Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Badan Bahasa Berharap Para Misionaris Indonesia Dapat Menjadi Duta-duta Bahasa di Negara Tujuan Misi

Basilius Andreas Gas • Jumat, 8 Mei 2026 | 21:00 WIB
(Dari kiri – Kanan) : Rm Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI), Hafidz Muksin (kepala Badan Bahasa), Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan Bahasa), Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dan Dony Setiawan (Kepala Bidang Kemitraan dan Diplomasi Bahasa, Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dalam pertemuan di Gedung Badan Bahasa, Jakarta  Kamis (07/05). (Putut/PWKI)
(Dari kiri – Kanan) : Rm Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI), Hafidz Muksin (kepala Badan Bahasa), Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan Bahasa), Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dan Dony Setiawan (Kepala Bidang Kemitraan dan Diplomasi Bahasa, Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dalam pertemuan di Gedung Badan Bahasa, Jakarta Kamis (07/05). (Putut/PWKI)

 JAKARTA - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap para misionaris dari Indonesia dapat menjadi duta-duta bahasa di negara tujuan misi. Sebagai tindak lanjut dari harapan ini, Badan Bahasa akan bekerjasama dengan para misionaris Indonesia yang berkarya di lebih dari 80 negara.

Penegasan itu disampaikan Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin saat menerima kehadiran Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi Komsos KWI) yang didampingi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, Kamis (07/05). 

Kehadiran KWI tersebut sebagai pemenuhan undangan Badan Bahasa terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Takhta Suci yang diawali dengan penandatanganan MOU antara Komisi Komsos KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan, di Vatikan, Rabu (25/03). 

Dalam pertemuan tersebut, Hafidz Muksin didampingi jajarannya termasuk Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan) dan Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra). Sementara Komisi Komsos KWI diwakili oleh Rm Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif) yang didampingi Abdi Susanto (Anggota Badan Pengurus) dan Stefani Irawati (Staf).  Sementara dari PWKI hadir, AM Putut Prabantoro (Founder), Asni Ovier Dengen Paluin (Ketua), Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Hubungan Luar Negeri) serta Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris).

Menurut Rm Noegroho Agoeng, dirinya menyambut hangat harapan  Badan Bahasa tersebut. Namun demikian, kerjasama itu tidak bisa dilakukan langsung dengan para misionaris. Itu harus dilaksanakan dengan beberapa pihak termasuk, keuskupan masing-masing, tarekat, kongregasi atau juga ordo yang ada di Indonesia. Karena secara nyata, merekalah yang memiliki para misionaris.

“Ini akan menjadi potensi dan gerakan yang luar biasa. Pertemuan budaya termasuk bahasa antar dua negara terjadi di akar rumput. Untuk masuk ke masyarakat destinasi misi, para misionaris akan belajar budaya dan tradisi termasuk bahasa negara tujuan misi. Dan sebaliknya, biasanya, para misionaris juga akan memerkenalkan budaya termasuk bahasa Indonesia ke masyarakat tujuan misi,” ujar Rm Agoeng.

Harapan tawaran kerja sama Badan Bahasa tersebut merupakan tanggapan atas penjelasan Putut Prabantoro terkait perjalanan MOU penggunaan secara resmi Bahasa Indonesia oleh Vatican News, yang merupakan media resmi Takhta Suci (Vatikan).

Menurut Putut, Indonesia merupakan negara terbesar dalam mengirimkan para misionaris ke seluruh penjuru dunia. Dan penggunaan bahasa Indonesia secara resmi pada Vatican News dapat membantu para misionaris menerima informasi penting dari Takhta Suci (Vatikan).  Melalui para misionaris budaya Indonesia termasuk bahasa secara tidak langsung diperkenalkan kepada masyarakat di negara tujuan misi.

“Saya juga  berharap suatu saat, bahasa Indonesia akan  digunakan secara resmi di banyak negara, termasuk di Timur Tengah. Vatikan merupakan negara kedua setelah AS yang memiliki hubungan diplomatik terbanyak yakni 186 negara. Jadi ini tidak hanya soal agama tetapi soal _soft diplomacy, yang dilakukan diaspora termasuk para misionaris  di seluruh dunia,” ujar Putut Prabantoro, dalam siaran persnya, Jumat (8/5).

Menurut Hafidz, kerjasama antara Badan Bahasa, KWI dan PWKI sangat perlu. Karena konten Vatican News tidak hanya berupa berita tetapi juga dokumen-dokumen penting. “Bukan sekedar menerjemahkan menggunakan AI. Dan ini tidak sama dengan menerjemahkan isi Vatican News ke dalam bahasa Indonesia semata.” ujarnya. 

Terkait dengan misionaris, Hafidz melihat bahwa para misionaris dapat menjadi sarana bagi pengembangan bahasa Indonesia. ”Bahasa Indonesia dibawa para misionaris sebagai duta atau pengajar bahasa Indonesia di tempat misi mereka. Karena selain misi keagamaan juga membawa misi budaya, yang sesuai dengan Indonesia,” ujarnya.

Kerja sama antara Badan Bahasa, KWI dan PWKI, menurut Hafidz, dapat dilaksanakan antara lain saat penerjemahan dokumen-dokumen resmi Takhta Suci, informasi atau berita yang akan diterbitkan, ditayangkan atau disiarkan serta pembentukan giat diplomasi dalam bentuk penulisan di media, siaran radio ataupun podcast. “Bahkan kerja sama dapat melalui fasilitasi tes UKBI atau Uji Kemahairan Berbahasa Indonesia bagi para misionaris. Kerja sama dengan forum wartawan dapat berbentuk, media diplomasi, advokasi, dan publikasi. (**/bas)

 

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#Badan Bahasa #negara tujuan misi #misionaris #Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia #PWKI