Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pengamat Ingatkan Waspada Narasi Provokatif Jelang Peringatan G30S

Hanif PP • Rabu, 17 September 2025 | 10:12 WIB
Ridlwan Habib
Ridlwan Habib

PONTIANAK POST - Pengamat intelijen dan terorisme Ridlwan Habib mengingatkan masyarakat dan aparat keamanan untuk mewaspadai kemunculan narasi provokatif menjelang peringatan peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Ia menyebut narasi bernuansa komunisme klasik yang muncul belakangan ini lebih bersifat provokasi dan berpotensi merusak persatuan bangsa.

“Menjelang G30S, munculnya narasi-narasi seperti ini sangat berbahaya. Bisa dimanfaatkan pihak tertentu untuk memecah belah soliditas nasional,” kata Ridlwan, Senin (16/9).

Ridlwan menegaskan bahwa komunisme dalam bentuk klasiknya sudah tidak lagi relevan di Indonesia. Yang justru perlu diwaspadai saat ini adalah berkembangnya ide-ide ekstrem dari kelompok kiri jauh, seperti anarko-sindikalis, yang banyak digandrungi oleh sebagian kalangan muda.

“Gerakan ini membawa pemahaman yang menolak sistem pemerintahan, menolak lembaga negara seperti DPR, dan menganggap hukum tidak berlaku. Ini jelas membahayakan,” ujarnya.

Ia mencontohkan tindakan anarki seperti membakar fasilitas umum, merusak pos polisi, atau menyerang aparat sebagai bentuk nyata dari ancaman terhadap tatanan masyarakat. Ridlwan menekankan pentingnya penegakan hukum secara tegas untuk mencegah meluasnya aksi-aksi tersebut.

Meski demikian, Ridlwan optimistis bahwa kekuatan toleransi dan persatuan bangsa Indonesia masih sangat kuat. “Saya yakin, masyarakat kita secara umum masih memegang nilai-nilai toleransi yang tinggi,” katanya.

Namun, ia menyoroti tren narasi berbahaya yang mulai muncul di media sosial dan menyasar generasi muda, terutama Gen Z. Salah satunya adalah kampanye “eat the rich” yang dinilainya berpotensi disalahartikan dan disalahgunakan.

Menurutnya, fenomena ini mirip dengan yang terjadi di Nepal, di mana sentimen terhadap kalangan elit meningkat tajam akibat ketimpangan sosial. Di media sosial Indonesia, hal serupa mulai terlihat melalui sorotan terhadap gaya hidup mewah anak pejabat atau nepo baby.

“Ada akun-akun anonim yang memprovokasi agar kita meniru gerakan di Nepal, termasuk aksi sweeping terhadap orang kaya. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.

Ridlwan menilai, narasi seperti ini berbahaya jika tidak segera diredam. Ia mendorong tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam meredakan potensi konflik sosial di ruang digital.

Sebagai langkah konkret, Ridlwan mengapresiasi inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang menggagas Gerakan Nurani Bangsa. Gerakan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama seperti Quraish Shihab dan Ibu Sinta Nuriyah Wahid, guna memperkuat persatuan nasional.

“Kolaborasi lintas elemen sangat penting agar bangsa ini tidak mudah dipecah oleh provokasi. Kita harus tetap solid dan bersatu,” pungkas Ridlwan.(wan)

Editor : Hanif
#narasi provokatif #media sosial #pengamat #memecah belah bangsa #G30S #potensi