Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Prodi Terancam Ditutup, BRIN Tekankan Transformasi Kurikulum di Dunia Kampus

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 28 April 2026 | 16:29 WIB
Ilustrasi wisuda
Ilustrasi wisuda

 

PONTIANAK POST - Di tengah derasnya perubahan industri, ilmu yang dipelajari hari ini bisa menjadi usang saat mahasiswa lulus esok hari.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria menegaskan rencana penutupan program studi harus dibarengi transformasi kurikulum yang serius.

Menurutnya, tanpa perubahan, lulusan perguruan tinggi akan kesulitan beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.

“Keterampilan yang diajarkan hari ini, lima tahun ke depan mungkin hanya 60 persen yang relevan,” ujarnya di Jakarta.

Ia menilai langkah yang digagas Mendiktisaintek Brian Yuliarto merupakan upaya menyelamatkan pendidikan tinggi agar tidak tertinggal.

Jika tidak mampu menyediakan sumber daya manusia yang adaptif, Indonesia berisiko kalah bersaing di tingkat global.

Arif juga menyoroti pentingnya pengembangan sistem micro-credential di perguruan tinggi.

Model pembelajaran ini dinilai lebih fleksibel karena fokus pada keterampilan spesifik yang dibutuhkan industri.

“Sekarang yang berkembang adalah micro-credential, agar mahasiswa tetap up to date dengan kebutuhan industri,” katanya.

Berbeda dengan gelar sarjana yang membutuhkan waktu panjang, micro-credential bisa ditempuh dalam hitungan minggu hingga bulan.

Bahkan, bagi sebagian pekerja, sertifikasi ini dinilai lebih relevan dibandingkan ijazah formal.

Fenomena ini muncul karena industri bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sistem pendidikan.

Akibatnya, banyak perusahaan memilih menciptakan program pelatihan sendiri.

Di tengah perubahan cepat itu, Arif menekankan pentingnya membangun mentalitas pembelajar.

Menurutnya, kemampuan untuk terus belajar jauh lebih penting dibanding sekadar pengetahuan teknis.

“Kalau tidak punya mentalitas belajar, akan sulit beradaptasi dengan perubahan,” ujarnya.

Ia mencontohkan lulusan yang mempelajari teknologi lama bisa tertinggal jika industri sudah beralih.

Karena itu, kampus tidak hanya dituntut mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter adaptif.

Di titik ini, masa depan pendidikan tinggi bukan lagi soal gelar.

Melainkan kemampuan bertahan dan berkembang di dunia yang terus berubah. (ant)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#penutupan prodi #micro credential #arif satria #BRIN #kurikulum pendidikan