PONTIANAK POST – Sastrawan dan sosiolog Indonesia, Okky Madasari ikut memberikan komentarnya terkait siswa berinisial YBS yang bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Melalui platform X pribadinya (4/2), ia menyampaikan pihak-pihak yang harus bertanggung jawab atas bunuh diri siswa tersebut.
Menurut Okky Madasari, kasus bunuh diri siswa SD berusia 10 tahun di NTT yang dipicu ketidakmampuan membeli buku dan pensil, tidak boleh berhenti sebagai duka personal, melainkan harus diikuti dengan tuntutan pertanggungjawaban dari para pemangku kebijakan.
Mulai dari bupati dan gubernur setempat, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial, Presiden, hingga anggota DPR dari daerah pemilihan NTT.
Baca Juga: Fakta-fakta Siswa SD Bunuh Diri di Ngada NTT, Ini Kronologi Peristiwa yang Menjadi Perhatian Publik
“Siswa SD 10 tahun di NTT bunuh diri karena tidak bisa membeli buku & pensil. Yang harus diminta pertanggungjawaban: Bupati, Gubernur, Kementerian Perempuan & Perlindungan Anak, Kementerian Kependudukan & Pembangunan Keluarga, Kemendikdasmen, Kemensos, Presiden, Anggota DPR dapil NTT, tulisnya.
Pada unggahan selanjutnya di platform yang sama (5/2), Okky mengungkap pada September 2025 terjadi peristiwa tragis ketika seorang ibu bersama dua anaknya di Bandung mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi.
Disusul pada Februari 2026 oleh kasus anak berusia 10 tahun di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pensil.
Kemudian, sastrawan itu juga menyebut, di tengah banyaknya kementerian serta program-program negara dengan anggaran fantastis, tragedi semacam ini tidak bisa dipandang sebagai kasus individual semata.
Ia menilai ini adalah cermin kegagalan sistemik negara dalam melindungi warganya, kegagalan yang menuntut adanya pengakuan dan tanggung jawab nyata dari pihak yang berwenang.
“September 2025: ibu & 2 anak di Bandung mengakhiri hidup karena tekanan ekonomi. Februari 2026: anak 10 tahun di NTT bunuh diri karena tak bisa beli buku dan pensil. Dengan Kementerian segitu banyak, program-program berbiaya fantastis, jelas ini kegagalan. Tanggung jawab!” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair