PONTIANAK POST - S mengenal terduga pelaku peledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta Utara saat salat Jumat, kemarin (11/7) sebagai sosok yang kerap jadi korban bullying atau perundungan. S, murid kelas XI sekolah yang berada di kompleks perumahan TNI AL Kelapa Gading itu, juga mengaku mendengar dua ledakan.
Ledakan tersebut diduga dari bom molotov. Ada satu kaleng minuman bersoda yang di dalamnya juga diduga bom yang gagal meledak. "Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri," kata S, seperti dikutip dari Antara, kemarin (7/11).
Belum ada keterangan resmi sampai pukul 19.00 tadi malam dari kepolisian tentang siapa terduga pelaku tersebut dan apakah dia masih dalam perawatan atau sudah meninggal. Kabarnya, siswa tersebut kelas XII.
S mengaku berada di selasar masjid, jadi tidak terkena dampak ledakan. “Baju saya kotor karena menolong teman," katanya.
Masih menurut kesaksian S, ledakan terjadi ketika khutbah selesai dan Iqamah hendak dikumandangkan. Sebanyak 55 orang terluka dan dilarikan ke sejumlah rumah sakit.
Para jemaah mayoritas siswa dan guru. Toto, salah seorang guru, mengaku berada di belakang imam. “Ledakannya cukup besar. Semua bubar dan sejumlah siswa terluka," katanya.
Tiga Nama di Senjata
Beredar foto di berbagai platform yang menampilkan satu senjata laras panjang dan satu pistol. Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Budi Hermanto membenarkan adanya benda yang menyerupai senjata api di tempat kejadian perkara.
"Kita belum bisa memastikan rakitan atau pabrikan, tapi benar ada benda seperti senjata," katanya.
Di senjata tersebut tertulis tiga nama pelaku penembakan masjid di luar negeri. Mereka adalah Brenton Tarrant (Selandia Baru), Alexandre Bissonnette (Kanada), dan Luca Traini (Italia). "Senjata ditemukan di dekat dua korban," paparnya.
Brenton Tarrant, warga Australia, adalah pelaku dua penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019. Penembakan tersebut juga dilakukan saat salat Jumat, pertama di Masjid Al Noor di Riccarton, kemudian di Linwood Islamic Center. Total 51 orang meninggal syahid dan 89 lainnya luka-luka.
Luca Traini pelaku penembakan di Macerata, Marche, Italia, pada 3 Februari 2018. Dia menembak enam imigran asal Afrika. Traini juga menargetkan markas besar Partai Demokrat Italia.
Sedangkan Alexandre Bissonnette adalah pelaku penembakan di Masjid Pusat Kebudayaan Islam Kota Quebec, Kanada, pada 29 Januari 2017. Enam orang meninggal dan lima lainnya terluka parah akibat serangan setelah salat Maghrib itu.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri awalnya menyebutkan kalau ada 54 orang luka ringan dan sedang serta sebagian sudah pulang. “Sementara itu dulu, nanti kalau ada perkembangan lebih lanjut diinfokan lagi. Kami membuka dua posko di RS Yarsi dan RS Islam Cempaka Putih," kata Asep saat memberikan keterangannya di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Ketika mendampingi Gubernur Jakarta Pramono Anung dalam jumpa pers berikutnya, Asep meng-update jumlah korban menjadi 55 orang. Polda Metro Jaya telah melakukan pengamanan TKP dengan memberikan garis polisi. Sterilisasi juga telah dilakukan tim penjinak bom.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budhi saat jumpa pers di Polda Metro Jaya menjelaskan bahwa olah tempat kejadian perkara (TKP) juga telah dilakukan pihaknya. "Kegiatan olah TKP dinyatakan selesai jam 21.00 WIB," ujarnya. Hasil olah TKP tersebut akan disampaikan pada Sabtu (8/11).
Terpisah, Wakapolri Komjenpol Dedi Prasetyo menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sudah dilapori perkembangan peristiwa tersebut.
Menanggapi insiden ini, Presiden RI Prabowo Subianto meminta agar penanganan terhadap para korban ledakan di SMA Negeri 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara menjadi prioritas utama.
"Beliau tadi pertama bereaksi untuk prioritas ke korban, penanganan korban," kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Merdeka, kemarin. Prasetyo menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menaruh perhatian besar terhadap peristiwa itu.
Kepala Negara, kata dia, juga mengingatkan agar peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi semua pihak untuk lebih waspada serta peduli terhadap lingkungan sekitar, baik di rumah maupun di sekolah.
Kewaspadaan masyarakat dinilai penting untuk mencegah hal-hal yang berpotensi menimbulkan bahaya.
"Jika ada hal-hal yang dirasa mencurigakan atau ada hal-hal yang mungkin berpotensi untuk hal-hal yang tidak baik, untuk kita semakin peduli baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah," kata Prasetyo.
Welcome to Hell
Mayoritas korban luka karena terkena serpihan dari ledakan. Sejumlah lainnya mengalami luka bakar. Usai ledakan, muncul video di X yang menampilkan pemuda yang terluka parah. Pemuda itu memakai kaos putih dan celana hitam.
Sejumlah aparat terlihat mengevakuasi pemuda tersebut. Belum ada konfirmasi resmi apakah pemuda itu terduga pelaku. Namun, di dekatnya tersebut terdapat senjata api. Pada bagian selongsong senjata itu tertulis, “14 Words. For Agartha.” Sementara di badan senjata juga terdapat tulisan, “Brenton Tarrant. Welcome to Hell (selamat datang di neraka).”
Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam) Lodewijk Freidrich Paulus menyatakan telah melihat langsung kedua senjata itu. “Senjata mainan, bukan senjata beneran” katanya saat mengunjungi SMAN 72.
Mainan yang dimaksud Lodewijk, barangkali, adalah air soft gun. Sementara itu, Kadispenal Laksma TNI, Tunggul menuturkan, pihaknya turut berduka cita atas kejadian di SMAN 72. "Kejadian tersebut di kompleks TNI AL," terangnya.
Menurutnya, musibah tersebut terjadi pukul 12.15. Sejumlah personel TNI AL membantu melakukan pertolongan pertama kepada para korban dengan membawa mereka ke sejumlah rumah sakit. Untuk kronologi kejadian, TNI AL dan Polri masih melakukan pendalaman.
"Baik mengenai penyebab ledakan maupun pelakunya," paparnya dalam keterangan tertulisnya. (idr/ygi/bry/ttg/ant)
Editor : Hanif