, seorang warga lajang dengan kondisi depresi, ikut terdampak. Beruntung, ia selamat dari musibah dan telah dievakuasi ke rumah tetangganya.
Bencana ini segera direspons Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Gianyar, (Sekkab, Ketua DPRD, Kapolres, dan perwakilan TNI). Mereka meninjau lokasi kejadian dan menyerahkan bantuan sembako kepada keluarga korban sebagai bentuk empati.
”Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa warga,” ujar Kapolres Gianyar AKBP Chandra C. Kesuma.
Kehadiran aparat dikatakan bukan hanya untuk melihat langsung kondisi di lapangan, tetapi mengecek penanganan berjalan baik. ”Kami memberikan dukungan moril kepada masyarakat,” terangnya.
Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, mengingat curah hujan yang masih tinggi.
Sementara itu, di beberapa lokasi lain di Gianyar, banjir juga menyebabkan sejumlah rumah terendam. Petugas telah mengevakuasi beberapa warga ke kantor desa untuk mengungsi.
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Gianyar Gusti Bagus Adi Widya Utama alias Gus Bem, menegaskan bahwa penanganan bencana ini melibatkan sinergi antara pemerintah, TNI, dan Polri. ”Ini bentuk sinergi kami. Membantu masyarakat untuk menuntaskan bencana,” jelas Gusti Bem, sapaan akrabnya. (dre/bas/dra/djo)
Editor : Hanif