Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Banjir dan Longsor Sumatera: 969 Korban Tewas, Banyak Desa Masih Terisolasi

Hanif PP • Kamis, 11 Desember 2025 | 10:27 WIB

 

BANTU KORBAN BANJIR: Tim Polri Membantu menyeberangkan korban banjir bandang di Batang Toru, Kabupaten Tapanulis Selatan pada Rabu (10/12).
BANTU KORBAN BANJIR: Tim Polri Membantu menyeberangkan korban banjir bandang di Batang Toru, Kabupaten Tapanulis Selatan pada Rabu (10/12).

PONTIANAK POST - Sudah dua pekan banjir bandang dan tanah longsor memporakporandakan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun, penanganan dampak bencana belum juga beres. Masih banyak korban bencana yang belum mendapat bantuan. Meski demikian, sejumlah akses yang sempat putus mulai tersambung kembali.

Dari Aceh, Gubernur Muzakir Manaf (Mualem)  mengunjungi Kabupaten Aceh Singkil, Selasa (9/12). Ia berada di daerah tersebut hingga kemarin (10/12) untuk menjangkau wilayah-wilayah yang terdampak banjir. ‎‎Gubernur ingin memastikan penanganan tanggap darurat berjalan efektif.

Dikutip dari Rakyat Aceh, Mualem meninjau langsung sejumlah titik banjir serta menyalurkan bantuan bagi masyarakat. Mualem juga meninjau banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Ini merupakan kunjungan keduanya ke wilayah tersebut. Ia ingin memastikan pendataan kerugian, percepatan penanganan, dan tahapan pemulihan pascabencana berjalan tepat sasaran.

Akses di Solok Mulai Terbuka

Akses utama di Jorong Batuputiah, Nagari Alahanpanjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, yang terputus akibat longsor pada 28 November 2025 mulai tersambung kembali. Warga bersama TNI, Polri, serta pegawai pemerintah setempat bergotong-royong membuka kembali jalur tersebut.

Longsor sebelumnya merusak badan jalan sepanjang sekitar 30 meter, menyulitkan distribusi barang dan aktivitas harian warga. Proses perbaikan semakin terbantu setelah seorang warga menyumbangkan alat berat beserta biaya operasionalnya.

“Alhamdulillah, berkat kerja keras bersama, kendaraan roda dua sudah bisa melewati jalan ini. Mudah-mudahan besok roda empat bisa lewat,” ujar Camat Lembah Gumanti Andi Sofiani kepada Padang Ekspres. Upaya pemulihan dilakukan dengan menimbun material, memperkuat tebing, dan membentuk ulang badan jalan yang tergerus longsor. Hingga sore, pekerjaan masih berlanjut untuk memastikan jalur benar-benar aman dilewati kendaraan.

 

Langkat Hilir Masih Terkendala Akses

Jalan Lintas Padangtualang-Batangserangan dari Tanjung Beringin masih terputus akibat banjir. Aktifitas masyarakat di Langkat Hilir yang meliputi Padangtualang, Batangserangan, dan Sawitseberang pun terhambat. Sebab, jalan itu merupakan akses utama masyarakat menuju Kecamatan Hinai, Wampu, hingga Stabat dari Padangtualang.

Amblasnya jalan tersebut juga sudah ditinjau Gubernur Sumut Bobby Nasution beserta Bupati Langkat Syah Afandin. Sebelumnya, masyarakat setempat melakukan perbaikan secara mandiri pada jalan yang amblas. Namun, kala itu hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas. Kini, kendaraan roda empat sudah boleh melintas.

Banjir yang melanda Kabupaten Langkat mengakibatkan sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur rusak. Pantauan Sumut Pos, separo lebih daerah atau 16 kecamatan di Langkat yang terdampak bencana tersebut. Jembatan, jalan, hingga bendungan jebol akibat diterjang banjir. Kecamatan Tanjungpura dilaporkan menjadi daerah terdampak paling parah.

Baca Juga: Banjir Rob Rendam Empat Desa di Sukadana Polres–Basarnas Evakuasi Warga

Distribusi Bantuan Terus Berjalan

Salah satu titik terdampak banjir bandang di Kota Padang adalah kompleks perumahan Griya Permata II Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo. Aktivis masyarakat masih lumpuh. Namun, bantuan sudah datang.

Pantauan Jawa Pos, bantuan yang masuk dikumpulkan di rumah warga. Distribusi bantuan dilakukan dengan skema warga bantu warga. Seluruh bantuan yang diterima dikumpulkan dan dibagikan oleh warga sendiri. Bantuan itu antara lain berupa beras kemasan 5 kg, biskuit, susu bayi, air mineral, dan makanan siap santap. Ada pula karpet untuk alas tidur dari Kementerian Kehutanan (Kemehut).

Defri Yanto, koordinator warga, mengatakan bahwa sejatinya sudah ada dapur umum. Namun, dapur umum tidak akan berjalan lama. "Sementara perkiraan kami, kondisi bisa kembali normal sampai Februari tahun depan," jelasnya.

Yanto mengatakan, pembagian bantuan berjalan normal. Dia menegaskan warga tidak perlu menyerahkan kartu keluarga (KK) untuk pendataan. "Karena air masuk sampai rumah," katanya. Warga cukup didata gang dan nomor rumah masing-masing.  Di sisi lain, sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatera mengalami perubahan akibat banjir bandang. Karena itu, pemerintah segera melakukan revitalisasi untuk menekan risiko bencana serupa di kemudian hari.

Kepala Seksi Perencanaan dan Evaluasi BPDAS Agam Kuantan Kemenhut Anton Sudarwo mengatakan, khusus di kawasan kerjanya ada 15 DAS yang terdampak. Ke-15 DAS itu meliputi banyak kabupaten dan kota yang masih di dalam naungan BPDAS Agam Kuantan.

Menurut Anton, upaya revitalisasi DAS bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalnya dengan penanaman pohon. Namun, butuh waktu lama untuk memperbaiki kualitas DAS agar kembali ke kondisi awal. Cara lainnya bisa dilakukan dengan pembangunan dam buatan. Tujuannya untuk mengontrol air yang turun ketika ada hujan dengan intensitas tinggi. "Pembuatan dam itu kewenangan Kementerian PU," jelasnya.

Anton mengatakan, karakteristik tanah di hulu DAS Kuranji 90 persen kambisol. Ciri khasnya adalah berpasir. Tanah kambisol lebih cepat menyerap air. Tetapi ketika ada hujan dengan intensitas yang tinggi, mudah longsor. "Tanah kambisol ini istilahnya tanah muda," katanya.

Dia menjelaskan di kawasan hulu sungainya semula selebar sekitar 15 meter. Setelah ada banjir bandang beberapa hari lalu, lebarnya bertambah jadi 150 meter. Otomatis tanaman yang ada di sisi kanan dan kiri sungai terbawa longsoran sampai ke permukiman masyarakat.

 

Sumut Belum Pulih

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Utara, Direktorat Jenderal Bina Marga, melaporkan perkembangan terbaru penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda 11 kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Hingga Selasa (9/12) pukul 20.00 WIB, total kerusakan yang berhasil diinventarisasi mencakup 171 titik longsor tebing, 27 titik jalan putus, 38 titik jalan amblas, 4 oprit jembatan putus, dan 28 titik banjir.

Dari keseluruhan titik terdampak, 222 titik berhasil ditangani. Penanganan tersebut meliputi 163 titik longsor yang sudah dibersihkan, 10 titik jalan putus yang dapat dilalui kembali, 18 titik amblas yang sudah distabilkan, serta 3 oprit jembatan yang selesai diperbaiki. Sementara itu, seluruh 28 titik banjir telah surut dan dinyatakan aman dilalui.

BBPJN Sumut menyebut masih ada empat koridor utama yang terputus, yakni, Tarutung–Sibolga, Tarutung–Sipirok, Sibolga–Batangtoru, dan Batangtoru–Singkuang. Kerusakan terparah berada di jalur Tarutung–Sibolga yang memiliki 96 titik terdampak, serta Tarutung–Sipirok dengan 54 titik.

Pada jalur Tarutung–Sipirok, 50 titik sudah tertangani, menyisakan satu titik putus di STA 10+125 yang kini sedang disiapkan badan jalan sementaranya. Di jalur Tarutung–Sibolga, 78 titik telah berhasil dibuka kembali, namun satu longsoran besar sepanjang 100–150 meter masih belum dapat dikerjakan karena keterbatasan akses alat berat.

BBPJN Sumut menegaskan bahwa upaya pemulihan jalur strategis akan terus dipercepat. “Kami bekerja 24 jam dengan seluruh sumber daya agar seluruh akses masyarakat dapat pulih secepat mungkin,” tegas BBPJN, dikutip dari Sumut Pos. Sementara itu, kondisi jalan nasional Tarutung–Sibolga hingga kini masih belum bisa dilewati karena longsor di sejumlah titik. Namun BPBD menyebutkan bahwa proses pembukaan akses dari arah Tarutung terus berlangsung dan sudah tembus hingga Kantor Camat Sitahuis.

Camat Sitahuis, Marihot Simbolon, mengatakan bahwa beberapa desa di wilayahnya masih terisolasi akibat jalan amblas dan tertutup longsor. Misalnya, jalan dari Sibolga menuju Tarutung masih tersumbat di kawasan Batu Lubang, Desa Simaninggir. Jalur nasional Rampa–Poriaha juga masih belum dapat dilalui hingga saat ini.

Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Masinton Pasaribu mengungkap, pihaknya masih membutuhkan banyak alat berat untuk percepatan pembukaan akses di wilayah terisolir. Hingga kemarin masih ada 19 desa yang terisolir di sejumlah kecamatan.

 

Tanggap Darurat Terus Berjalan

Pemprov Sumut memutuskan untuk memperpanjang masa tanggap darurat selama dua minggu ke depan. Keputusan itu diambil setelah setelah laporan menunjukkan bahwa 18 kabupaten/kota masih belum pulih.  Hal tersebut disampaikan Ketua Harian Posko Darurat Bencana Sumut Basarin Yunus Tanjung, di Posko Darurat Bencana Sumut, Jalan AH Nasution, Kota Medan, Rabu (10/12).

Basarin Tanjung menyampaikan bahwa perpanjangan status ini diperlukan untuk menyempurnakan dan mempercepat tindakan tanggap darurat di daerah terdampak. Ia menjelaskan bahwa beberapa wilayah masih memerlukan perhatian serius, termasuk Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Curah hujan yang masih tinggi, seperti di Desa Garoga, membuat langkah tanggap darurat tetap dibutuhkan.

Adapun sejumlah daerah yang direkomendasikan perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana antara lain Tapsel, Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Langkat.  Selain perpanjangan masa darurat, rapat evaluasi juga membahas persiapan logistik untuk mengantisipasi prakiraan cuaca ekstrem. “Kami mempersiapkan langkah distribusi logistik, baik dari posko di provinsi hingga kabupaten, untuk menghadapi prakiraan curah hujan yang cukup tinggi antara tanggal 8 hingga 15 Desember 2025,” ujarnya. Akses menuju beberapa desa terdampak juga masih terbatas karena hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki.

 

Korban Tewas

Korban meninggal dunia akibat banjir di Sumatera dari data terbaru BNPB, hingga Rabu (10/12) malam, tercatat sebanyak 969 orang. Sedangkan, 252 jiwa lainnya masih hilang dan terus dilakukan pencarian. Sementara di Langkat korban jiwa yang ditemukan juga bertambah, Rabu (10/12). Semula dilaporkan 11 orang meninggal dunia, kini sudah menjadi 13 orang.

Kepala BPBD Kabupaten Langkat Muhammad Ansyari mengatakan, saat ini kondisi air masih mencapai 50 sampai 100 centimeter di Tanjungpura dan Hinai. "Pemerintah sudah mendistribusikan bantuan logistik dan air bersih serta pemeriksaan kesehatan di setiap posko pengungsian," kata Ansyari.

BPBD Sumut melaporkan bahwa jumlah korban terus bertambah. Hingga Rabu (10/12) pukul 17.00 WIB, tercatat 342 orang meninggal dunia, 98 orang masih hilang, dan 681 orang mengalami luka-luka. Bencana ini berdampak luas di 12 kabupaten/kota, yaitu: Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Kota Medan, Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, dan Nias Selatan. Beberapa wilayah mengalami dampak paling parah, dengan Tapanuli Tengah menjadi daerah dengan korban terbanyak, yakni 111 orang meninggal, 93 hilang, dan 555 luka-luka. (san/ted/ila/dwi/wan/rao/oni)

Editor : Hanif
#longsor #rakyat aceh #sumatera #banjir #korban tewas