PONTIANAK POST – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat rehabilitasi dan pemeliharaan saluran irigasi tersier pada Triwulan I 2026 sebagai langkah strategis menjaga produksi pangan nasional. Upaya ini difokuskan pada optimalisasi pengelolaan air di tengah curah hujan tinggi serta persiapan musim tanam berikutnya.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementan, Hermanto, menjelaskan bahwa saluran tersier berperan penting dalam mendistribusikan air langsung ke lahan petani. Kerusakan saluran, sedimentasi, hingga gangguan pada bangunan pembagi air kerap menyebabkan genangan tidak merata dan meningkatkan risiko puso saat hujan berlebih.
“Karena itu, kami lakukan identifikasi kondisi saluran, normalisasi melalui pengerukan sedimen dan perkuatan talud, serta perbaikan pintu air agar debit dapat dikendalikan dan air terdistribusi merata,” ujarnya (3/3).
Selain perbaikan fisik, Kementan mendorong penerapan teknologi drainase terkendali dan sistem panen air hujan. Air berlebih ditampung sementara di petakan sawah atau embung untuk dimanfaatkan kembali ketika kebutuhan meningkat. Integrasi irigasi dan drainase tersebut dinilai mampu menciptakan sistem yang lebih hemat air, adaptif terhadap perubahan iklim, serta efisien biaya.
Baca Juga: Pemkab Kayong Utara Optimalkan Bantuan Alsintan Kementan untuk Modernisasi Sektor Pertanian
Mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, Kementan mengusulkan rehabilitasi irigasi tersier pada daerah irigasi kewenangan pusat dengan luas di atas 3.000 hektare. Penguatan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) juga dilakukan untuk memastikan pemeliharaan jaringan berjalan berkelanjutan. Koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum diperkuat agar sistem irigasi primer dan sekunder tetap optimal.
Sebagai contoh, pada 2025 rehabilitasi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dilakukan di DI Palakka seluas 5.000 hektare, DI Sanrego 1.700 hektare, dan DI Pattiro 3.000 hektare. Perbaikan tersebut berdampak pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP) padi di wilayah tersebut.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa sistem irigasi yang berfungsi optimal menjadi kunci peningkatan frekuensi tanam dan kepastian pola tanam.
“Dengan sistem irigasi yang berfungsi optimal, lahan sawah yang sebelumnya hanya dapat ditanami satu atau dua kali setahun dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam. Selain itu, ketersediaan air dapat lebih terjamin karena lahan pertanian tidak lagi bergantung sepenuhnya pada curah hujan, sehingga pola tanam dapat direncanakan dengan lebih pasti,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan langkah terukur, Kementan optimistis penguatan rehabilitasi irigasi tersier akan memperkokoh sistem pengelolaan air pertanian yang adaptif dan berkelanjutan, sehingga produksi pangan nasional tetap terjaga sepanjang 2026. (*)
Editor : Miftahul Khair