PONTIANAK POST – Di hadapan para pemimpin dunia dan elite ekonomi global dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang sederhana.
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan kabar optimistis bahwa tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia kini disebut berada pada titik terendah sepanjang sejarah.
Pernyataan ini menjadi bagian dari pesan Indonesia tentang arah pembangunan yang ingin lebih berpihak kepada kelompok paling rentan.
Bagi Prabowo, senyum kaum miskin adalah tanda harapan, masa depan, dan bukti bahwa penghidupan rakyat benar-benar mengalami perbaikan.
“Saya bertekad dalam empat tahun ke depan kita akan memberantas kemiskinan ekstrem dan menurunkan angka kemiskinan secara keseluruhan. Itulah misi hidup saya. Itulah misi saya di sisa hidup saya,” ujar Prabowo, dikutip dari Antara, Jumat (23/1).
Menurut Prabowo, tidak ada tugas negara yang lebih mulia sekaligus lebih bermakna daripada menurunkan kemiskinan dan memberantas kelaparan. Ia menegaskan bahwa esensi kepemimpinan sejatinya tidak rumit.
Mengutip pepatah yang pernah ia pelajari dari seorang pemimpin politik, Prabowo menyebut tugas seorang pemimpin sangatlah sederhana, yakni bekerja tanpa lelah agar kaum miskin dan lemah dapat kembali tersenyum dan tertawa.
Bagi Prabowo, senyum tersebut adalah tanda lahirnya harapan, sebuah isyarat bahwa masa depan kembali terasa mungkin.
“Sangat sederhana. Apa artinya itu? Jika kaum miskin dan lemah dapat tersenyum dan tertawa, itu berarti mereka memiliki harapan, itu berarti mereka melihat masa depan, itu berarti penghidupan mereka sedang ditingkatkan. Jadi, itulah misi saya sekarang, untuk membuat kaum termiskin dan terlemah di Indonesia tersenyum,” ucapnya.
Prabowo juga mengungkap hasil survei global yang dilakukan Gallup dan Universitas Harvard, yang menempatkan rakyat Indonesia sebagai salah satu bangsa paling bahagia, makmur, dan optimistis dibandingkan ratusan negara lain di dunia.
Temuan tersebut, menurut Presiden, tentu menggembirakan dan patut disyukuri. Namun, di balik angka-angka positif itu, terselip kenyataan yang masih mengusik nurani: masih ada rakyat Indonesia yang hidup tanpa tempat tinggal yang layak.
Bagi Prabowo, fakta inilah yang menjadi pengingat bahwa pekerjaan negara belum selesai. “Saya mengenal rakyat saya. Banyak dari mereka tinggal di gubuk, banyak dari mereka tidak memiliki air bersih, banyak dari mereka tidak memiliki kamar mandi, banyak dari mereka makan nasi dengan garam, namun mereka tetap tersenyum dan tetap memiliki harapan,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair