Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Manfaat Rajab Mengundang Doa, Takwa, dan Pengampunan

Hanif PP • Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:49 WIB
Ma’ruf Zahran Sabran
Ma’ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran*

Bulan Rajab menyimpan kekayaan rohani yang mendalam sebagai salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (minhā arba‘atun ḥurum), yakni Rajab, Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharam. Pada bulan-bulan ini, umat Islam diperintahkan untuk menjaga diri dan tidak berbuat aniaya. Namun, apabila diserang, diperbolehkan membalas secara seimbang. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Makna penghormatan terhadap empat bulan mulia tersebut menuntut umat untuk senantiasa mawas diri dan menahan hawa nafsu, agar tidak terjadi gejolak yang merugikan umat secara keseluruhan. Jika menghadapi tantangan, hadapilah dengan tenang dan penuh keberanian. Jangan menjadi pecundang yang lari dari medan perjuangan, kecuali untuk menyusun kekuatan dan strategi. Ibarat ungkapan, “Engkau jual, aku beli.”

Selain kemuliaannya, Rajab juga menjadi momentum mendulang kebajikan, menghidupkan doa, serta mengundang permata pengampunan. Ampunan dari Allah memiliki nilai yang sangat mahal. Ketika seorang hamba telah mendapatkan ampunan-Nya, sejatinya seluruh urusan hidupnya menjadi lapang. Kaya dan miskin, sehat dan sakit, lapang dan sempit, jauh dan dekat, kenyang dan lapar hanyalah romantika kehidupan yang saling melengkapi sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Rajab dikenal sebagai bulan tobat (syahrut taubah). Pada bulan ini, banyak manusia yang mendapatkan hidayah untuk kembali ke jalan lurus. Mereka meninggalkan kebiasaan buruk seperti minum minuman keras, berjudi, berzina, dan bergonta-ganti pasangan, lalu menjadi hamba yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kisah Fudail bin Iyad menjadi contoh nyata. Ia adalah penjahat besar, perampok, penjudi, dan peminum tuak yang hidup pada abad ke-2 Hijriah. Tobatnya bermula ketika mendengar lantunan ayat AlQuran Surah Al-Hadid ayat 16 yang dibacakan seseorang. Ayat tersebut menggugah hatinya hingga ia menangis tersedu-sedu dan memutuskan untuk bertobat. Fudail kemudian hijrah dari Samarkand menuju Mekah dengan berjalan kaki, menimba ilmu kepada para ulama besar, hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu tokoh sufi dunia.

Rajab juga disebut sebagai bulan ampunan (syahrul maghfirah), yang inti amalannya adalah doa dan istighfar. Istighfar yang paling singkat adalah Astaghfirullah, bukan astaga. Ucapan astaga tidak memiliki nilai ibadah dan tidak bermakna permohonan ampun.

Induk istighfar yang utama dikenal sebagai sayyidul istighfar, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Maknanya adalah pengakuan penuh seorang hamba atas nikmat Allah, dosa-dosanya, serta permohonan ampun kepada-Nya, karena tiada yang mampu mengampuni dosa selain Allah SWT.

Para ulama juga menyusun redaksi istighfar Rajab yang populer, yaitu Rabbighfirli warhamni watub ‘alayya (Ya Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, dan terimalah tobatku). Dosa hanya dapat ditebus dengan tobat yang tulus, bukan dengan harta atau materi. Orang yang bertobat adalah kekasih Allah. Bahkan, orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh bagaikan orang yang tidak pernah berbuat dosa.

Amalan doa dan istighfar di bulan Rajab sebaiknya dilanjutkan pada bulan Sya’ban hingga Ramadan sebagai amaliah harian. Latihan spiritual ini akan membentuk kebiasaan doa dan istighfar sebagai bekal keselamatan hingga fajar kehidupan baru setelah kematian.

Mengingat urgensi tobat di bulan Rajab, dianjurkan pula mandi tobat. Selain membersihkan jasmani, mandi memiliki nilai ibadah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 11 tentang turunnya hujan sebagai sarana penyucian, penenang hati, dan penguat langkah kaum mukminin.

Selain itu, dianjurkan mendirikan salat sunah tobat dua rakaat. Salat adalah doa tertinggi, zikir termulia, dan ibadah utama. Melalui doa, zikir, dan istighfar, terjalin hubungan kedekatan dengan Allah. Jika kedekatan itu terbangun, segala urusan akan dimudahkan, karena Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi.

Doa yang dikabulkan, istighfar yang diterima, dan takwa yang diridai akan memudahkan seluruh hajat hidup. Setiap ketetapan dari Allah terasa sebagai hari raya. Hakikat doa adalah pengakuan atas kelemahan hamba di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, sekaligus pengakuan atas kebesaran rububiyah-Nya.

Takwa mencerdaskan seseorang dalam menyikapi persoalan hidup dengan tenang. Takwa melapangkan rezeki, mempermudah yang sulit, mendekatkan yang jauh, serta mendatangkan karunia tanpa disangka-sangka. Takwa menjadi cahaya di dunia, alam barzakh, dan akhirat, serta mengantarkan seseorang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, bahkan memperoleh tambahan berupa kenikmatan memandang wajah Allah Yang Mahamulia.

Orang yang gemar beristighfar akan dihujani rahmat, ampunan, dan rezeki yang berkah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membiasakan istighfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR Abu Dawud).

Akhirnya, manfaat Rajab melalui doa, takwa, tobat, dan istighfar akan mengundang hujan rahmat, taufik, dan hidayah ke dalam hati. Hal ini sebagaimana seruan Nabi Hud kepada kaumnya agar memohon ampun dan bertobat kepada Allah, niscaya Allah menurunkan hujan, menambah kekuatan, dan menjauhkan mereka dari dosa. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#Bulan Rajab #Bulan mulia #Doa #ampunan