PONTIANAK POST - Prosedur operasional mobil pengangkut Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah jadi sorotan publik. Sebab, dalam beberapa hari terakhir, sederet insiden kecelakaan fatal terjadi.
Belum reda kasus mobil MBG yang menabrak sejumlah murid di Jakarta, kecelakaan yang melibatkan armada mitra SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) terjadi lagi. Terakhir di Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.
Mobil boks SPPG Pakisputih terguling seusai menabrak pagar rumah warga di Jalan Raya Pakisputih kemarin (12/12). Tak ada korban jiwa, namun peristiwa ini menyebabkan ratusan porsi MBG gagal terdistribusi.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 07.30 WIB. Bermula ketika mobil boks bernopol G 9209 LZ itu hilang kendali saat menikung. ”Lalu menabrak pagar rumah warga, lalu terguling ke kanan," ungkap Kanit Gakkum Satlantas Polres Pekalongan Ipda Ambar Ady Widyantara.
Aparat kepolisian yang tiba di lokasi langsung melakukan serangkaian pemeriksaan. Sang pengemudi, Rus, 63, warga Desa Tosaran, Kedungwuni, juga diinterogasi. Hasilnya, diketahui dia tidak memiliki SIM A.
Saat ditemui di Polsek Kedungwuni, Rus tidak banyak bicara soal penyebab kecelakaan yang dialaminya. Dia hanya menjawab singkat, ”Ya, karena apes saja,” ujarnya.
Peristiwa ini membuat distribusi MBG di 8 sekolah mulai dari PAUD, SD, dan Posyandu dibatalkan. Total ada 569 porsi kecil, 388 porsi besar, dan 18 porsi sampel yang urung dibagikan.
Kasatlantas Polres Pekalongan AKP Rony Hidayat menyampaikan pihaknya akan mendata ulang kelayakan armada dan sopir seluruh SPPG di Pekalongan. Terlebih dalam kejadian ini, sopir tak memiliki SIM A.
Janji Perbaikan SOP
Di bagian lain, insiden mobil MBG yang menabrak murid di Jakarta mendapatkan perhatian banyak pihak. Pemerintah memastikan bakal melakukan evaluasi. ”Tentu kita sangat bersedih," ujar Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar saat ditemui usai ground breaking ponpes Al-Khoziny di Sidoarjo kemarin.
Dia meminta agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap petugas pengirim MBG. Termasuk kelaikan kendaraan. Sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi. ”Jangan sampai nyetir dalam keadaan ngantuk atau tidak fit," tegasnya.
Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa pelayanan MBG di SDN Kalibaru 01, Cilincing sudah berjalan baik sejak 24 Maret. Namun, sopir reguler jatuh sakit dan digantikan oleh sopir cadangan.
”Setelah kami cek, sopirnya memiliki SIM. Mungkin kurang berpengalaman. Tapi kami tetap masih mendalami penyebabnya,” ujar Dadan di Jakarta.
Hasil pemeriksaan awal dari pihak kepolisian menunjukkan bahwa kendaraan mitra SPPG tersebut dalam kondisi prima. Namun, berdasarkan keterangan lapangan, sopir pengganti diduga dalam kondisi kurang fit akibat kurang tidur sehingga memicu human error.
Sebagai langkah pencegahan, BGN memperketat SOP kendaraan, termasuk mekanisme penggantian sopir cadangan. ”Kejadian ini menjadi insight baru bagi BGN dan kepala SPPG agar lebih cermat mengganti atau memilih sopir cadangan yang kualifikasinya sama,” tutur Dadan.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menegaskan bahwa BGN berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan. ”Kami juga melakukan investigasi internal bersama kepolisian untuk memastikan kejadian seperti ini tidak terulang,” ujar Hida.
Selain itu, dengan kejadian itu ada komitmen memperbaiki seluruh aspek terkait SOP, termasuk mekanisme penggantian sopir dan pengecekan kendaraan. “Selain itu memastikan standar keamanan layanan MBG diterapkan maksimal,” tutur Hida. (nra/lyn/ris)
Editor : Hanif