PONTIANAK POST - Presiden Prabowo Subianto menerima CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, di kediaman pribadi Kepala Negara di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/1) sore. Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah hal, termasuk perkembangan proyek hilirisasi yang dijalankan Danantara dengan nilai investasi mencapai Rp100 triliun.
"Dalam pertemuan tersebut dibahas tiga poin, yakni, pertama, perkembangan 5 titik proyek hilirisasi oleh Danantara yang akan melakukan groundbreaking di awal bulan depan," kata Teddy dikutip dari ANTARA.
Teddy menuturkan program hilirisasi tersebut direncanakan berlangsung di beberapa provinsi di Indonesia dengan nilai investasi mencapai sekitar 6 miliar dolar AS atau setara Rp100 triliun, yang diarahkan untuk mendukung penguatan struktur industri nasional.
Selain proyek hilirisasi, kata dia, pertemuan itu juga membahas perkembangan proyek waste to energy yang berfokus pada penertiban pengelolaan sampah, sehingga volume sampah terbuka dapat berkurang sekaligus memberikan manfaat dari sisi ekonomi. "Perkembangan Projects Waste to Energy (Penertiban Pengelolaan Sampah) sehingga volume sampah terbuka tidak hanya berkurang namun akan sangat bermanfaat dari segi ekonomi," ujar Teddy.
Makin Agresif
Belum genap setahun berdiri, Danantara agresif menjalin kemitraan global. Di Timur Tengah, Danantara menggandeng Qatar Investment Authority (QIA) mengelola dana investasi US$4 miliar, meneken MoU dengan Jordan Investment Fund (JIF), serta bekerja sama dengan ACWA Power Arab Saudi dengan potensi proyek hingga US$10 miliar untuk mendukung transisi energi bersih Indonesia.
Di Asia Timur, Danatara menandatangani MoU dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) guna mempercepat pembiayaan ekonomi hijau dan digital. Di Eropa, Danantara meluncurkan Russia-Indonesia Investment Platform (RIDNIP) bersama Russian Direct Investment Fund (RDIF) senilai hingga €2 miliar, serta menjajaki investasi nikel terintegrasi dengan perusahaan Prancis, Eramet. Dukungan juga datang dari Future Fund Australia terkait keanggotaan Danantara di International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF). Teranyar, pembicaraan dengan Amerika Serikat dibuka terkait akses mineral kritis dalam skema negosiasi tarif nol persen.
Di dalam negeri, Danantara fokus menyehatkan BUMN bersama BP BUMN. Perhatian besar tertuju pada penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Indonesia–China (Whoosh), termasuk rencana negosiasi langsung ke China. Penyehatan juga dilakukan melalui suntikan modal Rp23,67 triliun ke Garuda Indonesia, dukungan modal kerja untuk Krakatau Steel, serta kerja sama strategis dengan PLN dan PT PAL Indonesia. Secara total, Danantara tengah menangani penyehatan 43 BUMN.
Sebagai penggerak investasi, Danantara menerbitkan Patriot Bond yang menghimpun Rp50 triliun untuk proyek Waste to Energy (WTE). Proyek senilai total Rp91 triliun ini ditargetkan dibangun di 33 kota, dengan tahap awal di tujuh wilayah dan kepemilikan minimal 30 persen di setiap proyek. Landasan hukumnya diperkuat lewat Perpres Nomor 109 Tahun 2025.
Selain proyek hijau, Danantara mengembangkan Kampung Haji Indonesia di Makkah dengan investasi awal US$500 juta, serta berperan dalam proyek strategis nasional, termasuk pembangunan Koperasi Merah Putih di 80.000 desa/kelurahan dan pembiayaan Program Makan Bergizi Gratis bersama Badan Gizi Nasional. (ant)
Editor : Hanif