PONTIANAK POST - Kenaikan berlipat jumlah pengunjung di Jogjakarta dan Batu diprediksi akan terus terjadi sampai momen pergantian tahun ini. Jalan tol, adaptifnya pelaku usaha yang terkait pariwisata, dan terakomodasinya semua segmen wisatawan adalah beberapa faktor yang berperan.
BAGI Ribut Wahyudi yang telah tinggal dan bekerja di Jogjakarta sejak 2001, akhir tahun seperti ini adalah waktu untuk "tahu diri." Dia akan memilih menepi ke rumah yang ditempati keluarganya di Temanggung, Jawa Tengah, atau bersama keluarga berwisata ke luar Jogja. “Kalau warga Jogja asli, setahu saya, biasanya memilih diam di rumah. Memberi kesempatan pada para wisatawan untuk menikmati suasana Jogja,” kata pemilik sebuah penerbitan buku itu kepada Jawa Pos kemarin (26/12).
Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) seperti sekarang ini, Jogjakarta memang tengah kedatangan tamu dari seluruh Nusantara. Terlebih tahun ini kenaikannya berlipat-lipat, yang sampai memunculkan ungkapan “Satu Indonesia ke Jogja semua.”
Di Malioboro, Kota Jogja, misalnya, angka kunjungan harian bisa menyentuh 100 ribu wisatawan. Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Jogja Fitria Dyah Anggraeni yakin kalau jumlah kunjungan ke kawasan ikonik itu bisa lebih besar lagi mendekati masa akhir tahun. Bahkan, total kunjungan hingga tanggal 4 Januari 2026 mendatang diprediksi menyentuh kisaran 1,4 sampai 1,5 juta wisatawan.
Atau naik hampir tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. “Sebab, berdasar data Badan Pusat Statistik tahun 2024, jumlah wisatawan yang mengunjungi Malioboro selama dua pekan libur Nataru hanya 500 ribu orang,” katanya kepada Radar Jogja Grup Jawa Pos.
Kenaikan sampai dua kali lipat juga terlihat di destinasi lama Jogjakarta lainnya, Parangtritis, Bantul. Itu belum di spot wisata pantai lainnya, terutama di kawasan Gunungkidul.
Para tamu Jogja itu mayoritas memang datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Tapi, M. Subechy, dosen fotografi yang telah dua tahun tinggal di Jogjakarta, menyebut, dia kerap sekali bersirobok dengan wisatawan dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua.
“Menurut saya, Jogja itu akomodatif bagi berbagai segmen wisatawan lokal, mulai dari level atas, menengah, bawah, hingga bawah sekali. Dan, itu terlihat di tempat wisata, belanja, akomodasi, hingga kuliner,” katanya.
Bisa Terus Meningkat
Satu Indonesia bukan hanya tumpek blek ke Jogjakarta di libur Nataru sekarang ini, tapi juga ke destinasi wisata andalan Jawa Timur: Batu.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto menyampaikan, angka kunjungan wisata mulai terlihat peningkatan. Peningkatan itu terlihat dari perhitungan kunjungan di 91 jasa akomodasi dan 44 daya tarik wisata.
“Totalnya hingga hari ini (kemarin), sudah menyentuh 169.246 kunjungan,” sebutnya.
Dari total itu, terhitung sebanyak 35.414 kunjungan di sejumlah hotel maupun penginapan. Sedangkan, sebanyak 133.832 kunjungan terhitung dari berbagai destinasi wisata.
Namun, Onny menjelaskan, angka tersebut masih bisa meningkat lantaran akumulasinya masih pada kisaran 41,24 persen. Artinya, sebanyak 58,76 persen jasa akomodasi dan wisata belum melaporkan angka kunjungan wisata.
Ada banyak faktor kenapa satu Indonesia seperti ke Jogjakarta dan Batu semua. Salah satunya jalan tol.
Tol Trans Jawa semakin mendekati Jogjakarta dan Batu. Pengguna kendaraan yang hendak ke Jogjakarta, misalnya, kini bisa exit Prambanan yang merupakan salah satu pintu masuk Jogjakarta. Buntutnya, kian banyak wisatawan dari Jawa Timur atau Jawa Barat mengadakan tur tanpa menginap di hotel.
Faktor lain, para pelaku usaha yang terkait pariwisata di Jogja sangat adaptif. Destinasi-destinasi baru terus bermunculan, dengan latar yang berbeda-beda.
“Begitu pula kuliner, orang sekarang tak perlu khawatir makanan di Jogjakarta manis semua,” kata Subechy.
Juga, tiket ke tempat wisata yang relatif tak membuat kantong bolong. Maratus Solikhah, wisatawan asal Klaten yang ditemui Radar Jogja di Pantai Parangtritis, mengaku, untuk yang datang bersama keluarga seperti dirinya, biaya masuk 10 ribu per orang (ditambah Rp 5 ribu untuk parkir mobil) sangatlah terjangkau.
Jogja, menurut Ribut, juga punya kesan “magis.” "Jogja itu serupa irama gamelan Jawa. Tidak berlebihan iramanya, tidak kekurangan, tetapi menentramkan dan ngangeni. Utamanya, keunikan lingkungan, masyarakat, dan makanannya,” kata Ribut.
Belum Bisa Dibaca Utuh
Tapi, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengingatkan, asumsi yang menyebutkan Jogjakarta lebih ramai dikunjungi wisatawan ketimbang Bali pada Nataru kali ini masih terlalu dini untuk disimpulkan. Menurutnya, proses libur Nataru belum sepenuhnya selesai, sehingga data pergerakan wisatawan belum bisa dibaca secara utuh.
“Kalau kami jujur saja, kami belum punya data itu. Kita ini sekarang masih bicara prediksi, karena proses libur Nataru sendiri belum selesai,” ujar Maulana saat dimintai tanggapan terkait data pencarian destinasi dari salah satu online travel agent (OTA).
Maulana menjelaskan, data OTA yang beredar sejauh ini masih sebatas tren pencarian, bukan transaksi atau kunjungan riil. Karena itu, ia mengingatkan agar informasi tersebut tidak ditarik menjadi kesimpulan bahwa terjadi penurunan wisatawan ke Bali atau pergeseran masif ke destinasi lain seperti Jogjakarta (inu/ori/agf/ttg)
Editor : Hanif