PONTIANAK POST - Pemulihan daerah-daerah korban banjir bandang dan tanah longsor butuh waktu yang tidak sebentar. Saat ini sejumlah daerah masih fokus pada pembersihan puing sisa banjir.
Di Sumatera Barat, salah satu daerah terdampak parah adalah Kelurahan Tabiang Banda Gadang (TBG) di Kota Padang. Hingga kemarin, pembersihan kota belum juga tuntas. Wali Kota Padang Fadly Amran kemarin meninjau langsung kondisi Kelurahan TBG. Dia sekaligus memimpin aksi gotong royong pembersihan sisa material banjir bandang. Kegiatan tersebut melibatkan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Padang.
“Dengan bekerja bersama, kami berharap proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat,” ujar Fadly Amran.
Pemkot Padang juga memprioritaskan penyediaan hunian bagi para korban. Fadly Amran mengungkapkan, sebagian warga terdampak telah direlokasi ke hunian sementara (huntara) yang disiapkan di kawasan Lubuk Buaya. Pemkot kini mengupayakan langkah lanjutan berupa pembangunan hunian tetap (huntap).
Pemprov Sumbar juga berusaha mempercepat penanganan dampak bencana. Sejumlah alat berat dikerahkan ke berbagai daerah. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumbar Rifda Suriani menyebutkan, sebanyak 35 unit alat berat dan 940 geobag telah diturunkan ke lokasi terdampak.
Terbaru, tiga unit alat berat dikerahkan ke kawasan Batu Busuak, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Alat tersebut digunakan untuk normalisasi aliran sungai dan penanganan dampak banjir bandang. “Kami memaksimalkan penanganan di lapangan,” ujar Rifda Suriani di Padang, Sabtu (13/12). Bencana hidrometeorologi tersebut berdampak signifikan terhadap infrastruktur sumber daya air. Tercatat 24 unit bendung irigasi terdampak, disertai kerusakan seawall dan jaringan irigasi. “Kerusakan akumulatif mencapai 6,9 kilometer seawall dan 3,5 kilometer saluran irigasi. Perbaikan sudah dimulai bertahap bersamaan dengan normalisasi sungai,” jelas Rifda.
Garap Akses Darat di Aceh
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, jalur transportasi darat di Aceh dapat dilalui mulai awal pekan depan. Hal itu berkat percepatan penanganan bencana yang difokuskan pada distribusi logistik serta pemulihan akses jalan nasional dan jembatan.
Optimalisasi jalur darat dinilai krusial untuk meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan yang hingga kini masih banyak bergantung pada jalur udara.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, terbukanya akses jalan dan jembatan akan menjadi game changer dalam penanganan logistik. Dengan akses darat yang berfungsi, volume bantuan yang dikirim dapat meningkat signifikan sekaligus menekan ketergantungan pada distribusi udara yang terbatas kapasitas dan kondisi cuaca.
“Kita harapkan awal minggu depan jalur darat sudah dapat dioptimalkan sehingga tonase bantuan bisa meningkat secara signifikan,” ujar Abdul Muhari kepada Harian Rakyat Aceh, Minggu (14/12/2025).
Sejumlah titik konektivitas utama di Aceh mulai menunjukkan progres positif. Akses Jalan Nasional Pidie Jaya–Bireuen kini telah tersambung setelah Jembatan Krueng Meureudu dibuka pada 12 Desember 2025. Meski masih dalam tahap perbaikan, jembatan tersebut sudah fungsional dan dapat dilalui kendaraan.
Sementara itu, akses Pidie–Aceh Tengah melalui Geumpang–Pameu–Simpang Uning masih terputus. Muhari mengatakan, kendaraan roda empat baru dapat mencapai Kecamatan Rusip Antara. Belum tembus hingga Takengon. Di jalur ini ada tiga jembatan yang putus. Pembersihan material berukuran besar masih berlangsung.
Untuk ruas Aceh Tengah–Nagan Raya melalui Lhok Seumot–Jeuram, kendaraan roda dua sudah dapat melintas. Proses penimbunan oprit dan badan jalan terus dikebut agar akses tersebut dapat segera difungsikan penuh. Pemerintah menargetkan ruas ini rampung pada 17 Desember 2025.
Adapun akses Gayo Lues–Aceh Tenggara via Kutacane masih terputus akibat dua jembatan putus serta longsor dan amblas pada badan jalan. Penimbunan oprit dan pemasangan jembatan Bailey terus dilakukan. Satu titik kritis di STA 14+400 kini telah terhubung dan dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat.
Muhari menyebutkan, perbaikan infrastruktur dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan aparat keamanan, dinas teknis, serta organisasi kemanusiaan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat dan mengamankan distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Untuk pemulihan jembatan, BNPB mencatat kemajuan signifikan di sejumlah titik. Muhari mengatakan bahwa perbaikan Jembatan Teupin Reudeup dan Jembatan Teupin Mane di Kabupaten Bireuen telah mencapai 90 persen.
"Namun, beberapa jembatan masih terkendala cuaca, seperti Jembatan Kuta Blang di Bireuen yang progresnya baru 40,7 persen, serta Jembatan Jeurata di Aceh Tengah yang masih berada pada tahap awal perbaikan," jelasnya. (sep/hen/oni)
Editor : Hanif