PONTIANAK POST — Maarif Institute menggelar malam budaya bertajuk “Suluh Bangsa: Menjaga Suluh, Merawat Bangsa” di Kiniko Artspace, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5).
Kegiatan tersebut menghadirkan pameran karya dari 18 perupa untuk mengenang nilai kemanusiaan, moralitas, dan kebangsaan yang diwariskan Buya Syafii Maarif.
Sejumlah tokoh nasional hadir dalam acara itu, di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq, Ketua PP Muhammadiyah M. Busyro Muqoddas, Rektor Universitas Islam Indonesia Prof Fathul Wahid, dan Direktur Eksekutif Maarif Institute Andar Nubowo.
Buya Syafii Dinilai Ajarkan Keteladanan
Dalam orasi ilmiahnya, Fajar Riza Ul Haq menilai Buya Syafii Maarif tidak pernah mengajarkan nilai kebangsaan melalui retorika besar, melainkan lewat keteguhan sikap dan keterbukaan terhadap perbedaan.
“Buya tidak pernah mengajarkan dengan retorika yang menggelegar. Buya mengajarkan melalui sikap keteguhan pada prinsip, sekaligus kelapangan dalam menerima perbedaan,” ujarnya.
Mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute itu mengatakan perjumpaannya dengan Buya menjadi pengalaman intelektual yang membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan dan kehidupan publik.
Menurut dia, Buya selalu menempatkan agama sebagai sumber etika publik, bukan alat untuk mengecualikan kelompok tertentu.
Pendidikan Karakter Jadi Sorotan
Fajar menilai Indonesia saat ini menghadapi krisis keteladanan, terutama karena pendidikan lebih banyak menitikberatkan pada transfer pengetahuan dibanding pembentukan karakter.
Ia menyebut pemikiran Buya Syafii Maarif masih relevan untuk menjawab tantangan tersebut.
“Pemikiran Buya Syafii Maarif tetap relevan untuk menjawab tantangan tersebut,” katanya.
Figur Lintas Agama dan Kebangsaan
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah M. Busyro Muqoddas menyebut Buya Syafii sebagai tokoh bangsa yang mampu memadukan berbagai peran sekaligus.
Menurut dia, Buya bukan hanya dikenal sebagai pemikir, tetapi juga budayawan, negarawan, dan figur lintas agama yang konsisten menjaga nilai kemanusiaan.
Pameran budaya tersebut menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk kembali mengingat warisan pemikiran Buya Syafii tentang keberagaman dan kebangsaan di tengah tantangan sosial saat ini. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro