Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Hindari Praktik Pengasuhan Menyimpang di Daycare, Psikolog: Orang Tua Perlu Lebih Selektif dalam Memilih Tempat Pengasuhan Anak

Basilius Andreas Gas • Sabtu, 2 Mei 2026 | 20:57 WIB
Selain memerhatikan langsung lingkungan daycare yang hendak dipilih, lihat juga respons anak saat berinteraksi dengan pengasuh. (ISTIMEWA/KALTIM POST)
Selain memerhatikan langsung lingkungan daycare yang hendak dipilih, lihat juga respons anak saat berinteraksi dengan pengasuh. (ISTIMEWA/KALTIM POST)

PONTIANAK POST- Kasus kekerasan dan kelalaian di daycare yang belakangan ini semakin sering diberitakan mengundang kekhawatiran di kalangan orang tua. Fenomena ini, menurut Psikolog Klinis sekaligus Founder Matavhati Islamic Daycare, Yulia Wahyu Ningrum, menunjukkan lemahnya sistem pengasuhan yang harus segera diperbaiki.

"Fenomena maraknya pemberitaan negatif tentang daycare ini tentu menjadi perhatian bersama, terutama orang tua. Dari sudut pandang psikologi, hal ini menunjukkan bahwa kita perlu meningkatkan standar pengasuhan berbasis keamanan emosional dan fisik anak di semua lembaga pengasuhan," ujarnya.

Namun, Yulia menegaskan bahwa kejadian-kejadian negatif yang muncul tidak bisa digeneralisasi ke seluruh daycare. Banyak lembaga yang tetap menjalankan praktik pengasuhan yang aman dan sehat. “Kasus-kasus yang muncul adalah oknum yang lebih mementingkan keuntungan finansial ketimbang kualitas pengasuhan. Sehingga tidak bisa digeneralisasi ke seluruh daycare,” jelasnya dilansir Kaltim Post.

Baca Juga: Tidak Hanya Akademik, Ini Cara Memahami Ragam Kecerdasan Anak

Secara psikologis, praktik kekerasan seperti mengikat anak atau memberi obat untuk menenangkan mereka bertentangan dengan prinsip perkembangan anak. Yulia mengungkapkan bahwa anak-anak pada usia dini berada dalam fase aktif dan eksploratif, dan membutuhkan pendampingan, bukan pengekangan fisik atau kimiawi. "Anak usia dini memang secara alami aktif dan eksploratif. Mereka membutuhkan pendampingan, bukan pembatasan yang bersifat fisik atau penekanan kimiawi," ujarnya.

Lebih lanjut, Yulia menyatakan bahwa akar masalah sering kali berasal dari ketidaksiapan sistem pengasuhan, bukan semata perilaku individu pengasuh. "Biasanya, praktik-praktik seperti ini muncul ketika ada ketidaksiapan sistem, misalnya rasio pengasuh dan anak yang tidak ideal, kurangnya pemahaman tentang perkembangan anak, atau tekanan kerja yang tinggi," ungkapnya.

Yulia juga mengingatkan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengasuhan, mulai dari proses rekrutmen pengasuh hingga sistem pengawasan dan transparansi kepada orang tua. “Sebagai psikolog, saya melihat ini sebagai momentum refleksi bagi semua pihak, untuk memperkuat sistem, mulai dari seleksi caregiver, pelatihan regulasi emosi, hingga pengawasan dan transparansi kepada orang tua,” tandasnya.

Baca Juga: Panas di Old Trafford, Carrick Anggap Duel Lawan Liverpool Seperti Final

Dia menegaskan bahwa daycare harus menjadi tempat yang aman secara emosional, bukan hanya sekadar tempat menitipkan anak. "Daycare yang baik bukan hanya tempat menitipkan anak, tetapi menjadi ruang tumbuh yang aman secara emosional," tegasnya. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih selektif dalam memilih tempat pengasuhan untuk anak mereka. Kekhawatiran yang muncul adalah hal yang wajar, karena setiap orang tua ingin memastikan anaknya berada di tempat yang aman baik secara fisik maupun emosional.

Namun, Yulia mengingatkan agar orang tua tidak hanya terpaku pada pemberitaan negatif. "Tidak semua daycare seperti yang diberitakan. Karena itu, penting bagi orang tua untuk melihat lebih dalam bagaimana sistem pengasuhan di dalamnya berjalan," ujarnya.

Salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan adalah transparansi dan komunikasi antara daycare dan orang tua. Salah satunya adalah sistem buku penghubung harian yang mencatat aktivitas anak secara detail, mulai dari apa yang dimakan, kegiatan bermain, perkembangan baru, hingga interaksi sosialnya. "Ada buku penghubung harian yang mencatat aktivitas anak secara detail, dan ini penting untuk keterbukaan," paparnya.

Selain itu, Yulia juga menyarankan orang tua untuk melihat langsung lingkungan daycare sebelum memutuskan tempat pengasuhan untuk anak mereka. "Orang tua sebaiknya tidak terburu-buru dalam memilih daycare. Luangkan waktu untuk melihat langsung lingkungan daycare, berinteraksi dengan pengasuh," katanya.

Interaksi antara pengasuh dan anak juga merupakan indikator penting dalam memilih daycare. "Perhatikan apakah pengasuhnya mampu berinteraksi dengan hangat dan sabar," jelasnya. Yang tak kalah penting, kata Yulia, adalah respons anak terhadap lingkungan daycare. "Dengarkan juga respons anak. Anak sering kali dapat menunjukkan apakah dia merasa nyaman atau tidak di suatu tempat," katanya.

Yulia menegaskan bahwa daycare yang sehat bukan sekadar tempat menjaga anak, tetapi juga lingkungan yang mendukung tumbuh kembang secara utuh. (*)

Editor : Basilius Andreas Gas
#daycare #psikologis #kekerasan #fenomena #Pengasuh