PONTIANAK POST - Bertahun-tahun sudah, lahan gambut kerap dianggap sebagai penghalang utama pembangunan kereta api di Kalimantan.
Tapi, berbagai negara telah membuktikan rel kereta dapat dibangun dan beroperasi di atas kawasan gambut dan rawa.
Jika demikian, apa sebenarnya tantangan terbesar pembangunan kereta api di Kalimantan Barat?
Baca Juga: Perlintasan Kereta Bisa Lebih Aman, BRIN Ciptakan Rubber Crossing Plate Berbahan Karet Alam
Teknologi Rel di Lahan Gambut Sudah Teruji
Anggapan bahwa lahan gambut menjadi hambatan utama pembangunan kereta api mulai dipatahkan oleh berbagai pengalaman internasional.
Dalam laporan Pontianak Post (25/5) yang mengutip berbagai studi pembangunan infrastruktur, negara-negara seperti Finlandia, Swedia, Kanada, hingga Malaysia telah lebih dahulu membangun jaringan rel di kawasan gambut dan rawa dengan memanfaatkan teknologi konstruksi modern.
Menurut laporan tersebut, tantangan teknis seperti daya dukung tanah, penurunan permukaan lahan, hingga stabilitas konstruksi kini dapat diatasi melalui metode perbaikan tanah, penggunaan geotekstil, timbunan ringan, dan sistem fondasi khusus.
Kalbar Justru Menghadapi Tantangan Ekonomi
Jika aspek teknis semakin bisa diatasi, tantangan berikutnya boleh jadi adalah memastikan kereta api memiliki muatan yang cukup untuk menopang investasi yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.
Kalimantan Barat sebenarnya memiliki modal yang cukup besar. Provinsi ini merupakan salah satu penghasil sawit terbesar nasional, memiliki cadangan bauksit yang besar, serta sedang mengembangkan industri hilirisasi alumina dan mineral strategis.
Dalam pemberitaan Pontianak Post juga disebutkan Pemerintah Provinsi Kalbar menilai keberadaan kereta api dapat membantu menekan biaya logistik sekaligus memperkuat konektivitas kawasan industri dan Pelabuhan Kijing.
Belajar dari Sumatera dan Malaysia
Keberhasilan pembangunan kereta api logistik di Sumatera maupun proyek East Coast Rail Link (ECRL) Malaysia menunjukkan bahwa rel kereta tidak selalu dibangun untuk penumpang terlebih dahulu.
Di banyak daerah berbasis sumber daya alam, kereta api justru lahir untuk mengangkut hasil tambang, perkebunan, dan logistik pelabuhan sebelum berkembang menjadi transportasi publik.
Baca Juga: Kereta Api Kalimantan Rel 2.772 Km PSN Lagi, Publik Berharap Tak Berakhir Sebagai Wacana
Model seperti ini dinilai lebih relevan bagi Kalbar yang memiliki sentra sawit, kawasan industri alumina, dan pelabuhan ekspor yang terus berkembang.
Pertanyaan Besarnya: Kapan Kalbar Siap?
Pemerintah pusat saat ini kembali memasukkan proyek jaringan kereta api Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer ke dalam rencana pengembangan perkeretaapian nasional.
Masih merujuk pada laporan Pontianak Post, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut perencanaan proyek masih dalam tahap penghitungan dan penyusunan lintas kementerian.
Karena itu, pertanyaan yang mulai muncul bukan lagi apakah rel dapat dibangun di atas lahan gambut Kalimantan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Transportasi, Ini 7 Jalur Kereta Api Paling Indah yang Wajib Dicoba di Indonesia
Teknologi sudah membuktikan hal tersebut memungkinkan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan jalur yang dibangun memiliki manfaat ekonomi yang cukup besar untuk menggerakkan industri, logistik, dan pertumbuhan wilayah Kalimantan Barat. (*)
Editor : Miftahul Khair