PONTIANAK POST - Video seekor Gajah Kalimantan yang berdiri sendirian di tengah hamparan lahan terbuka viral di media sosial dan memicu gelombang simpati publik terhadap nasib satwa liar di Pulau Borneo.
Rekaman itu dibagikan fotografer satwa liar, Aaron Baggenstos, lalu diunggah ulang akun Aceh World Times. Dalam video tersebut, gajah tampak diam memandangi area luas yang telah kehilangan pepohonan, seolah kebingungan mencari ruang hidup yang tersisa.
Momen itu ramai diperbincangkan karena dianggap menjadi gambaran nyata menyusutnya habitat alami Gajah Kalimantan akibat alih fungsi lahan, ekspansi perkebunan, hingga pembangunan infrastruktur di kawasan Borneo.
Video lengkap dokumentasi tersebut juga diunggah melalui kanal YouTube Aaron Baggenstos dan menarik perhatian ribuan penonton dengan judul "Secrets of Borneo - Journeys Into The Wild (Episode 2)" yang diunggah lima bulan lalu.
Habitat Gajah Kini Tinggal Separuh
Kondisi memilukan dalam video itu muncul di tengah peringatan pemerintah terkait semakin berkurangnya kantong habitat gajah di Indonesia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan salah satu fokus Instruksi Presiden (Inpres) tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Kalimantan adalah menjaga dan memperbaiki ekosistem kantong gajah yang terus menyusut.
Menurut Menhut, jumlah kantong habitat gajah kini hanya tersisa 21 kantong dari sebelumnya 42 kantong. Kondisi tersebut membuat populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) semakin terancam punah.
“Inpres ini menunjukkan komitmen yang sangat kuat dari Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk menyelamatkan gajah kita. Fokus utama kami adalah bagaimana mengeksekusi ide-ide tersebut secara nyata di lapangan. Tata kelola pembangunan ke depan harus memberikan orientasi penuh kepada konservasi,” kata Raja Juli Antoni dalam pernyataan dilansir dari ANTARA, Sabtu (7/5/2026).
Krisis habitat itu diperparah laju deforestasi yang masih tinggi di Sumatera dan Kalimantan. Organisasi Auriga Nusantara mencatat Indonesia kehilangan hutan seluas 433.751 hektare sepanjang 2025 atau naik 66 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebagian besar kehilangan hutan terjadi di wilayah yang juga menjadi bentang hidup satwa liar, termasuk gajah.
Gajah Kehilangan Jalur Jelajah Alami
Gajah Kalimantan merupakan satwa yang sangat bergantung pada kawasan hutan luas untuk bertahan hidup. Satwa ini membutuhkan ruang jelajah panjang untuk mencari makan, air, dan tempat berkembang biak.
Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Indonesia menyebut fragmentasi habitat menjadi ancaman serius karena memutus jalur migrasi alami gajah.
“Fragmentasi habitat akan menyebabkan pengurangan ruang gerak sehingga sangat berpotensi menimbulkan konflik antara satwa tersebut dengan kegiatan pembangunan di sekitar habitatnya,” tulis dokumen konservasi pemerintah.
Dalam video viral tersebut, area hutan yang telah berubah menjadi lahan terbuka memperlihatkan bagaimana jalur hidup satwa perlahan terputus oleh aktivitas manusia.
Pemerintah Siapkan Koridor dan Underpass untuk Gajah
Pemerintah kini mulai mendorong pembangunan yang lebih memperhatikan ruang hidup satwa liar.
Salah satu poin penting dalam Inpres penyelamatan gajah adalah integrasi pembangunan infrastruktur dengan wilayah jelajah satwa.
Menhut mencontohkan apabila Kementerian Pekerjaan Umum membangun jalan tol, maka pembangunan harus mempertimbangkan peta home range atau wilayah jelajah gajah yang telah disiapkan Kementerian Kehutanan.
Solusi teknis seperti terowongan atau underpass akan diwajibkan agar kawanan gajah tetap bisa berpindah tanpa terganggu aktivitas manusia.
“Strategi utama yang akan dijalankan adalah pembangunan koridor untuk menyambungkan kantong-kantong gajah yang terfragmentasi akibat aktivitas ilegal maupun perubahan fungsi lahan,” ujar Raja Juli Antoni.
Ia juga memerintahkan seluruh jajaran Kementerian Kehutanan untuk mempertahankan 21 kantong habitat gajah yang tersisa sekaligus memperbaiki kualitas ekosistemnya.
Konflik Manusia dan Gajah Kian Meningkat
Menyusutnya habitat membuat konflik manusia dan gajah semakin sering terjadi di berbagai wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Gajah yang kehilangan ruang hidup kerap masuk ke kebun atau permukiman warga untuk mencari makan. Dalam banyak kasus, konflik berakhir dengan kerusakan tanaman, kematian satwa, hingga korban manusia.
Dokumen konservasi pemerintah menyebut konflik manusia dan gajah menjadi ancaman serius bagi kedua belah pihak.
“Korban kematian gajah akibat konflik lebih banyak terjadi,” tulis dokumen tersebut.
Menhut juga menyoroti konflik manusia dan gajah di Taman Nasional Way Kambas yang telah berlangsung sekitar 40 tahun.
Atas usulan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah berencana membangun barrier atau pembatas efektif untuk mengurangi jatuhnya korban, baik dari sisi manusia maupun satwa.
Populasi Gajah Kalimantan Sangat Rentan
Gajah Kalimantan termasuk subspesies gajah Asia dengan populasi sangat kecil di Indonesia. Data konservasi memperkirakan jumlahnya hanya tersisa sekitar 60 hingga 100 individu di wilayah Kalimantan Utara.
Dengan reproduksi yang lambat dan kebutuhan habitat luas, kehilangan satu individu saja dapat memengaruhi keberlangsungan populasi jangka panjang.
Gajah betina hanya melahirkan satu anak dengan masa kehamilan sekitar 21 bulan dan jarak antar kelahiran bisa mencapai empat tahun.
WWF Indonesia dalam Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Indonesia 2007–2017 dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, menyebut hilangnya hutan akibat pembalakan, ekspansi perkebunan sawit, dan perubahan fungsi lahan menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. Fragmentasi habitat membuat gajah kehilangan jalur jelajah, sumber pakan alami, hingga semakin sering masuk ke permukiman warga.
Warganet Tersentuh Melihat Satwa Kehilangan Rumah
Video viral tersebut memunculkan banyak komentar emosional dari pengguna media sosial. Banyak warganet menilai rekaman itu menjadi simbol pilu satwa liar yang kehilangan rumah akibat kerusakan hutan.
Sebagian lainnya meminta pemerintah dan perusahaan lebih serius menjaga kawasan hutan tersisa agar satwa endemik Borneo tidak hilang dari alam Indonesia.
Pulau Borneo selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Selain Gajah Kalimantan, hutan Borneo juga menjadi habitat orangutan, bekantan, macan dahan, dan berbagai spesies langka lainnya.
Namun, tekanan pembangunan dan pembukaan lahan dinilai terus mempersempit ruang hidup satwa liar dari tahun ke tahun.
Fakta Penting Gajah Kalimantan
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Nama ilmiah | Elephas maximus borneensis |
| Status konservasi | Terancam punah |
| Populasi di Indonesia | Sekitar 60–100 individu |
| Habitat utama | Hutan Kalimantan Utara |
| Ancaman terbesar | Deforestasi dan konflik manusia-gajah |
| Kantong habitat tersisa | 21 kantong |
| Habitat sebelumnya | 42 kantong |
| Solusi pemerintah | Koridor gajah, underpass, barrier konflik |
| Sumber video viral | Aaron Baggenstos |
Masa Depan Gajah Bergantung pada Nasib Hutan
Video seekor gajah yang berdiri sendiri di tengah lahan gundul bukan sekadar tayangan viral. Rekaman itu menjadi pengingat bahwa satwa liar di Indonesia sedang kehilangan rumah mereka sedikit demi sedikit.
Jika hutan terus menyusut dan koridor habitat tidak segera dipulihkan, Gajah Kalimantan bukan hanya akan kehilangan ruang hidup, tetapi juga berisiko hilang selamanya dari alam liar Indonesia.
Profil Aaron Baggenstos, Fotografer Satwa Liar di Balik Video Viral Gajah Kalimantan
Sosok di balik video viral Gajah Kalimantan itu adalah Aaron Baggenstos, fotografer dan videografer satwa liar asal Seattle, Amerika Serikat, yang dikenal aktif mendokumentasikan kehidupan satwa liar dan isu konservasi di berbagai belahan dunia.
Melalui situs resminya, Aaron menyebut dirinya sebagai fotografer satwa liar profesional peraih berbagai penghargaan internasional. Karya-karyanya berfokus pada cerita visual tentang perlindungan keanekaragaman hayati dan habitat satwa liar di dunia.
Aaron telah beberapa kali mendapat pengakuan dari National Geographic dalam kompetisi fotografi internasional. Karyanya juga memperoleh apresiasi dari organisasi fotografi alam seperti Nature’s Best, Audubon Society, hingga Wildlife Photographer of the Year.
Selain memotret satwa liar, Aaron aktif membuat film dokumenter dan ekspedisi fotografi bertema konservasi. Dalam berbagai wawancara, ia menegaskan bahwa fotografi bukan sekadar menghasilkan gambar indah, tetapi juga membangun kedekatan emosional manusia dengan alam.
“Gambar-gambar saya bercerita untuk membantu melindungi dan melestarikan habitat serta keanekaragaman hayati,” tulis Aaron dalam profil resminya.
Aaron juga dikenal sebagai pengajar fotografi alam liar dan pemimpin ekspedisi foto ke Alaska, Afrika, Amerika Selatan, hingga Asia. Ia mendirikan Aaron’s Photo Tours dan membuat serial dokumenter bertema alam liar berjudul Journeys Into the Wild.
Dalam wawancara dengan Nature TTL, Aaron mengatakan fokus utamanya saat ini adalah mendokumentasikan spesies langka sekaligus menyuarakan ancaman hilangnya habitat akibat aktivitas manusia.
“My focus continues to be to document, tell stories and inspire others about the alarming rate at which we are losing species,” ujar Aaron.
Video Gajah Kalimantan yang viral di media sosial dinilai sejalan dengan pendekatan visual Aaron yang sering menampilkan hubungan emosional antara satwa liar dan kerusakan habitatnya. Rekaman seekor gajah berdiri sendirian di tengah lahan gundul itu pun memicu keprihatinan luas tentang masa depan satwa endemik Borneo. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro