Sudah sejak Oktober blue fire Ijen tak terlihat, tapi tingkat pemesanan tiket dari sisi Banyuwangi selama libur Nataru tetap tinggi. Di Batu, antusiasme calon pengunjung kerap tak sebanding dengan ketersediaan stroberi matang siap petik.
KSATRIA RAYA, Banyuwangi – ZANADIA MANIK FATIMAH, Batu
PADA Senin (29/12) kemarin tercatat 1.874 tiket ke Taman Wisata Alam (TWA) Ijen dari sisi Banyuwangi, Jawa Timur, terjual. Untuk hari ini (30/12), sebanyak 1.903 tiket ludes. Pada Rabu (31/12) besok atau malam pergantian tahun, pemesanan bahkan telah mencapai 1.946 tiket, hampir menyentuh batas maksimal 2.000 tiket per hari.
Itu data yang didapat Radar Banyuwangi Grup Jawa Pos per Sabtu (27/12). Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah selama kuota tiket harian belum sepenuhnya habis.
Antusiasme tinggi itu terbilang luar biasa mengingat salah satu ikon Ijen belum dapat dinikmati wisatawan saat ini, yakni blue fire. “Blue fire sampai sekarang masih belum bisa terlihat karena masih ada proses pemeliharaan pipa di TWA Ijen,” jelas Kepala Seksi Wilayah 15 TWA Ijen Dwi P. Sugiarto (27/12).
Blue fire Kawah Ijen merupakan fenomena alam langka di Ijen, gunung yang menjadi batas alami dua kabupaten di Jawa Timur: Banyuwangi dan Bondowoso. Blue fire berupa cahaya biru menyala dari gas belerang panas yang terbakar saat bertemu udara. Fenomena ini paling jelas terlihat dini hari (sekitar pukul 02.00–03.00) saat pendakian sebelum matahari terbit.
Tak hanya Ijen yang memanen pengunjung pada momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kota wisata andalan Jawa Timur lainnya, Batu, juga mengalami hal serupa. Dampaknya langsung terasa pada ketersediaan buah di sejumlah destinasi wisata petik stroberi di Kecamatan Bumiaji.
Sejumlah wisatawan terpaksa putar balik setelah mendapati stok stroberi siap panen telah habis dipetik. Kondisi itu, misalnya, terjadi di wisata petik stroberi milik Yeni di Desa Tulungrejo. Menurut Yeni, dalam satu hari jumlah wisatawan bisa mencapai 400–500 orang.
Lonjakan tersebut membuat stroberi yang telah matang cepat habis dipanen pengunjung. “Hari ini (26/12) sudah tidak ada yang merah. Kemungkinan baru besok (27/12) bisa buka lagi,” kata Yeni kepada Radar Batu Grup Jawa Pos.
Tanaman Butuh Waktu
Di Ijen, Billy Jo Nugroho, salah seorang pemandu wisata, menyebut, cahaya biru sudah tak terlihat sejak Oktober. Meski demikian, Kawah Ijen tetap ramai. “Pengunjung didominasi wisatawan lokal,” ujarnya.
Pemandu lain, Misbah, mengaku, ketiadaan blue fire berdampak pada tingkat kepuasan wisatawan. “Banyak wisatawan yang kecewa karena tidak bisa menyaksikan fenomena tersebut,” ujarnya.
Di Batu, Yeni menjelaskan, sistem buka-tutup operasional merupakan hal lazim dalam wisata petik stroberi. Sebab, tanaman membutuhkan waktu tertentu untuk menghasilkan buah dengan tingkat kematangan optimal.
“Tidak setiap hari stroberi siap dipetik,” ujarnya.
Wisata petik stroberi memang tengah menjadi primadona wisatawan, terutama saat musim liburan. Selain memberi pengalaman memetik langsung dari kebun, wisata ini juga dinilai ramah keluarga dan edukatif karena mengenalkan proses budidaya secara langsung.
Namun, tingginya minat wisatawan kerap tidak sebanding dengan ketersediaan buah matang. Karena itu, pengelola harus menyesuaikan jadwal kunjungan demi menjaga kualitas hasil panen dan keberlanjutan tanaman.
Kondisi serupa juga dialami wisata petik stroberi Bonkopi. Pemiliknya Agus mengaku, terpaksa menutup sementara kunjungan saat stok buah menipis. Kebijakan tersebut diambil agar wisatawan tetap memperoleh pengalaman memetik stroberi secara maksimal.
“Kalau bisa, calon pengunjung mengontak dulu untuk memastikan ketersediaan buah sebelum datang daripada kecewa harus putar balik,” kata Agus. (*/aif/dre/ttg)
Editor : Hanif