Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

15 Tahun Mengabdi, dr. Michael Leksodimulyo Hadir untuk Kaum Dhuafa Lewat Layanan Kesehatan dan Sosial

Hanif PP • Selasa, 18 November 2025 | 10:02 WIB
DEDIKASI: Michael Leksodimulyo dalam program mobil pintar untuk mengajar anak-anak gemar membaca.
DEDIKASI: Michael Leksodimulyo dalam program mobil pintar untuk mengajar anak-anak gemar membaca.

Sudah lima belas tahun dr. Michael Leksodimulyo MBA M.Kes mendedikasikan hidupnya untuk melayani warga kurang mampu. Ia hadir di 167 komunitas dhuafa, memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga pelatihan kerja.

Juliana Christy Kakiay, Surabaya

Perjalanan pengabdiannya dimulai setelah bertahun-tahun berkarier di dunia medis. Setelah bertugas di RS Gotong Royong dan RS Adi Husada Undaan Surabaya, Michael mendapat beasiswa S2 di Pascasarjana Universitas Airlangga. Namun, di balik karier mapan itu, hatinya justru terpanggil untuk melayani kaum dhuafa.

“Saya melihat masih banyak saudara kita yang tidak tersentuh pelayanan kesehatan. Dari situlah saya merasa harus turun langsung,” kenangnya, saat ditemui pekan lalu.

Lewat Divisi Community Health (Comhealth), ia membangun sistem pelayanan kesehatan gratis bagi warga miskin. Dari pos kesehatan di gang sempit hingga kawasan padat, tim kecilnya membuka klinik dengan biaya sukarela dan konsultasi gratis setiap hari melalui WhatsApp.

Pelayanan ini kemudian berkembang ke bidang sosial dan kemanusiaan lain dan menjangkau 167 komunitas dhuafa. Dari pendidikan (ComEdu), pelatihan kerja (ComDev), hingga panti asuhan dan panti werdha.

Bersama relawan dan tenaga medis muda, Michael juga menggagas mobile clinic (klinik berjalan), bekerja sama dengan puskesmas dan komunitas ibu-ibu KSH (Kader Surabaya Hebat). Kegiatan preventif seperti senam sehat dan medical check-up rutin digelar di berbagai titik.

“Kami ingin warga tidak hanya berobat ketika sakit, tapi juga belajar menjaga kesehatannya,” jelasnya.

 

Kisah Tak Terlupakan

Dari ribuan pasien yang pernah ia tangani, satu kisah tak pernah ia lupakan: seorang pasien yang tiga tahun tak pernah mandi karena penyakit kulit parah. “Tubuhnya penuh jamur. Kami potong rambutnya, memandikannya, mengobati sampai sembuh total. Rasanya luar biasa melihat dia bisa tersenyum dan percaya diri lagi,” tutur Michael.

Kisah lain datang dari seorang lansia penderita TBC yang sempat muntah darah. Selama hampir setahun, ia dan tim melakukan pendampingan intensif hingga pasien itu dinyatakan sembuh.

Beberapa waktu kemudian, pasien tersebut datang digendong keluarga ke tempat praktik Michael hanya untuk mengucapkan terima kasih. “Tidak lama setelah itu, beliau berpulang di ruang praktik saya. Itu momen yang membuat saya menangis,” tutur Michael dengan mata berkaca-kaca.

Kini, kiprahnya berlanjut di jalur kebijakan publik. Sebagai anggota DPRD Kota Surabaya, Michael mengawal program pro-rakyat di Komisi D yang membidangi kesehatan, pendidikan, sosial, dan tenaga kerja. “Pahlawan masa kini adalah mereka yang berjuang mengusir kemiskinan. Dengan ilmu dan talenta kita, jadikan itu ‘bambu runcing’ baru menuju masyarakat sejahtera,” tegasnya.

Visinya sederhana: Setiap anak bisa sekolah gratis, setiap warga mendapat layanan kesehatan layak, lansia dan difabel tidak lagi terpinggirkan. “Saya hidup untuk menghidupkan orang lain yang berkekurangan dengan cinta dan ketulusan. Itu panggilan hidup saya,” tuturnya. (*/ttg)

Editor : Hanif
#michael leksodimulyo #Mengabdi #komunitas #tenaga medis #pelatihan kerja #dedikasi #Dhuafa #Warga Kurang Mampu