PONTIANAK POST- Pertunjukan seni bertajuk “Silaturahmi Bunyi” digelar di Samarinda sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan musik tradisional Kalimantan kepada masyarakat luas.
Kegiatan yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur itu menggandeng Kelompok Topa untuk menampilkan harmoni alat musik etnik khas daerah di Studio Mini Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur, Jalan HAM Rifaddin, Samarinda, Rabu.
Kepala BPKW Kalimantan Timur Titit Lestari mengatakan pertunjukan tersebut diharapkan menjadi sarana hiburan sekaligus edukasi budaya bagi masyarakat.
“Kami menampilkan pertunjukan dari Kelompok Topa atas ide ‘Silaturahmi Bunyi’ dan berharap kolaborasi tersebut dapat memberikan tontonan, tuntunan, sekaligus edukasi bagi masyarakat luas,” kata Titit.
Menurut dia, bunyi merupakan media komunikasi yang efektif sehingga karya para seniman diharapkan mampu menginspirasi komunitas, mahasiswa, hingga masyarakat agar terus aktif berkarya dan menjaga budaya daerah.
Ia menjelaskan pertunjukan itu menghadirkan berbagai alat musik tradisional yang menghasilkan harmoni bunyi sebagai bentuk pengembangan sekaligus pemanfaatan warisan budaya leluhur.
Selain itu, sejumlah bunyi tradisional yang sebelumnya hanya digunakan dalam ritual kini mulai dikembangkan ke ruang pertunjukan yang lebih luas tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang melekat.
Titit juga mengapresiasi konsistensi Kelompok Topa dalam mengembangkan musik tradisional sebagai bagian penting dari pelestarian warisan budaya etnik lokal.
“Langkah kreatif para seniman tersebut dinilai sangat strategis, mengingat beberapa alat musik tradisional yang digunakan dalam pertunjukan ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan alunan musik etnik yang menenangkan sekaligus memperkuat karakter musik khas Kalimantan di tengah masyarakat.
Pihak BPKW Kaltim turut menghadirkan pemangku kepentingan seni, pengurus sanggar, akademisi, hingga insan pers untuk mengapresiasi karya musik tradisional daerah. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas