PONTIANAK POST – Jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia masih sangat tinggi. Untuk menekan angka tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berencana melakukan penjangkauan melalui kebijakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) tahun 2026.
Diampu oleh Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK), program ini melibatkan 34 satuan pendidikan menengah atas yang menjadi sekolah induk yang akan bermitra dengan 100 sekolah lainnya di 20 provinsi di Indonesia.
Angka ini belum termasuk 1 Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Kinabalu Malaysia.
Direktur PKPLK Kemendikdasmen Saryadi menjelaskan, pemilihan sekolah induk dan sekolah mitra ini merupakan pilihan dari pemerintah daerah.
“Saat ini ATS di Indonesia mencapai sekitar 4 juta. Di mana, 1.131.429 anak di antaranya berusia 16-18 tahun dan harusnya berada di jenjang pendidikan menengah,” katanya dalam temu media di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (23/4) petang.
Jadi Solusi
PJJ diyakini bisa jadi solusi. Saryadi menekankan bahwa pihaknya telah mengantisipasi segala kemungkinan permasalahan yang dihadapi ATS.
“Bagaimana jika anak-anak tersebut tidak punya gadget? Atau kalau tatap muka butuh internet yang artinya harus ada biaya tambahan? Itulah fungsinya sekolah mitra. Anak-anak tersebut bisa ke sekolah mitra untuk bisa memanfaatkan atau menggunakan fasilitas di sana,” paparnya.
Selain itu, lanjut dia, PJJ ini juga menawarkan fleksibilitas.
Anak-anak yang memang terpaksa harus bekerja atau bahkan sudah menikah, tetap bisa mengikuti pembelajaran tanpa harus meninggalkan apa yang dikerjakan.
Tahun ini, ditargetkan masing-masing sekolah induk dapat menjangkau 100 anak. Dengan begitu, dalam setahun ada 3.500 ATS yang akan kembali ke sekolah. (mia/ttg)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro