PONTIANAK POST – Setelah sempat menjadi perhatian nasional akibat kontroversi Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat, SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas akhirnya melakukan pertemuan perdana pada Selasa, 19 Mei 2026.
Pertemuan tersebut turut dihadiri perwakilan MPR RI dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat. Dalam suasana yang berlangsung hangat, kedua sekolah sepakat mengakhiri polemik dan membangun kembali hubungan baik antarsiswa.
SMAN 1 Pontianak juga menyampaikan dukungan langsung kepada SMAN 1 Sambas yang akan mewakili Kalimantan Barat pada ajang LCC 4 Pilar MPR RI tingkat nasional pada Agustus 2026 mendatang.
Baca Juga: Tolak Tanding Ulang, DPRD Kalbar Usul Dua Sekolah Lolos LCC Empat Pilar MPR RI Nasional
SMAN 1 Pontianak Tegaskan Tidak Ingin Hasil Lomba Dianulir
Ketua Tim LCC 4 Pilar MPR RI SMAN 1 Pontianak, Almira, menegaskan bahwa sejak awal pihaknya tidak pernah meminta hasil lomba tingkat provinsi dibatalkan.
Menurutnya, protes yang sempat disampaikan saat final berlangsung lebih ditujukan untuk meminta klarifikasi dari penyelenggara terkait penilaian dewan juri.
“Kami di sini sangat menyambut baik teman-teman dan bapak ibu dan kepala sekolah dari SMAN 1 Sambas. Kami dari SMAN 1 Pontianak tetap mendukung keberanian dan partisipasi teman-teman lanjut ke tingkat nasional,” ujar Almira dalam pertemuan tersebut.
“Atas konflik yang kemarin telah terjadi, kami menekankan bahwa dari awal kami tidak ingin menganulir hasil perlombaan tingkat provinsi kemarin, tapi klarifikasi dari penyelenggara lomba,” lanjutnya.
Baca Juga: Sutarmidji Dukung Smansa Pontianak Mundur dari Rematch LCC, Sebut Lebih Bijak dari Keputusan MPR RI
Pernyataan itu disambut positif oleh pihak SMAN 1 Sambas. Kedua sekolah juga kompak menolak opsi perlombaan ulang final tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang sebelumnya ditawarkan MPR RI.
Harapan Jalin Silaturahmi setelah Kontroversi Viral
Usai polemik yang ramai dibahas di media sosial, Almira berharap hubungan antarsiswa dari kedua sekolah dapat kembali terjalin baik.
“Di sini kita juga bisa bertemu lagi selain dari perlombaan kemarin, semoga kita bisa menjalin silaturahmi ke depannya. Kemudian teman-teman semangat belajarnya,” kata Almira.
Ia juga mengajak seluruh pihak menjadikan kontroversi tersebut sebagai pembelajaran bersama.
“Dari yang kemarin sama-sama kita rasakan, itu perlahan kita tinggalkan dan jadi motivasi lebih baik ke depan,” ujarnya.
Pertemuan tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk meredakan ketegangan yang sempat berkembang di ruang publik. Di tengah sorotan nasional, para siswa memilih menonjolkan semangat sportivitas dan persaudaraan dibanding memperpanjang konflik.
Kronologi Kontroversi LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar
Kontroversi bermula saat final LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026 yang mempertemukan SMAN 1 Sanggau, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Pontianak.
Video cuplikan lomba kemudian viral di media sosial. Dalam tayangan tersebut, siswa SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas dianggap memberikan jawaban dengan substansi serupa terkait pertanyaan mengenai pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Namun, dewan juri memberikan nilai berbeda. SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima, sedangkan SMAN 1 Sambas memperoleh nilai 10.
Perbedaan penilaian itu langsung diprotes pihak SMAN 1 Pontianak. Mereka menilai jawaban yang diberikan memiliki makna yang sama.
Baca Juga: SMAN 1 Sambas Tolak Final Ulang LCC Empat Pilar
Saat protes berlangsung, juri Dyastasita Widya Budi menyatakan keputusan tetap berada di tangan dewan juri. Sementara juri lainnya, Indri Wahyuni, menjelaskan bahwa artikulasi jawaban menjadi salah satu faktor penilaian.
MC acara, Shindy Lutfiana, juga ikut menjadi perhatian publik setelah mengucapkan kalimat, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,” saat merespons protes peserta.
MPR RI Sempat Tawarkan Lomba Ulang dengan Juri Independen
Menanggapi polemik yang berkembang luas, Ketua MPR RI Ahmad Muzani pada 13 Mei 2026 sempat menawarkan pelaksanaan lomba ulang final tingkat provinsi.
Ia juga menyampaikan rencana penggunaan juri independen serta pengawasan langsung terhadap jalannya perlombaan dari awal hingga akhir.
Meski demikian, hasil pertemuan terbaru menunjukkan kedua sekolah memilih tidak melanjutkan opsi lomba ulang. Fokus utama kini diarahkan pada persiapan SMAN 1 Sambas untuk menghadapi kompetisi tingkat nasional mewakili Kalimantan Barat. (*)
Editor : Miftahul Khair