PONTIANAK POST - Suasana duka menyelimuti Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Warga digegerkan oleh penemuan seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) yang meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh.
Melansir Radar Pati (Grup Jawa Pos) pada (3/1), tragedi memilukan ini berawal dari sebuah permintaan yang tampak sederhana.
Baca Juga: Indonesia Fokus Percepat Investasi dan Jadikan Kalimantan Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di ASEAN
Minta Dibelikan Buku Tulis dan Pensil
Sehari sebelum peristiwa tragis itu terjadi, YBS sempat meminta ibunya dibelikan buku tulis dan pensil. Namun, keterbatasan ekonomi membuat sang ibu belum dapat memenuhi permintaan tersebut.
Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menuturkan bahwa YBS dikenal sebagai anak yang pendiam, sopan, dan rajin belajar. Meski hidup dalam keterbatasan, ia jarang terlihat murung di mata warga sekitar.
“Menurut keterangan tetangga, dia anak baik dan rajin sekolah. Tidak ada tanda-tanda mencolok bahwa dia menyimpan beban berat,” kata Bernardus.
Baca Juga: Prabowo Usul ‘Gentengisasi’ Nasional Gantikan Atap Seng, KDMP Jadi Ujung Tombak Produksi
Tanpa Ayah dan Tinggal Bersama Nenek
YBS diketahui telah kehilangan sosok ayah bahkan sebelum ia dilahirkan. Sehari-hari, ia tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun.
Sementara itu, sang ibu tinggal di kampung yang berbeda bersama lima anaknya yang lain. Kondisi tersebut membuat perhatian yang dapat diterima YBS menjadi sangat terbatas.
“YBS tinggal terpisah dengan ibunya dan diasuh oleh neneknya yang sudah lanjut usia,” tutur Bernardus.
Baca Juga: Update Harga Emas Pegadaian: UBS & Galeri 24 Kompak Turun
Tubuh Korban Ditemukan Warga
Pada Kamis pagi, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah neneknya. Padahal, pada waktu yang sama ia seharusnya sudah bersiap berangkat ke sekolah.
Beberapa jam kemudian, suasana berubah duka. Menjelang siang, tubuh YBS ditemukan warga yang sedang menggembalakan kerbau di sekitar lokasi kejadian.
Sang ibu, MGT (47), menuturkan bahwa YBS sempat menginap di rumahnya pada malam sebelumnya.
Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WITA, YBS diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.
“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.
Tragedi ini semakin menyisakan luka mendalam setelah aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan YBS dalam bahasa daerah setempat.
Surat tersebut ditujukan kepada ibunya dan berisi pesan perpisahan, di mana YBS meminta sang ibu untuk tidak menangis serta merelakan kepergiannya.
Di bagian akhir surat, terdapat gambar sederhana menyerupai emoji wajah menangis.
Baca Juga: Ingin Ubah Data Pekerjaan di KTP dan KK? Ini 99 Pilihan yang Tersedia Sesuai Ketentuan
Isi Surat Perpisahan Kepada Ibu
KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA
Artinya:
SURAT BUAT MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU MAMA RELAKAN SAYA PERGI JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA
Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang turut merasakan duka. (*)
Editor : Miftahul Khair