Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Seleksi Dokter Spesialis Bakal Terpusat, Pemerintah Bentuk Panitia Nasional: Sistem Baru Berlaku di PTN dan PTS

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 13 April 2026 | 22:27 WIB
Logo Kemendiktisaintek
Logo Kemendiktisaintek

 

PONTIANAK POST - Pemerintah berencana merombak sistem penerimaan mahasiswa baru untuk program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Pendidikan Dokter Subspesialis (PPDSS) dengan membentuk panitia seleksi bersama yang dilakukan secara terpusat seperti Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB).

Kebijakan tersebut akan mulai diterapkan tahun ini dan berlaku bagi perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).

Seleksi Terpusat Seperti SNBT

Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek Mukhamad Najib mengatakan pembentukan panitia bersama masih dalam tahap pembahasan.

Dengan sistem tersebut, proses seleksi PPDS dan PPDSS akan dilakukan secara serentak seperti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dalam skema SNPMB.

“Calon mahasiswa akan menjalani tes bersamaan di lokasi ujian dengan hari dan jam yang telah ditentukan oleh panitia,” ujarnya seusai peluncuran Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) 2026 di Kantor Kemendiktisaintek, Senin (13/4).

Menurut Najib, sistem baru ini bertujuan memastikan kualitas calon dokter spesialis dan subspesialis.

Hal tersebut penting karena pendidikan dokter spesialis berkaitan langsung dengan keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan.

Pembukaan Ratusan Prodi Baru

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Kemendiktisaintek telah membuka sekitar 160 program studi spesialis dan subspesialis baru sejak 2025 hingga Februari 2026.

Program studi tersebut mencakup berbagai bidang penting seperti jantung, bedah saraf, hingga obstetri dan ginekologi (obgyn).

Jumlah tersebut bahkan melampaui target Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menargetkan pembukaan 145 program studi baru.

Dengan tambahan tersebut, total program studi spesialis dan subspesialis di Indonesia kini mencapai sekitar 526 dari sebelumnya 366 program studi.

Penambahan prodi difokuskan di 11 provinsi yang masih kekurangan dokter spesialis, termasuk Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

“Kita sudah hampir memenuhi kebutuhan dokter. Tinggal yang spesialis yang memang masih kita kejar,” kata Najib.

Penguatan Peran Perguruan Tinggi Swasta

Di sisi lain, Kemendiktisaintek juga mendorong peningkatan mutu dan akses pendidikan tinggi melalui penguatan peran perguruan tinggi swasta.

Langkah tersebut dilakukan melalui Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) yang diluncurkan tahun ini.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco mengatakan penguatan PTS menjadi strategi penting untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

“Program ini memastikan kualitas pendidikan tinggi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi dapat berkembang secara lebih merata di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan ekosistem pendidikan tinggi nasional saat ini didominasi perguruan tinggi swasta yang jumlahnya mencapai lebih dari 95 persen dari total perguruan tinggi di Indonesia. (mia/aph)


Infografis Reformasi Seleksi Dokter Spesialis

Komponen Data
Sistem Seleksi Baru Terpusat seperti SNPMB
Berlaku Untuk PTN dan PTS
Prodi Baru 2025–Feb 2026 ±160 program studi
Total Prodi Spesialis ±526 prodi
Sebelumnya 366 prodi
Target Presiden 145 prodi baru
Fokus Wilayah 11 provinsi kekurangan dokter
Contoh Wilayah NTT, Maluku, Papua

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#seleksi dokter spesialis #ppds indonesia #pendidikan dokter spesialis #prodi spesialis indonesia #Kemendiktisaintek