Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemerintah Tancap Gas Hilirisasi, Prabowo Subianto Resmikan 13 Proyek Strategis Nasional

Hanif • Kamis, 30 April 2026 | 08:38 WIB
Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking proyek hilirisasi tahap kedua senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/04/2026).  ( BPMI Setpres/Laily Rachev)
Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking proyek hilirisasi tahap kedua senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/04/2026). ( BPMI Setpres/Laily Rachev)

PONTIANAK POST — Pemerintah tancap gas mendorong hilirisasi industri. Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) 13 proyek strategis nasional dengan nilai investasi mencapai Rp116 triliun—langkah besar yang ditargetkan memangkas impor sekaligus membuka ratusan ribu lapangan kerja.

Groundbreaking tahap kedua ini mencakup sektor energi, mineral, hingga pertanian yang diproyeksikan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan ketahanan industri dalam negeri.

“Groundbreaking hilirisasi tahap kedua mencakup 13 proyek strategis senilai kurang lebih Rp116 triliun. Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” ujar Prabowo saat peresmian di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4)

Dari total proyek tersebut, lima berada di sektor energi, lima di sektor mineral, dan tiga di sektor pertanian. Sejumlah proyek utama meliputi pembangunan kilang gasoline di Dumai dan Cilacap, tangki penyimpanan BBM, hingga pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG.

Baca Juga: Tiga Tahun Menunggu, Air Mata PMI Kalbar yang Kerja di Malaysia Dibayar Lunas

Selain itu, pemerintah juga mendorong hilirisasi kelapa sawit menjadi biodiesel, serta pengembangan industri logam berbasis nikel dan baja.

Menurut Prabowo, hilirisasi merupakan strategi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri.

“Kita tidak mau sekadar menjual bahan baku. Kita ingin mengolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyoroti praktik sejumlah pemegang konsesi yang menempatkan keuntungan di luar negeri. Ia menilai hal tersebut tidak sejalan dengan kepentingan nasional.

“Kita beri konsesi dan fasilitas, tapi hasilnya tidak ditempatkan di Indonesia. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.

Baca Juga: Hanya Enam Daycare Resmi di Banda Aceh, Sisanya termasuk BPD Dipastikan Ilegal

Ia menegaskan, pemerintah tidak akan mentoleransi pelaku usaha yang tidak berpihak pada kepentingan nasional. “Pilih, bela rakyat atau mengabdi ke pihak lain. Tidak ada toleransi bagi yang tidak patriotik,” tambahnya.

Sebanyak 13 proyek ini tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Riau, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Papua, Nusa Tenggara Timur, hingga Maluku—menandai upaya pemerataan pembangunan industri berbasis sumber daya lokal.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut pembangunan kilang berpotensi menekan impor BBM secara signifikan.

“Dari pembangunan kilang Cilacap dan Dumai, impor BBM bisa berkurang sekitar USD1,25 miliar per tahun,” jelasnya.

Tak hanya itu, proyek-proyek hilirisasi tahap kedua ini diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 600.000 lapangan kerja baru di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Kejati Kalbar Sebut Kembali Selamatkan Rp55 Miliar Uang Negara, Skandal Tambang Bauksit Masih Tanpa Tersangka

“Kalau kita lihat dari proyek-proyek yang dijalankan, akan tercipta kurang lebih 600 ribu lapangan pekerjaan,” ujar Rosan.

Ia menambahkan, penciptaan lapangan kerja tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mengoptimalkan nilai tambah aset negara melalui pembangunan industri secara masif dan terintegrasi.

Pada tahap kedua ini, pembangunan dilakukan serentak di 13 lokasi strategis setelah sebelumnya pemerintah merampungkan fase pertama di 11 titik pada Februari 2026.

Beberapa proyek utama meliputi kilang gasoline di Cilacap dan Dumai, pengolahan batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, hingga pengembangan industri logam seperti stainless steel, nikel, slab baja karbon, serta hilirisasi tembaga dan emas.

Di sektor pertanian, proyek mencakup pengolahan sawit menjadi oleofood dan biodiesel, serta hilirisasi komoditas kelapa dan pala.

Baca Juga: Jemaah Calon Haji Kota Pontianak Berangkat Awal Mei: Dibagi 4 Kloter, Ini Jadwalnya

Sementara pada fase pertama, pemerintah telah memulai proyek seperti smelter alumina di Kalimantan Barat, bioavtur di Jawa Tengah, bioetanol, hingga pengolahan garam industri di Jawa Timur, termasuk pengembangan peternakan ayam terintegrasi.

Rosan menegaskan, Danantara tidak hanya berperan sebagai pengelola aset negara, tetapi juga sebagai katalisator transformasi ekonomi nasional.

“Mandat kami adalah menciptakan nilai tambah, mengoptimalkan aset, menciptakan efisiensi, dan menjadi investasi negara yang memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” pungkasnya. (lyn/dio)

Editor : Hanif
#proyek hilirisasi #Prabowo Subianto #bbm #energi #Tenaga Kerja