PONTIANAK POST - Juda Agung resmi menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan setelah ditunjuk dalam reshuffle Kabinet Merah Putih untuk sisa masa jabatan periode 2024-2029.
Pria kelahiran Pontianak ini dikenal sebagai ekonom dengan rekam jejak panjang di dunia kebijakan ekonomi nasional, termasuk pengalamannya di Bank Indonesia.
Sebelum dipercaya menjadi Wamenkeu, Juda Agung merupakan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang kemudian digantikan oleh Thomas Djiwandono.
Baca Juga: Reshuffle Kabinet Merah Putih: Juda Agung Resmi Gantikan Thomas Djiwandono Sebagai Wamenkeu
Perjalanan Akademik Juda Agung, Dari Pontianak ke Inggris
Melansir Antara, Juda Agung lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Oktober 1964.
Ia dikenal memiliki rekam jejak karier yang panjang dan solid di bidang ekonomi serta kebijakan moneter.
Menariknya, perjalanan profesional tersebut tidak sepenuhnya berangkat dari latar belakang pendidikan yang sejalur. Ia justru mengawali pendidikan tinggi di bidang Teknologi Pertanian dengan meraih gelar sarjana dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1987.
Ketertarikannya pada isu ekonomi dan keuangan kemudian mengantarkannya melanjutkan studi ke Inggris.
Delapan tahun setelah lulus dari IPB, Juda menamatkan pendidikan magister di bidang keuangan, perbankan, dan finansial di University of Birmingham.
Di kampus yang sama, ia meraih gelar doktor (PhD) di bidang ekonomi pada 1999, sekaligus menandai pergeseran jalur akademik dan profesionalnya ke dunia ekonomi makro dan kebijakan moneter.
Baca Juga: Peneliti BRIN Prediksi Ramadan 2026 Jatuh pada 19 Februari
Ditempa di Bank Indonesia, Menguat di Panggung Global
Karier profesional Juda Agung sebagian besar ditempa di Bank Indonesia (BI). Ia mengawali kiprahnya sebagai staf di Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, termasuk menjalani penugasan di Kantor Perwakilan BI London pada periode 1992–1999.
Sepulang dari Inggris, Juda menapaki jalur riset dengan menjadi peneliti ekonomi junior (1999-2002), kemudian peneliti ekonomi (2002-2003) di Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, sebelum berlanjut sebagai analis senior.
Pengalamannya terus berkembang ketika pada 2006-2008, ia dipercaya menjabat Kepala Bagian Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, sekaligus mendapatkan penugasan di Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).
Setelah kembali ke BI, Juda menduduki posisi strategis sebagai Advisor Ekonomi dan Kebijakan Moneter pada 2012–2013, lalu diangkat menjadi Kepala Grup Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter pada 2013.
Pada 2014, kariernya kembali menanjak setelah dilantik sebagai Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter oleh Gubernur BI saat itu, Agus D. W. Martowardojo.
Pengalaman internasionalnya berlanjut ketika Juda dipercaya menjadi Direktur Eksekutif IMF pada 2017-2019.
Ia kemudian pulang ke Indonesia dan kembali memperkuat bank sentral sebagai Asisten Gubernur BI yang membidangi Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial pada 2020-2022.
Baca Juga: PDB Indonesia Tumbuh 5,11% di 2025, Kalbar Capai 5,39% Tertinggi di Nasional
Dari Deputi Gubernur BI ke Kursi Wakil Menteri Keuangan
Puncak kariernya di BI terjadi ketika ia resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 147/P Tahun 2021 tertanggal 24 Desember 2021.
Juda mengucapkan sumpah jabatan pada 6 Januari 2022 dan sejatinya menjabat hingga masa jabatan 2027.
Namun, pada 13 Januari 2026, ia dilaporkan telah mengajukan surat pengunduran diri. Bersamaan dengan itu, beredar kabar bahwa ia akan bertukar posisi dengan Thomas Djiwandono.
Spekulasi tersebut akhirnya terkonfirmasi. Juda Agung resmi menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan setelah ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3/M Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Wakil Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih Periode 2024-2029.
Keputusan tersebut diteken langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Jakarta pada 5 Februari 2026, menandai babak baru perjalanan karier Juda Agung di lingkaran pemerintahan. (*)
Editor : Miftahul Khair