PONTIANAK POST - Pemerintah berencana merombak sistem penerimaan mahasiswa baru untuk program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Pendidikan Dokter Subspesialis (PPDSS) dengan membentuk panitia seleksi bersama yang dilakukan secara terpusat seperti Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB).
Kebijakan tersebut akan mulai diterapkan tahun ini dan berlaku bagi perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).
Seleksi Terpusat Seperti SNBT
Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek Mukhamad Najib mengatakan pembentukan panitia bersama masih dalam tahap pembahasan.
Dengan sistem tersebut, proses seleksi PPDS dan PPDSS akan dilakukan secara serentak seperti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dalam skema SNPMB.
“Calon mahasiswa akan menjalani tes bersamaan di lokasi ujian dengan hari dan jam yang telah ditentukan oleh panitia,” ujarnya seusai peluncuran Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) 2026 di Kantor Kemendiktisaintek, Senin (13/4).
Menurut Najib, sistem baru ini bertujuan memastikan kualitas calon dokter spesialis dan subspesialis.
Hal tersebut penting karena pendidikan dokter spesialis berkaitan langsung dengan keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan.
Pembukaan Ratusan Prodi Baru
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Kemendiktisaintek telah membuka sekitar 160 program studi spesialis dan subspesialis baru sejak 2025 hingga Februari 2026.
Program studi tersebut mencakup berbagai bidang penting seperti jantung, bedah saraf, hingga obstetri dan ginekologi (obgyn).
Jumlah tersebut bahkan melampaui target Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menargetkan pembukaan 145 program studi baru.
Dengan tambahan tersebut, total program studi spesialis dan subspesialis di Indonesia kini mencapai sekitar 526 dari sebelumnya 366 program studi.
Penambahan prodi difokuskan di 11 provinsi yang masih kekurangan dokter spesialis, termasuk Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
“Kita sudah hampir memenuhi kebutuhan dokter. Tinggal yang spesialis yang memang masih kita kejar,” kata Najib.
Penguatan Peran Perguruan Tinggi Swasta
Di sisi lain, Kemendiktisaintek juga mendorong peningkatan mutu dan akses pendidikan tinggi melalui penguatan peran perguruan tinggi swasta.
Langkah tersebut dilakukan melalui Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) yang diluncurkan tahun ini.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco mengatakan penguatan PTS menjadi strategi penting untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.
“Program ini memastikan kualitas pendidikan tinggi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi dapat berkembang secara lebih merata di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan ekosistem pendidikan tinggi nasional saat ini didominasi perguruan tinggi swasta yang jumlahnya mencapai lebih dari 95 persen dari total perguruan tinggi di Indonesia. (mia/aph)
Infografis Reformasi Seleksi Dokter Spesialis
| Komponen | Data |
|---|---|
| Sistem Seleksi Baru | Terpusat seperti SNPMB |
| Berlaku Untuk | PTN dan PTS |
| Prodi Baru 2025–Feb 2026 | ±160 program studi |
| Total Prodi Spesialis | ±526 prodi |
| Sebelumnya | 366 prodi |
| Target Presiden | 145 prodi baru |
| Fokus Wilayah | 11 provinsi kekurangan dokter |
| Contoh Wilayah | NTT, Maluku, Papua |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro