Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Penelitian UI: 45 Ribu Lulusan S1 dan S2 Alami Putus Asa Mencari Kerja

Khoiril Arif Ya'qob • Selasa, 13 Januari 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi pencari kerja.
Ilustrasi pencari kerja.

PONTIANAK POST – Sekitar 45 ribu lulusan S1 dan 6 ribu lulusan S2 di Indonesia mengalami keputusasaan dalam mencari kerja.

Angka tersebut dikeluarkan oleh penelitian dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia lewat Labor Market Brief dengan judul: Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia.

Penelitian itu ditulis oleh Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah pada November 2025. Alasan putus asa itu sangat beragam, mulai dari harapan upah yang tidak sesuai sampai diskriminasi usia.

Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa keberadaan sekitar empat puluh lima ribu lulusan S1 dan lebih dari enam ribu lulusan pascasarjana yang masuk kategori putus asa tetap perlu dicermati.

Kelompok ini biasanya menghadapi hambatan yang berbeda, misalnya harapan upah yang tidak terpenuhi, mismatch antara bidang studi dan peluang kerja, serta persepsi diskriminasi usia bagi lulusan yang baru memasuki pasar kerja di usia yang lebih matang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusasaan bukan monopoli kelompok berpendidikan rendah, melainkan dapat timbul ketika janji mobilitas naik dari pendidikan tinggi tidak terwujud.

Keputusasaan Berdasar Tingkat Pendidikan

Pada tulisan sebelumnya disebut bahwa tingkat pendidikan memberikan gambaran sangat jelas mengenai siapa yang paling rentan mengalami keputusasaan dalam mencari kerja.

Menurut data Februari 2025 yang dikutip dalam penelitian, menunjukkan bahwa lebih dari separuh kelompok putus asa berasal dari penduduk dengan pendidikan SD atau tidak tamat SD.

Angka ini menandakan bahwa hambatan struktural yang dialami kelompok berpendidikan rendah jauh lebih dalam daripada sekadar kurangnya lowongan. Mereka menghadapi kombinasi keterbatasan kemampuan dasar, akses yang lebih kecil terhadap informasi pasar kerja, dan peluang mobilitas naik yang sangat terbatas.

Selanjutnya, untuk tingkat lulusan SMP dan SMA menyumbang angka 20 persen dan 17 persen.

Kontribusi lulusan SMP dan SMA yang masing masing mencapai sekitar dua puluh persen dan tujuh belas persen menunjukkan bahwa tantangan keterampilan tidak hanya menimpa mereka dengan pendidikan paling rendah.

Mereka yang berpendidikan menengah pun masih kesulitan memenuhi tuntutan pasar kerja yang mengutamakan literasi digital dasar, kemampuan komunikasi, dan pengalaman kerja yang relevan.

Baca Juga: Sebab Musabab Lulusan SMK jadi Penyumbang Tertinggi Pengangguran di Kalbar

Banyak pekerjaan formal yang memerlukan kompetensi yang tidak secara otomatis diperoleh di sekolah menengah, sehingga lulusan kelompok ini berisiko merasa tidak kompetitif ketika menghadapi proses rekrutmen yang semakin ketat.

Sedangkan lulusan SMK mencapai 8 persen. Menurutnya, SMK secara teoritis dirancang untuk melahirkan tenaga kerja siap masuk industri, tetapi angka ini mengisyaratkan adanya kesenjangan antara kurikulum vokasional dan kebutuhan nyata tempat kerja.

Lembaga internasional seperti ADB sering menekankan bahwa sistem vokasional yang tidak diperbarui secara berkala cenderung gagal menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang relevan, yang pada akhirnya menurunkan kepercayaan diri mereka dalam mencari pekerjaan. (*)

Editor : Miftahul Khair
#penelitian #lulusan S1 #lulusan S2 #mencari kerja #putus asa #Universitas Indonesia