PONTIANAK POST - Tim perekonomian pemerintah kembali menerbitkan kebijakan baru untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Para lulusan perguruan tinggi kategori fresh graduate kini bisa mengikuti program magang khusus. Gaji atau upahnya sekitar Rp 3,3 juta per bulan, ditanggung pemerintah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, program magang itu bakal dimulai pada kuartal IV 2025. Besaran gaji yang disebut sebagai uang saku itu sesuai dengan upah minimum provinsi (UPM). Sasarannya adalah 20 ribu lulusan D3, S1, dan pendidikan tinggi lainnya.
"Jadi nanti dari perguruan tinggi ada link and match dengan industrinya. Dan persyaratannya kan lulusan 1 tahun, jadi dari wisuda 1 tahun yang eligible untuk mengakses program tersebut," kata Airlangga.
Saat ini Kementerian Ketenagakerjaan bersama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sedang menyusun ketentuan teknisnya. Rencananya, program stimulus ini akan dijalankan selama 6 bulan.
Dia menjelaskan, pemerintah menyiapkan total anggaran Rp 396 miliar, dengan masing-masing Rp 198 miliar untuk 2025 dan 2026. "Kita berharap di kuartal IV bisa mulai," ujar politikus Golkar itu.
Program magang itu masuk dalam paket stimulus ekonomi yang mendapat alokasi Rp 16,23 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan defisit APBN 2025 tidak akan melebar meski pemerintah kembali mengucurkan paket stimulus tersebut. "Sudah ada uangnya, jadi bukan berarti defisit melebar," terangnya.
Dia mengaku telah menghitung penyerapan APBN saat ini. Apalagi, pemerintah memiliki sisa anggaran lebih (SAL) sekitar Rp 400 triliun. "Dari pada sisa, tinggal tiga bulan lagi mungkin enggak kepakai, saya pakai ke sana. Jadi ini hanya optimalisasi penyerapan anggaran supaya berdampak bagi perekonomian tanpa berubah defisit terlalu signifikan," bebernya.
Artinya, langkah itu merupakan optimalisasi belanja negara. Agar memberi efek ekonomi tanpa mengubah postur defisit secara signifikan. "Ini bukan menambah utang, melainkan mengoptimalkan anggaran agar tepat sasaran," tegas mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.
Purbaya yakin, percepatan pertumbuhan ekonomi dari stimulus ini akan mendongkrak penerimaan negara. Dengan rasio pajak yang konstan, peningkatan produk domestik bruto (PDB) akan berimbas pada penerimaan yang lebih besar.
Apindo Beri Apresiasi
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai program magang untuk fresh graduate merupakan langkah positif. Menurut dia, inisiatif itu bukan hanya meringankan beban perusahaan, tetapi juga membantu memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.
“Secara umum program ini positif karena beban gaji ditanggung pemerintah, sehingga perusahaan mendapat tambahan tenaga kerja tanpa menambah biaya langsung,” ujar Shinta saat dihubungi Jawa Pos kemarin.
Selain itu, dia menekankan, kehadiran fresh graduate bisa menjadi nilai tambah bagi perusahaan. “Mereka bisa menjadi sumber ide segar, inovasi, dan tenaga kerja muda yang adaptif. Bagi perusahaan, ini juga bisa menjadi sumber rekrutmen karena kinerja peserta magang bisa dinilai sebelum diputuskan untuk direkrut permanen,” jelasnya.
Meski demikian, Shinta mengingatkan, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan agar program ini tidak disalahgunakan. “Banyak lulusan masih perlu pelatihan dasar teknis dan soft skills, jadi perusahaan tetap harus menyiapkan program onboarding,” katanya.
Dia juga menegaskan, status magang harus dibedakan dengan hubungan kerja penuh waktu untuk menghindari risiko hukum. Selain itu, dia memberi catatan terkait teknis pelaksanaan. “Kalau mekanisme pencairan upah atau pelaporannya rumit, itu bisa menjadi hambatan bagi perusahaan. Dan yang paling penting, jangan sampai perusahaan hanya memanfaatkan magang sebagai tenaga gratis tanpa memberi pembelajaran yang layak,” tegasnya.
Shinta menilai pemerintah perlu mengarahkan program ini ke sektor-sektor yang strategis dan membutuhkan banyak tenaga kerja. “Untuk padat karya, sektor manufaktur seperti otomotif, elektronik, tekstil, juga konstruksi dan infrastruktur perlu diprioritaskan,” ujarnya.
Di sisi lain, sektor masa depan ekonomi Indonesia juga harus diperhatikan. “Energi baru dan terbarukan, teknologi digital, AI, fintech, kesehatan, dan farmasi adalah sektor strategis yang perlu mendapat dukungan,” ungkapnya.
Shinta menilai, sektor agribisnis, maritim, dan logistik juga penting untuk memperkuat daya saing nasional serta ekspor. Sedangkan sektor ekonomi kreatif dan UMKM seperti film, animasi, kuliner, fashion, dan desain, bisa membuka banyak peluang kerja baru. (agf/han/oni)
Editor : Hanif