Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Indonesia Tolak Tawaran Utang IMF dan World Bank, Pemerintah Klaim APBN Masih Kuat dan Aman Hadapi Tekanan Global

Khoiril Arif Ya'qob • Rabu, 22 April 2026 | 13:37 WIB
Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa

 

PONTIANAK POST - Pemerintah Indonesia secara tegas menolak tawaran pinjaman dari International Monetary Fund dan World Bank.

Dalam kunjungannya ke Washington DC, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal nasional masih cukup kuat tanpa perlu tambahan utang luar negeri.

Tegas Tolak Tawaran Pinjaman Internasional

Melansir Jawa Pos (21/4), dalam pertemuan dengan IMF dan Bank Dunia pekan lalu, Purbaya mengungkapkan kedua lembaga tersebut menawarkan fasilitas pinjaman hingga puluhan miliar dolar AS bagi negara yang membutuhkan.

Baca Juga: THR ASN Bebas Pajak, Pegawai Swasta Kena Potongan? Menkeu: Sistem Perpajakan Sudah Adil

Namun, ia memilih menolak tawaran tersebut. “Terima kasih atas tawarannya. Tetapi sekarang kondisi APBN kita masih bagus dan saya belum butuh itu,” ujar Purbaya dalam Media Briefing di kantornya, Selasa (21/4).

Ia bahkan menyebut sempat diminta secara langsung untuk memanfaatkan fasilitas pinjaman tersebut, namun tetap pada pendiriannya bahwa Indonesia belum memerlukannya.

Klaim Dana Negara Masih Melimpah

Purbaya menegaskan, kondisi keuangan negara saat ini masih sangat memadai. Bahkan, pemerintah disebut memiliki cadangan dana internal yang nilainya setara dengan tawaran lembaga internasional tersebut.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Lakukan Perombakan Total di Bea Cukai, Gandeng TNI-Polri Atasi Beking dan Kebocoran Penerimaan

“Saya masih punya uang sebesar USD 25–30 miliar dolar juga yang kita pegang untuk negara sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, jumlah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas fiskal yang cukup kuat untuk membiayai kebutuhan nasional tanpa bergantung pada utang eksternal.

Perdebatan Soal Defisit dan Harga Minyak

Selain tawaran pinjaman, pertemuan tersebut juga diwarnai diskusi intens terkait kebijakan fiskal Indonesia, khususnya soal batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dijaga di level 3 persen.

IMF dan Bank Dunia mempertanyakan strategi pemerintah dalam menghadapi tekanan global, termasuk kenaikan harga minyak yang berpotensi meningkatkan beban subsidi.

“Itu debat seru, mempertanyakan apa policy kita dan kita jelaskan seperti apa,” kata Purbaya.

Strategi Pemerintah: Efisiensi dan Optimalkan SDA

Menanggapi kekhawatiran tersebut, pemerintah memaparkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas fiskal. Salah satunya melalui efisiensi anggaran di berbagai sektor.

Baca Juga: APBN Kalbar Dukung MBG hingga KUR Perumahan

Selain itu, pemerintah juga mengandalkan peningkatan pendapatan dari sektor sumber daya alam, khususnya mineral.

“Kita jelasin ada penghematan sana-sini, terus ada pendapatan tambahan dari sumber daya mineral. Terus kita juga bilang nggak usah takut, kalau ada apa-apa kita masih aman,” jelasnya.

APBN Diklaim Tetap Tangguh

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis APBN tetap mampu menopang tekanan global, termasuk dampak fluktuasi harga energi.

Sikap penolakan terhadap utang luar negeri ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Indonesia ingin menjaga kemandirian fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. (*)

Editor : Miftahul Khair
#menteri keuangan #pinjaman #IMF #world bank #Purbaya Yudhi Sadewa