PONTIANAK POST - MBG (Makanan Bergizi) adalah program pemerintah yang bertujuan memastikan anak-anak sekolah mendapatkan makanan sehat dan bergizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal.
Program ini biasanya menyasar siswa di sekolah dasar dan menengah, dengan menu yang dikontrol kualitas gizinya agar anak mendapatkan asupan seimbang, seperti protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
MBG tidak hanya berfungsi sebagai penambah gizi, tetapi juga sebagai upaya pemerintah untuk mencegah malnutrisi dan meningkatkan kesehatan anak di lingkungan sekolah.
Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk penyedia pangan, sekolah, orang tua, dan pihak berwenang seperti Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.
Meski tujuan MBG jelas, program ini menghadapi sejumlah hambatan yang dapat berdampak pada kesehatan penerima manfaat. Berdasarkan keterangan pers M. Qodari, Kepala Staf Kepresidenan mengungkapkan terjadinya lonjakan tinggi kasus keracunan massal terjadi pada September 2025:
“Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus keracunan makanan terbesar. Faktor utama yang ditemukan antara lain higienitas makanan, ketidaksesuaian proses pengolahan, kontaminasi silang dari petugas, dan indikasi alergi pada siswa,” ujar M. Qodari, Kepala Staf Kepresidenan. Dilansir dari keterangan pers di M. Qodari di Gedung Bina Graha, Jakarta, pada Senin (22/9).
Qodari melampirkan data resmi dari berbagai instansi pemerintah saat jumpa pers, mencakup Data BPN terjadi 46 kasus dengan 5.080 penderita (per 17 September 2025), Data Kementerian Kesehatan (KMNK) terjadi 60 kasus dengan 5.207 penderita (per 16 September 2025), dan Data BPOM terjadi 55 kasus dengan 5.320 penderita (per 10 September 2025).
Kepala Staf Kepresidenan menambahkan kasus dapat ditekan bila SPPG memiliki regulasi dan sertifikasi yang jelas.
“Kasus ini dapat ditekan apabila Sertifikat Penyelenggara Pangan Gizi (SPPG) memiliki regulasi dan sertifikasi yang jelas. Pengawasan yang ketat terhadap penyedia pangan akan membantu menurunkan risiko keracunan di sekolah.” pungkasnya.
Kasus keracunan makanan pada program MBG yang terjadi di beberapa daerah menunjukkan bahwa aspek keamanan pangan masih menjadi tantangan serius. Agar tidak terulang kembali, penting bagi masyarakat untuk memahami tanda-tanda keracunan sejak dini serta langkah-langkah pencegahannya. Dengan begitu, siswa maupun orang tua bisa lebih waspada dan segera mengambil tindakan bila gejala muncul.
Gejala Keracunan Makanan
Menurut pedoman Kementerian Kesehatan RI, intoksikasi makanan dapat muncul dengan cepat setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala yang paling umum antara lain:
- Mual dan muntah, tubuh berusaha mengeluarkan zat berbahaya dari sistem pencernaan.
- Diare, buang air besar berulang dengan tekstur cair, berisiko menimbulkan dehidrasi.
- Nyeri atau kram perut, tanda adanya iritasi pada saluran pencernaan.
- Demam, sakit kepala, dan pusing, sebagai respon tubuh terhadap infeksi bakteri atau virus.
- Tubuh lemas, akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan.
Gejala ini bisa berbeda pada tiap orang, tetapi bila dibiarkan tanpa penanganan, kondisi bisa memburuk dan berisiko pada kesehatan jangka panjang.
Cara Pencegahan Keracunan Makanan
Keracunan makanan sebenarnya bisa dicegah jika semua pihak mulai dari orang tua, guru, penyedia makanan, hingga anak-anak itu sendiri lebih peduli terhadap kebersihan dan keamanan pangan.
Kementerian Kesehatan RI menekankan bahwa langkah pencegahan jauh lebih efektif daripada mengobati, karena dampak intoksikasi bisa sangat merugikan, terutama pada anak sekolah yang masih dalam masa pertumbuhan.
Berikut beberapa cara pencegahan yang bisa dilakukan:
1. Menjaga Kebersihan Tangan dan Peralatan
Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menyiapkan makanan adalah kunci utama mencegah kontaminasi.
Anak-anak juga perlu dibiasakan mencuci tangan sebelum makan di sekolah. Peralatan masak, piring, gelas, dan sendok garpu harus dicuci bersih dan tidak digunakan bergantian tanpa dibersihkan terlebih dahulu.
2. Memasak Hingga Matang Sempurna
Banyak bakteri berbahaya mati saat terkena panas tinggi. Oleh karena itu, makanan seperti daging, ayam, ikan, dan telur harus dimasak sampai benar-benar matang.
Makanan setengah matang berisiko besar mengandung bakteri Salmonella atau E. coli yang bisa memicu keracunan.
3. Menyimpan Makanan dengan Benar
Makanan yang tidak langsung dikonsumsi harus disimpan pada suhu yang sesuai.
Misalnya, lauk yang sudah matang sebaiknya disimpan di lemari pendingin bila tidak akan segera dimakan.
Penyimpanan di suhu ruang terlalu lama bisa membuat bakteri berkembang biak dengan cepat.
4. Menghindari Kontaminasi Silang
Kontaminasi silang terjadi ketika makanan mentah bersentuhan dengan makanan matang, baik melalui tangan, peralatan, atau talenan.
Contohnya, menggunakan pisau yang sama untuk memotong ayam mentah dan buah tanpa mencucinya terlebih dahulu. Hal kecil seperti ini bisa jadi sumber keracunan.
5. Memastikan Bahan Pangan Aman dan Segar
Pilih bahan makanan dari sumber yang jelas dan terpercaya.
Sayur dan buah harus dicuci bersih, sementara daging atau ikan sebaiknya dipastikan masih segar.
Hindari membeli makanan dengan kemasan rusak, kedaluwarsa, atau tidak ada label izin edar dari BPOM.
6. Edukasi Anak untuk Tidak Jajan Sembarangan
Anak-anak sering tergoda membeli jajanan di luar sekolah. Padahal, tidak semua jajanan terjamin kebersihannya.
Orang tua dan guru perlu mengingatkan anak agar lebih selektif, misalnya hanya membeli makanan yang terlihat bersih dan dimasak langsung di tempat.
7. Pengawasan Ketat pada Program Pangan Sekolah
Untuk program seperti MBG, penyedia makanan wajib memiliki standar higienitas yang jelas dan tenaga penyaji yang sudah mendapat pelatihan keamanan pangan.
Pemerintah dan sekolah perlu rutin melakukan pengawasan agar makanan yang disajikan benar-benar aman untuk dikonsumsi. (*)
Editor : Miftahul Khair