PONTIANAK POST- Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai lonjakan belanja pemerintah pada kuartal I-2026 dilakukan sebagai strategi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tidak melambat di awal tahun.
Menurut Yusuf, pemerintah mempercepat belanja negara karena tekanan ekonomi global mulai berdampak terhadap kondisi domestik, sementara investasi swasta dan kinerja ekspor belum menunjukkan penguatan signifikan.
"Lonjakan belanja pemerintah di kuartal I ini memang sengaja didorong lebih awal. Pemerintah tampaknya membaca bahwa tekanan ekonomi global mulai terasa ke domestik. Ekspor belum kuat, investasi swasta masih tertahan, sementara rupiah juga sedang mengalami tekanan. Dalam situasi seperti itu, fiskal akhirnya dipakai untuk menjaga momentum ekonomi supaya tidak melambat terlalu dalam di awal tahun," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026. Di balik capaian tersebut, konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen atau menjadi yang tertinggi dalam sekitar satu dekade terakhir dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Yusuf mengatakan lonjakan belanja pemerintah didorong sejumlah faktor, seperti momentum Lebaran, pencairan tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, hingga pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) yang mulai berjalan lebih luas.
Kondisi itu menunjukkan pemerintah mengambil peran besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan total belanja negara.
Menurut dia, dampak kebijakan tersebut terasa pada berbagai sektor, mulai dari konsumsi rumah tangga, perdagangan, transportasi, hingga industri makanan dan minuman.
"Langkah ini cukup wajar dalam kondisi sekarang. Ketika sektor swasta belum terlalu kuat bergerak, pemerintah memang biasanya menjadi penyangga sementara. Kalau belanja negara tidak dipercepat di awal tahun, kemungkinan pertumbuhan ekonomi tidak akan setinggi itu," kata Yusuf.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga ruang fiskal agar tidak terlalu longgar karena tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada awal tahun dinilai cukup berat.
Selain itu, ia menilai efek stimulus dari THR dan momentum Lebaran hanya bersifat sementara sehingga tantangan sesungguhnya akan mulai terlihat setelah kuartal I-2026.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah dinilai perlu memastikan sumber pertumbuhan ekonomi berikutnya berasal dari sektor swasta melalui peningkatan investasi, ekspor, maupun pemulihan konsumsi masyarakat.
"Jadi, saya melihat kuartal I ini lebih seperti dorongan awal supaya ekonomi tetap bergerak di tengah tekanan global yang cukup berat. Tetapi, untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat sampai akhir tahun, yang lebih penting nanti adalah bagaimana pemerintah menjaga kepercayaan investor, stabilitas rupiah, dan kepastian kebijakan supaya sektor swasta mulai kembali ekspansif," ungkap Yusuf. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas