Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Sembilan Relawan WNI Global Sumud Flotilla Tiba di Indonesia: Kami Diperlakukan seperti Hewan

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 24 Mei 2026 | 21:34 WIB
Sejumlah relawan bertemu dengan keluarganya saat mereka tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/05/2026). Sebanyak sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumut Flotilla (GSF) yang sempat di tawan militer Israel kembali ke Indonesia dengan selamat. HANUNG HAMBARA/JAWA POS
Sejumlah relawan bertemu dengan keluarganya saat mereka tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/05/2026). Sebanyak sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumut Flotilla (GSF) yang sempat di tawan militer Israel kembali ke Indonesia dengan selamat. HANUNG HAMBARA/JAWA POS

 

PONTIANAK POST — Sembilan warga negara Indonesia (WNI) peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya kembali ke Tanah Air setelah sempat ditahan militer Israel saat mencoba menuju Jalur Gaza, Palestina. Setibanya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/5), para relawan mengungkap pengalaman traumatis selama penahanan.

“Kami diperlakukan seperti hewan,” ujar Herman Budianto Sudarsono, relawan Dompet Dhuafa yang ikut dalam rombongan misi kemanusiaan tersebut.

Kedatangan para relawan disambut keluarga, kerabat, dan Menteri Luar Negeri RI Sugiono. Suasana haru terlihat saat sejumlah relawan akhirnya kembali bertemu keluarga setelah beberapa hari kehilangan kontak.

Relawan Mengaku Mengalami Kekerasan

Berdasarkan kesaksian para relawan, perlakuan militer Israel selama proses penahanan dinilai tidak manusiawi. Mereka mengaku mengalami tekanan fisik maupun psikologis sejak kapal dibajak hingga menjalani interogasi di darat.

Setelah membajak sekitar 50 kapal Global Sumud Flotilla yang menuju Jalur Gaza pada 18–19 Mei lalu, militer Israel membawa lebih dari 400 aktivis dari 44 negara ke Ashdod.

Selama perjalanan menuju lokasi penahanan, para relawan disebut mengalami berbagai bentuk kekerasan dan perlakuan kasar.

Herman mengatakan beberapa relawan mengalami luka dan cedera akibat perlakuan aparat Israel. Mereka disebut dipaksa berjalan merangkak, tidur di lantai tanpa alas, hingga tetap mengenakan pakaian basah saat beristirahat.

Tidak Sebanding dengan Penderitaan Palestina

Meski mengalami perlakuan buruk, Herman menegaskan penderitaan yang dialami relawan belum sebanding dengan kondisi rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Menurut dia, perjuangan kemanusiaan untuk Palestina tidak boleh berhenti hanya karena intimidasi atau penahanan terhadap relawan internasional.

“Apa yang kami alami tidak sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina,” katanya.

Ia juga menegaskan relawan yang ditangkap bukan pihak yang paling berjasa, sebab perjuangan kemerdekaan Palestina masih membutuhkan dukungan masyarakat internasional.

Jurnalis Indonesia Bersaksi

Jurnalis Tempo, Andre Nugroho Prasetyo, yang turut berada dalam rombongan GSF, mengatakan pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk menyampaikan situasi Palestina kepada dunia internasional.

“Saya bakal kasih lihat ke dunia bahwa penjajahan Israel ke Palestina masih terjadi,” ujarnya.

Di terminal kedatangan, Andre disambut langsung keluarganya. Ayah Andre, Warsono, mengaku bersyukur anaknya dapat kembali dengan selamat.

Menurut dia, sebelum berangkat Andre sudah memahami risiko besar yang akan dihadapi karena memasuki wilayah konflik.

“Saya terharu. Tekad anak saya sangat besar,” kata Warsono.

Indonesia Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan pemerintah Indonesia terus melakukan langkah diplomasi dan negosiasi untuk membebaskan para WNI yang ditahan Israel.

Ia memastikan Indonesia tetap konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina melalui jalur diplomasi internasional.

“Perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina akan terus digelorakan,” ujar Sugiono.

Menurut dia, solusi dua negara atau two-state solution tetap menjadi sikap resmi Indonesia dalam mendorong penyelesaian konflik Israel–Palestina.

Solidaritas Kemanusiaan untuk Gaza

Misi Global Sumud Flotilla merupakan bagian dari gerakan solidaritas internasional yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza di tengah konflik berkepanjangan dan blokade wilayah tersebut.

Penahanan relawan internasional oleh militer Israel kembali memicu sorotan dunia terhadap keselamatan pekerja kemanusiaan, jurnalis, dan aktivis sipil yang berupaya membantu warga Palestina di wilayah konflik. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Global Sumud Flotilla #WNI Gaza #relawan Indonesia #Israel Palestina #solusi dua negara